Langkahmu pelan tertatih,
dengan denyut nadi nyaris terhenti,
namun jangan padam ambisi.
Baris dari lagu Ambisi karya Iwan Fals terdengar seperti doa bagi manusia yang sedang berjuang di batas ketahanan tubuh dan batinnya. Ia menggambarkan seseorang yang sekejap lagi tumbang, namun menyimpan secuil bara dalam diri yang menolak padam. Dalam lagu itu, ambisi tidak menjelma keserakahan, melainkan suntikan tenaga untuk tetap hidup, menjelma tekad guna melawan kehancuran diri.
Beberapa dekade kemudian setelah Ambisi milik Iwan Fals rilis, kata yang sama muncul lewat Kelompok Penerbang Roket dan Eka Annash. Liriknya tajam dan penuh teguran.
Kapan kita bisa bangun berdiri,
kalau tidak sadarkan diri.
Ambisi bukan dorongan untuk bertahan, melainkan peringatan agar manusia tidak kehilangan kesadaran. Dunia terus berubah, tapi manusia sering terjebak dalam delusi juga dalam kebiasaan bayang-bayang yang menipu.
Dua lagu mempertontonkan dua sisi dari kata ambisi. Di satu sisi, ia bisa menjadi kekuatan untuk hidup, sementara sisi lainnya kata itu menyerupa sebagai call to action. Bagaimana kalau kata ambisi bertransdormasi menjadi ambisius? Perbedaannya memanglah tipis antara ambisi-ambisius, dan ini menjadi sangat penting, karena di sanalah moral diuji. Ambisi adalah tekad untuk maju bersama, sedangkan ambisius adalah hasrat mempertahankan kuasa demi diri sendiri.
Perbedaan itu menjadi krusial ketika kita melihat publik memperbincangkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Sebuah hal yang tidak hanya absurd secara moral, melainkan berpotensi mengaburkan ingatan bangsa terhadap luka masa lalu. Dalam sejarah Indonesia modern, tidak ada figur yang begitu identik dengan kekuasaan absolut-pembungkaman juga pelanggaran hak asasi manusia seperti Soeharto.
Soeharto menjadi lambang dari sistem yang menormalisasi ketakutan. Selama lebih dari tiga dekade Orde Baru, ambisi kekuasaan berubah menjadi daya ambisius yang dipertontonkan, entah lewat pembungkaman oposisi atau kontrol media dan pengawasan ketat terhadap rakyat. Jutaan orang kehilangan suara, sebagian bahkan hilang nyawa. Dari pembantaian 1965–1966 hingga penangkapan aktivis dan pembungkaman pers di tahun-tahun terakhir kekuasaannya, nama Soeharto selalu melekat pada trauma kolektif bangsa.
Dalam konteks itu, berbicara tentang ambisi Soeharto yang sungguh menjelma ambisius berarti berbicara tentang kerakusan politik yang mengorbankan kesadaran moral. Ia tidak sekadar ingin memimpin, tetapi lebih pada keinginan menguasai. Ambisinya bukan untuk memajukan bangsa secara setara, melainkan untuk menundukkan seluruh struktur sosial agar tunduk pada satu figur. Inilah bentuk ambisius yang sejati, hasrat mempertahankan kekuasaan dengan meniadakan kritik.
Menjadikan Soeharto Pahlawan Nasional justru menunjukkan bagaimana sebagian bangsa ini belum benar-benar pulih dari warisan otoritarianisme. Kita masih mudah terpesona wingitnya mitos “pembangunan” tanpa mau melihat darah dan air mata yang menjadi fondasinya. Jalan-jalan memang dibangun, tetapi di saat yang sama kebebasan warga dihancurkan. Swasembada pangan didewakan, tetapi kesenjangan sosial melebar. Semua itu dibayar dengan harga yang terlalu mahal, hilangnya martabat, tak luput juga nyawa manusia.
Pemberian gelar pahlawan seharusnya tidak sekadar soal jasa yang tampak di permukaan, tetapi juga tentang nilai yang diwariskan. Apakah pembangunan dapat menebus pelanggaran kemanusiaan? Apakah pertumbuhan ekonomi dapat memutihkan darah yang tumpah? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena sejarah tidak boleh ditulis ulang hanya untuk kenyamanan politik hari ini. Memberi gelar pahlawan kepada Soeharto berarti mengajarkan generasi muda akan penindasan yang bisa diampuni asal dibungkus dalam istilah stabilitas. Lalu bagaimana dengan para korban dan keluarganya yang masih menunggu pengakuan dan keadilan?
Keambisiusan Soeharto adalah contoh paling gamblang dari bagaimana kekuasaan dapat menggerus nurani. Ia membangun tugu-tugu dan jalan raya, tetapi juga membangun dinding ketakutan. Ia menanamkan gagasan tunggal tentang persatuan, namun keseragaman yang mematikan tumbuh subur, mematikan nalar dan kebebasan berpikir. Ia meninggalkan jejak yang panjang, bukan jejak kepahlawanan, melainkan peringatan tentang bahaya jika ambisi manusia kehilangan kesadaran. Memberi Soeharto gelar pahlawan berarti melanggengkan ilusi bahwa kekuasaan panjang adalah tanda jasa, padahal itu tanda dari sistem yang menutup pintu perlawanan.
Sudah saatnya kita berhenti menyamakan ambisius dengan keberhasilan, dan mulai menilai sejarah dengan kesadaran moral. Bangsa ini tidak membutuhkan pahlawan yang membungkam rakyatnya, melainkan pemimpin yang memberi ruang bagi keberanian berpikir kritis.
Jangan hilang dalam bayang,
gelap terang ke depan,
Begitu bunyi lagu. Kalimat itu bukan hanya pengingat, tapi juga peringatan, jangan biarkan bangsa ini kembali tersesat dalam bayang-bayang ambisi atau ambisiusnya kekuasaan yang dulu pernah menelan kesadarannya sendiri.
Dalam terang dua lagu Ambisi di awal, terbaca ulang makna kepemimpinan. Iwan Fals mengingatkan agar manusia tak menyerah pada hidup, sementara Kelompok Penerbang Roket memperingatkan agar manusia tak kehilangan arah dalam bayangan sendiri. Jika lagu-lagu itu dijahit bersama, maka pesannya jelas, ambisi tanpa kesadaran akan berubah menjadi penindasan.
Editor: Kendi Setiawan


