Dark
Light
Dark
Light

Kisah para Pemakan Gajah: Pesan Ketaatan dari Jalaludin Rumi

Kisah para Pemakan Gajah: Pesan Ketaatan dari Jalaludin Rumi

Sekelompok orang melakukan perjalanan ke India selama berhari-hari tanpa makanan maupun minuman. Karena tidak terbiasa dengan medan yang mereka lalui dan tidak dapat mencari makan, mereka menjadi sangat kekurangan gizi. Meski begitu, mereka tetap melanjutkan perjalanan. Walau kelaparan dan putus asa, mereka bertekad mencapai tujuan akhir.

Karena suatu keberuntungan, seorang bijak yang pernah berkali-kali menjelajah wilayah itu dan akrab dengan satwa liar di sana kebetulan melintasi jalan tersebut. Melihat kondisi pakaian dan wajah pucat orang-orang tadi, dia menyimpulkan bahwa mereka adalah orang asing yang kelaparan. Lalu dia merasa harus memperingatkan mereka tentang gajah yang berkeliaran di wilayah tersebut.

“Salam, teman-teman yang baik, aku bisa melihat bahwa kalian kelelahan dan kelaparan karena tidak banyak yang bisa diburu di wilayah ini,” lelaki bijak itu bersimpuh. “Namun, berhati-hatilah karena gajah berkeliaran bebas di kawasan ini, dan anak-anaknya yang montok terkadang terpisah dari induknya sehingga mudah ditangkap. Tapi kalian sama sekali tidak boleh memburu anak gajah, karena si induk akan menemukan kalian, tidak peduli berapa jauh jarak yang kalian tempuh dari tempat anak gajah itu ditangkap. Si induk akan mengejar kalian, mengendus bau anaknya pada kalian, lalu menginjak-injak kalian sampai mati. Camkan kata-kataku, makan saja tanaman herbal dan buah-buahan, jika kalian bisa menemukannya!”

Orang-orang yang kelelahan mendengarkan lelaki bijak itu, berterima kasih atas nasihatnya, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Karena sangat lapar, mereka mencari di bawah setiap semak dan ke atas setiap pohon yang mungkin berbuah, tetapi mereka tidak menemukan apa pun yang dapat dimakan. Tiba-tiba, salah seorang lelaki melihat seekor anak gajah yang telah terpisah dari keluarganya. Tanpa ragu-ragu, mereka, kecuali satu orang yang mengindahkan nasihat lelaki bijak tadi, menyerang hewan muda itu dan hampir tidak mendapat perlawanan. Mereka langsung membunuhnya di tempat.

Karena terlalu lapar untuk mengindahkan nasihat lelaki bijak tadi, orang-orang itu segera menyalakan api dan memasak hewan montok itu, menggasak dagingnya. Setelah kenyang, mereka mencuci tangan dan wajah di sungai terdekat dan segera terlelap di tepian sungai. Hanya satu di antara mereka yang bisa mengendalikan diri; orang ini tidak ikut serta dalam pembantaian dan tidak menyentuh sepotong daging gajah sama sekali. Dia memutuskan untuk tetap terjaga dan menghuni kemah. Nalurinya mengatakan pasti ada alasan yang bagus mengapa lelaki bijak itu memperingatkan mereka.

Sementara itu, induk gajah sudah mencari anaknya ke mana-mana, semakin marah dan kesal dari waktu ke waktu. Dia mengendus segala sesuatu dengan belalainya yang panjang dan kuat, akhirnya mendeteksi bau anaknya dari jarak dekat dan mempercepat langkah. Dalam sekejap, induk gajah tiba di perkemahan orang-orang yang menyantap anaknya. Dia mendekati lelaki yang masih terbangun dan mengendusnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, terutama di sekitar mulut untuk mencari tahu apakah dia bisa mendeteksi bau bayinya.

