Setiap 10 November bangsa ini menundukkan kepala, mengenang mereka yang gugur di medan laga, yang darahnya menjadi tinta bagi sejarah kemerdekaan. Nama-nama itu diabadikan dalam monumen, diulang dalam upacara, dan didoakan di setiap momentum kebangsaan.
Namun, waktu tak hanya menguji keutuhan sebuah bangsa, tetapi juga menguji makna kepahlawanan itu sendiri. Di tengah zaman yang serba tergesa dan gemerlap materi, adakah pahlawan masih hidup di antara kita, pahlawan yang berjuang bukan untuk dikenang, tetapi untuk menegakkan nurani?
Pahlawan, dalam pengertian historis, adalah mereka yang berperang dengan senjata dan darah. Tetapi dalam pengertian spiritual, pahlawan sejati adalah mereka yang berperang dengan diri sendiri. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda ketika pulang dari medan perang: “Kita baru kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.” (HR. Baihaqi). Di sinilah letak pergeseran makna kepahlawanan dari dimensi fisik menuju dimensi batin: dari heroisme eksternal ke perjuangan internal.
Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan menjelaskan bahwa manusia yang ideal dalam pandangan Islam adalah insan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘alamin), yakni manusia yang mengaktualisasikan potensi Ilahiah dalam dirinya demi kemaslahatan universal. Menurut Madjid, tugas spiritual manusia adalah menghadirkan rahmat dalam segala tindakan, baik sosial, politik, maupun kebudayaan (1992a: 55). Dengan demikian, kepahlawanan sejati tidak berhenti pada keberanian fisik, melainkan berlanjut menjadi keberanian moral dan spiritual untuk menebarkan rahmat di setiap denyut kehidupan.
Kita hidup di zaman ketika keberanian diukur oleh popularitas, bukan oleh pengorbanan. Padahal, dalam pandangan sufi, keberanian tertinggi justru terletak pada kemampuan menundukkan ego dan memadamkan api keserakahan. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din (2004: 31) menulis bahwa “nafsu adalah musuh yang paling berbahaya, karena ia bersembunyi di dalam diri manusia sendiri.” Ia menegaskan bahwa orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, dialah pahlawan sejati di hadapan Allah.
Maka, ketika bangsa ini memperingati Hari Pahlawan, seharusnya yang kita kenang bukan hanya perjuangan bersenjata, melainkan juga perjuangan batin yang lebih sunyi: jihad melawan diri sendiri, melawan kemunafikan dan kerakusan yang menghancurkan nilai kemanusiaan. Sebab sejatinya, pahlawan adalah mereka yang menaklukkan diri sendiri sebelum menaklukkan dunia.
Pahlawan dan Jalan Batin
Pahlawan sejati tidak lahir dari ambisi untuk dikenal, melainkan dari ketulusan untuk mengabdi. Kepahlawanan bukanlah panggung kemasyhuran, tetapi ruang pengorbanan yang sunyi. Dalam sejarah bangsa, para pahlawan besar justru tampil tanpa menuntut imbalan apa pun, karena yang mereka perjuangkan bukan diri mereka, melainkan nilai-nilai yang lebih tinggi: kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan. Namun dalam pandangan spiritual, kepahlawanan tidak berhenti di medan perang atau arena politik; ia berlanjut dalam wilayah batin, pertempuran melawan nafsu dan kegelapan diri.
Al-Qur’an menegaskan dalam surah Ali Imran ayat 169: “Janganlah engkau kira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhanmu, diberi rezeki.” Ayat ini bukan hanya penghiburan bagi mereka yang ditinggalkan, tetapi juga pengungkapan hakikat spiritual tentang kehidupan yang tidak berakhir pada kematian jasmani. Dalam tafsir sufistik, kehidupan yang dimaksud bukan kehidupan fisik, melainkan keberlanjutan ruh dalam kehadiran Ilahi. Seorang pahlawan, dengan demikian, hidup karena amal dan pengorbanannya telah menyatu dengan cahaya Tuhan. Ia tidak lenyap oleh waktu, karena jiwanya telah melebur dalam “kehidupan Ilahiah”: kehidupan yang abadi dalam kebaikan dan kasih sayang.
Ibn ‘Arabi dalam Futuhat al-Makkiyyah menjelaskan bahwa kematian seorang yang berjuang di jalan Allah bukanlah ketiadaan, melainkan “transformasi bentuk dari dunia fana menuju alam nurani yang lebih tinggi.” Bagi sufi besar ini, siapa pun yang mengorbankan dirinya demi nilai-nilai Ilahiah sesungguhnya sedang “menyatu dalam wujud cinta Ilahi” (2002: 141). Artinya, pahlawan bukan sekadar sosok historis yang hidup di masa lalu, melainkan makhluk batiniah yang terus hidup dalam arus kasih Tuhan.
Dalam kerangka ini, makna jihad sebagai perjuangan bergeser dari dimensi fisik menuju batiniah. Kuntowijoyo dalam Maklumat Sastra Profetik menyebut bahwa manusia profetik adalah mereka yang menjalani sejarah dengan kesadaran Ilahi; berbuat bukan karena dorongan ego, melainkan karena panggilan spiritual untuk menegakkan kebenaran (2006: 42). Maka, pahlawan yang sejati bukan hanya yang mengangkat senjata, tetapi juga yang menjaga nurani dalam kebisingan zaman. Ia berperang di medan batin: melawan keserakahan, kesombongan, dan keputusasaan yang membunuh kemanusiaan secara perlahan.
