Jika malam datang, lalu terdengar suara burung gagak, biasanya saya disuruh agar lekas mengusirnya. Ibu bilang bunyi itu mengandung pertanda buruk. Konon, gagak lekat dengan kematian. Kepala saya dihinggapi kebingungan, apakah karena warna gagak yang hitam legam atau manusia memang mengerti bahasa burung?
Kebingungan menyoal hewan itu makin bertambah ketika saya diberi tahu nama seekor burung yang mengandung keimanan: gereja. Saya yakin, yang benar-benar Kristen saja pasti enggan diberi nama tersebut. Burung itu sering hinggap di mana-mana tidak hanya di gereja, tapi namanya menjadi demikian. Entah siapa yang menamakan, tapi bagi saya hal itu menarik. Sejenak terlintas di dalam kepala: apakah ia sempat dibaptis?
Meski dipenuhi banyak kebingungan, saya merasa senang bisa hidup di antara burung-burung. Saya patut bersyukur, di masa kecil, telinga dan mata masih berkesempatan menjumpai burung sungguhan. Sebab, ketika menginjak usia dewasa, saya tidak lagi hidup dengan burung asli tetapi hanya berupa gambar. Celakanya, visual itu suka menggerus uang juga kesehatan.
Dua burung kecil berwarna putih sedang diberi makan induknya adalah gambar yang penuh kuasa. Gambar itu menjadi merek paling terkenal: Nestle. Merek itu menemani hampir di semua keseharian orang dewasa melalui milo, nescafe, dancow, cerelac, bear brand, kitKat, maggi magic lezat dan produk lainnya. Produk Nestle menempati sudut rumah, mulai dari ruang tamu, kamar, hingga dapur.
Saya iseng menafsirkan, barangkali logo itu bukan bermakna seekor induk yang sedang memberikan makan anak-anaknya tetapi seekor burung yang sedang mendiskusikan keuntungan saham yang diperoleh dari penjualan produknya di seluruh dunia. Simbol burung yang mewakili Nestle mengandung strategi marketing, uang, lapangan pekerjaan, pembentukan keluarga, dan nasib anak-anak.
Di dalam novel, burung hidup layaknya seorang manusia. Melalui Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang (2023) gubahan Luis Sepulveda, burung memegang posisi sebagai anak. Buku itu mengisahkan seekor kucing bernama Zorbas yang mengasuh seekor bayi camar yatim piatu. Novel apik yang mematahkan stereotip menyoal pengasuhan anak.
Zorbas ditampilkan sebagai sosok yang amat maskulin; berani, agresif, rasional, dan kuat. Hal itu digambarkan saat ia melawan para kucing berandalan dan pemimpin tikus. Di tengah karakter maskulin yang dibangun oleh penulis, Zorbas digambarkan juga amat penyayang dan pengasih kepada anak asuhnya, seekor camar bernama Fortuna.
Awalnya, Zorbas yakin tidak memiliki bakat merawat anak. Ia merasa akan gagal dan tidak memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Namun, lewat proses belajar dengan beberapa kucing jantan lainnya, ia bisa menjadi sosok ayah ideal. Zorbas tidak hanya memenuhi kebutuhan Fortuna secara fisik tetapi juga batin, salah satunya melalui kalimat-kalimat yang penuh rasa cinta dan kasih sayang.
Julia I Suryakusuma melalui Prisma (1991) pernah menuliskan kalau ada asumsi yang berkembang di masyarakat bahwa sifat tertentu diasosiasikan dengan feminitas dan yang lain dengan maskulinitas. Yang tergolong “feminin” misalnya kepekaan perasaan, kesabaran, kelembutan, irasional, kesetiaan, sifat mengalah, dan lemah. sedang yang “maskulin” diidentikan dengan keberanian, agresivitas, sifat dominan, rasionalitas, ketidaksetiaan, dan kekuatan. Ada kecenderungan mengasosiasikan sifat feminin pada perempuan dan sifat maskulin pada laki-laki.
Asosiasi tersebut sangat tidak tepat, karena semua sifat itu bisa terdapat pada semua manusia. Seorang laki-laki bisa sangat maskulin sekaligus feminin, pun sebaliknya. Membatasi perilaku dan perkembangan individu justru hanya akan memenjarakan dalam suatu peran sosial yang ditentukan dari luar. Salah satu contohnya pada peran pengasuhan yang sering dilekatkan hanya pada perempuan.
Persoalan pengasuhan juga saya temukan dalam film The Wild Robot (2024) garapan Chris Sanders. Film itu mengisahkan sebuah robot bernama Rozzum yang terdampar di sebuah pulau dan membuatnya harus mengasuh seekor burung angsa. Pengasuhan itu lekat dengan pesan ekologis, pengorbanan dan kasih sayang.
Di film lain, saya menjumpai burung dalam peran yang berbeda. Serial Game of Thrones (2011) garapan David Benioff memunculkan burung sebagai penghubung antar klan. Burung menjadi salah satu media komunikasi untuk menyampaikan kabar melalui sebuah surat. Selain itu, burung juga menjadi media perpindahan jiwa bagi Bran Stark untuk melihat masa lalu dan masa depan.
Sebuah buku bertajuk Burung Berkicau (1984) gubahan Anthony de Mello SJ, menyimpan banyak kisah menarik. Buku tidak berkisah tentang anatomi atau jenis-jenis burung tetapi mempertemukan cerita-cerita yang dikumpulkan dari ajaran Buddha, Hindu, Kristen, aliran Zen, Sufi dan pungutan kisah dari beragam wilayah.
Membaca kalimat-kalimat di dalamnya membuat wajah bisa salah tingkah: senyum, tertawa, marah, sedih, kecewa, menyesal, dan beragam ekspresi lain. Salah satu kisah menarik bertajuk Elang Emas:
Seseorang menemukan sebutir telur elang dan meletakkannya dieraman induk ayam. Anak elang itu menetas bersama anak-anak ayam dan menjadi besar bersama-sama mereka pula. Selama hidupnya elang itu berbuat sama seperti seekor ayam.
Ia mengira bahwa dirinya juga seekor ayam saja. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Ia berkotek-kotek. Dan ia juga mengebaskan sayapnya dan terbang tak seberapa jauh seperti ayam. Sebab, begitulah lazimnya seekor ayam terbang, bukan?
Tahun-tahun berlalu dan elang itu pun menjadi tua. Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa. Burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah melawan tiupan angin, hampir-hampir mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna keemas-emasan.
Elang tua itu melihat ke atas dengan rasa kagum. ‘Apakah itu?’ tanyanya kepada temannya.
‘Itulah elang, raja segala burung,’ kata temannya. ‘Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Engkau dan aku berbeda dengan dia.
Maka elang tua itu pun tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya ia mati, dengan masih tetap mengira dirinya hanyalah seekor ayam saja.
Editor: Kendi Setiawan