Saking takutnya, lelaki itu sampai tidak bisa bergerak, lidahnya kelu. Si gajah mengelilinginya tiga kali untuk memastikan manusia itu tidak ikut berbuat kesalahan, kemudian berlalu tanpa menyakitinya, segera berjalan ke arah orang-orang yang tertidur agak lebih jauh.
Induk gajah mengendus mulut lelaki selanjutnya dan mencium bau bayinya. Lalu dia meremukkan manusia itu di bawah kaki depannya yang seukuran pilar batu, melemparkan ke udara dengan belalainya yang kuat, mematahkan hampir setiap tulang musuhnya. Kemudian dia mendekati lelaki-lelaki lain yang telah menyantap anaknya. Satu per satu, dia memberikan perlakuan menyakitkan yang sama tanpa menunjukkan sedikit pun penyesalan.

Ketika orang bersalah terakhir sudah dibantai, induk gajah kembali ke lelaki yang tidak menyantap anaknya. Dengan anggun, dia berlutut di hadapannya dan dalam satu gerakan cepat, dia mengangkat si lelaki ke punggungnya dengan belalai dan mengantar lelaki itu ke tujuan akhir.

Buku Kumpulan Cerita & Fabel Karya Jalaludin Rumi

Philip Pullman, penulis novel dunia dan pemenang Carnegie Medal, pernah mengatakan: “Setelah makanan, tempat tinggal, dan pertemanan, hal yang paling kita butuhkan di dunia adalah cerita.”

Ungkapan itu tertulis dalam pengantar buku Kumpulan Cerita & Fabel karya Jalaluddin Rumi (Kakatua, 2022). Buku ini berisi banyak cerita yang menyimpan pesan sufisme. Maryam Mafi, salah seorang penerjemah puisi Rumi yang paling diakui, setia, dan fasih, berhasil menyusuri dua puluh enam ribu baris ganda dari syair-syair mahakarya yang disusun dalam enam jilid Matsnawi.

Mafi memusatkan perhatian pada lebih dari seratus kisah yang dipilihnya dari Matsnawi. Kisah-kisah itu termasuk berbagai dongeng terkenal seperti Malaikat Pencabut Nyawa, Sang Sufi dan Istrinya yang Serong, Musa dan Gembala, Kacang Polong, Pelukis Yunani dari Cina, Pengayam Keranjang, Pelahap Lumpur, Sekarung Kerikil, dan Para Pemakan Gajah.

Konon, Rumi dan orang-orang sezamannya di Iran, seperti Sa’di Shirazi dan Nizam Ganjavi, meyakini kisah sebagai duta yang paling dapat diandalkan untuk menyebarkan tradisi budaya dan tradisi lisan. Cerita dipercayai berhasil menembus sekat politik, agama, dan batas negara. Kisah bisa hidup abadi menyimpan pesan kebajikan dari waktu ke waktu.

Buku Kumpulan Cerita & Fabel yang dialihbahasakan oleh Nadya Andwiani ini dapat dibaca dengan formulasi yang dibuat A. de Mello SJ, seorang imam Katolik, penulis banyak kisah bijak yang bersumber dari berbagai kebudayaan dan agama. Ia menganjurkan tiga cara dalam membaca:

Pertama, bacalah sebuah cerita satu kali. Kemudian bacalah cerita yang lain. Cara membaca demikian akan menjadi hiburan.

Kedua, bacalah sebuah cerita dua kali. Lakukan refleksi dan tarik cerita itu pada kehidupan nyata. Cerita akan mendorong pembaca pada suasana teologi.

Ketiga, bacalah kembali cerita setelah melakukan refleksi. Ciptakan keheningan dalam hati dan biarkan cerita menyampaikan makna dan artinya dengan bebas. Cara ini dipercayai secara bertahap dapat membawa pembaca pada kepekaan hidup mistik.

Kita bebas menentukan cara baca seperti apa yang kita pilih. Yang paling penting, hidup tidak terlepas dari cerita yang memungkinkan pikiran untuk terus berpikir, hati untuk terus merasa, dan tubuh untuk terus bergerak.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo