Maryam adalah perempuan terbaik pada zamannya, demikian kata Rasulullah SAW. Dan, setiap anak cucu Adam yang dilahirkan dijamah oleh setan pada waktu kelahirannya kecuali Maryam dan putranya.
Maryam lahir dari keluarga shaleh-shalehah. Ayahnya, Imran bin Hasyim adalah seorang imam yang menjadi panutan bagi masyarakat di sekitar Yarusalem.
Imran sangat terkenal di kalangan masyarakat Bani Israil. Ia masyhur sebagai orang alim, shaleh, dan taat kepada Tuhannya, dan mengabdikan sebagian hidupnya di Baitul Maqdis. Allah menempatkan Imran dan keluarganya sejajar dengan nabi-nabi lainnya. “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat di masa mereka masing-masing”.
Mayoritas ulama bersepakat bahwa Imran adalah nabi, yang mempunyai garis keturunan hingga Nabi Sulaiman alaihis salam. Lebih dari itu, keistimewaan Imran diabadikan menjadi nama surah dalam Al-Qur’an.
Ibu Maryam, Hannah Binti Faqud bin Qatil adalah perempuan shalehah yang berasal dari daerah pedalaman Palestina. Imran dan Hannah hidup di tengah komunitas masyarakat yang cenderung membanggakan anak laki- laki dari pada anak perempuan. Kebanggaan anak laki-laki ini lebih disebabkan karena dalam kepercayaan masyarakat saat itu, hanya anak laki-laki lah yang nantinya akan memegang urusan dan tanggung jawab kemasyarakatan dan bisa diabdikan di Baitul Maqdis.
Maryam lahir dalam keadaan yatim. Sebelumnya, dikisahkan dalam Al-Quran, setelah sekian lama menikah, Imran dan Hannah belum dianugerahi anak (aqir) hingga keduanya berusia lanjut. Sebagai istri dari seorang nabi yang menjadi panutan di tengah-tengah kaumnya, tentunya Hannah merasa khawatir akan terputusnya estafet kenabian dari suaminya.
Dikutip dari tafsir At-Thobari, keinginan Hannah untuk memiliki keturunan semakin besar ketika dia sedang berteduh di bawah pohon. Saat itu dia melihat seekor burung yang lagi sibuk memberi makan anak-anaknya (farkh). Hannah merasa iri, namun di waktu bersamaan ia berdoa dan bernadzar kepada Allah agar bisa dikaruniai seorang anak laki-laki yang nantinya ketika lahir akan diabdikan di Rumah Allah tepatnya di Baitul Maqdis.
Perihal nadzarnya Hannah ini telah diceritakan oleh Allah dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 35:
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥
Artinya: "(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat di Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyebut, nadzarnya Hannah adalah buah dari tekad dan janjinya untuk menjadikan anak yang dikandungnya berkhidmat secara penuh kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya di Bait al-Maqdis.
Menurut tradisi masyarakat pada waktu itu, menjadi pelayan rumah suci berarti akan bertugas penuh sampai dia dewasa. Setelah usia dewasa dia akan diberikan pilihan untuk melanjutkan pengabdiannya atau mencari pilihan lain. Jika dia memilih untuk melanjutkan pengabdian, maka tidak dibenarkan baginya membuat pilihan, dan akan terikat oleh ketentuan.
Nadzar Hannah ini menunjukkan bahwa kiranya kelak anak yang dikandungnya adalah anak laki-laki, karena tradisi yang berlaku pada saat itu hanya anak laki- laki yang diperbolehkan untuk menjadi abdi di Baitul Maqdis.
Lahir Tidak Sesuai Keinginan
Tak butuh waktu lama, Allah membayar lunas doa dan nadzar Hannah. Sebab ketika ia beranjak dari berteduhnya, Hannah haid. Setelah ia suci, Imran mendatanginya, dan Hanna yakin akan diberikan seorang anak laki-laki.
Hannah berkata kepada suaminya, “Sesunggunya Allah telah menganugerahkan seorang anak kepadaku, dan Allah memberikan muharra (anak laki-laki).
Imran bertanya pada Hannah, “Bagaimana jika yang kamu kandung adalah anak perempuan. Apa yang akan kamu lakukan?”
Hannah menjawab, “Rabbi, Inni nadzartu laka ma fi bathni muharran fatqobbal minni innaka antas-sami’ul’alim. (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmah).
Hannah merasakan kebahagian tak terkira setelah mengetahui dirinya mengandung jabang bayi yang telah lama ia harapkan. Hanya saja, dalam jangka waktu tak lama kebahagiaan itu berangsur menyusut setelah dia menerima kenyataan bahwa suaminya meninggal. Imran, lelaki shaleh itu wafat ketika istrinya sedang mengandung, sehingga dia tidak sempat melihat kelahiran anaknya apalagi sampai memberikan nama untuk anaknya.
Namun, sebagaimana perempuan shalehah lainnya, sepeninggal Imran justru makin menguatkan tekad Hannah untuk mendidik anak yang dia kandung menjadi pengabdi di rumah suci sekaligus, mengharapkan anaknya kelak menggantikan peran ayahnya menjadi Imam di tengah kaumnya.
Sekali lagi Hannah harus menerima kenyataan atas takdir Allah. Setelah ia mengetahui anak yang dilahirkan ternyata berjenis perempuan, ia merasa sedih dan wah-was karena teringat nadzarnya kepada Allah untuk menyerahkan anaknya sebagai pelayan di Rumah Suci, yang notabene haruslah laki-laki.
Al-Qur’an menggambarkan kondisi Hannah usai melahirkan dalam Surah Ali Imran Ayat 36:
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰىۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
Artinya: “Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”
Ayat ini menegaskan kemuliaan putri yang dilahirkan, dan menolak persangkaan bahwa bayi perempuan yang dilahirkan lebih rendah martabatnya daripada bayi laki-laki seperti yang diharapkan oleh Hannah.
Setelah Hannah menyadari kenyataan anaknya itu perempuan, dan meyakini adanya hikmah dan rahasia di balik kenyataan ini, maka dia menyatakan bahwa bayi itu akan diberi nama Maryam. Dia tidak akan menarik kembali apa yang telah dinadzarkan untuk menyerahkan anaknya berkhidmat di Baitul Maqdis, walaupun bayi itu perempuan dan menurut anggapannya tidak pantas untuk menjaga rumah suci itu, namun dia akan menjadi seorang abdi Tuhan yang khusyuk.
Dan benar saja, setelah Maryam lahir Allah memberikan berbagai keistimewaan. Kehidupan Maryam sepenuhnya diperuntukkan untuk Sang Pencipta, sebagaimana harapan Hannah, ibunya.
Salah satu keistimewaan Maryam yang yang tidak dimiliki perempuan lain ialah Allah mengabadikan Maryam di dalam kitab suci Al-Qur'an yaitu surah ke-19 dengan nama Maryam. Nama Maryam disebutkan sebanyak 34 kali di dalam Al-Qur'an. Keistimewaan lain yang dimiliki Maryam adalah Maryam telah dipilih oleh Allah menjadi perempuan suci di atas segala perempuan di seluruh alam.
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ٤٢
Artinya: "(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam (pada masa itu)".
Demikian kisah Maryam, perempuan suci yang lahir dari orang tua sholah-shalehah, dan melahirkan laki-laki shaleh bernama Isa alaihs salam.
Editor: Muhammad Zunus