Kepahlawanan seperti ini adalah jalan batin yang sepi, karena ia menuntut keberanian untuk melawan diri sendiri. Jalan ini hanya bisa ditempuh dengan hati yang tulus dan niat yang bening. Sebagaimana ditegaskan oleh Jalaluddin Rumi dalam Mathnawi (2007: 213): “Berperanglah melawan dirimu sendiri, karena musuh terbesarmu bukan di luar, melainkan di dalam hatimu sendiri.” Kalimat ini menegaskan bahwa hakikat pahlawan bukanlah mereka yang menundukkan dunia, melainkan mereka yang mampu menundukkan egonya.
Dengan demikian, pahlawan dalam pandangan sufistik bukan figur monumental yang hidup di masa lalu, melainkan representasi ruhani yang terus hadir di setiap zaman. Ia hidup di antara kita dalam bentuk orang-orang yang menebarkan kasih, menegakkan keadilan, dan bekerja tanpa pamrih. Dalam diam dan kerendahan hatinya, mereka adalah insan rahmatan lil-‘alamin, yang amalnya menyatu dengan cahaya Tuhan, yang hidupnya menjadi rahmat bagi sesama.
Dari Jihad Luar ke Jihad Dalam: Pahlawan sebagai Penakluk Diri
Di medan sejarah, “jihad” sering kali dibaca dalam makna fisik: pertempuran, pengorbanan nyawa, keberanian melawan penjajah. Namun tradisi spiritual Islam juga mengajarkan dimensi yang lebih dalam; jihad melawan hawa nafsu, yang dipandang sebagai perjuangan paling berat dan paling agung dalam perjalanan manusia menuju kesucian. Tradisi lisan yang populer meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata ketika pulang dari suatu ekspedisi: “Kita baru kembali dari jihad kecil (al-jihad al-asghar) kepada jihad besar (al-jihad al-akbar)”; dan ketika para sahabat bertanya, beliau menjawab bahwa jihad besar itu adalah jihad melawan diri sendiri.
Meskipun ungkapan itu populer dan dipakai luas dalam khazanah tasawuf dan khotbah-khotbah moral, para ahli hadits mencatat bahwa sanad (rantai periwayatannya) tidak kuat; beberapa perawi menyebutkan riwayatnya dari Al-Bayhaqi dan menilai statusnya lemah menurut kajian sanad tertentu. Sebagaimana dicatat dalam kajian modern tentang konsep greater/lesser jihad, formulasi populer ini hadir dalam literatur namun perlu dipahami secara hati-hati: nilai teologis dan etis dari pesan (pentingnya jihad melawan nafsu) tidak otomatis menjadikan setiap lafaz populer itu hadis sahih yang terikat secara tekstual. (Al-Bayhaqi; Cook, 2015: 32).
Mengapa hal ini penting bagi pembacaan kepahlawanan? Karena apabila kita memindahkan pusat gravitas kepahlawanan dari aksi eksternal semata ke penguasaan batin, maka pahlawan sejati adalah mereka yang menaklukkan ego: orang yang mampu menepis hasrat-perusak seperti dendam, iri hati, keserakahan, dan kebencian, lalu merawat keteguhan jiwa yang melahirkan kebajikan sosial. Pahlawan batin demikian tidak spektakuler dalam laporan media, tetapi mereka yang menata kehidupan dengan sabar, menegakkan keadilan dalam keseharian, dan mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama. Dalam perspektif sufistik, jihad akbar inilah yang menjadikan tindakan lahiriah seorang pahlawan bermakna: tanpa penaklukan nafsu, keberanian luar menjadi rentan pada ambisi atau kesombongan; dengan penguasaan batin, keberanian itu menjadi ibadah yang meneguhkan kemanusiaan.
Praktisnya, mengangkat jihad batin sebagai ukuran kepahlawanan mendorong kita untuk merespons tantangan zaman (korupsi, kebencian, polarisasi) bukan semata dengan aturan represif, tetapi dengan pendidikan moral, pembentukan karakter, dan teladan kehidupan. Di sinilahlah peran pesan laku dan pendidikan pesantren, majelis ilmu, serta praktik spiritual yang mengajarkan adab: mereka menyiapkan “pahlawan sehari-hari” (warga yang, lewat pengendalian diri dan komitmen etis, membangun masyarakat rahmatan lil-‘alamin).
Kepahlawanan Spiritual sebagai Rahmat
Kepahlawanan yang kita kenang pada 10 November harus direkonstruksi dari medan tempur menuju medan hati. Bila pahlawan historis dikenal lewat keberanian di garis depan, maka puncak kepahlawanan adalah ketika keberanian itu dibawa kembali ke dalam: menjadi tenaga yang menaklukkan nafsu, menyuburkan belas kasih, dan menebarkan kesejahteraan tanpa memaksakan diri. Di sinilah konsep insan rahmatan lil-‘alamin (manusia sebagai rahmat bagi semesta) menjadi tolok ukur: bukan lagi soal siapa yang paling banyak menundukkan musuh, melainkan siapa yang paling berhasil menundukkan sifat-sifat destruktif dalam dirinya sehingga mampu menjadi sumber manfaat bagi sesama.
Gagasan ini bergaung dalam tradisi tasawuf klasik. Ibn ʿArabī, dalam karya monumentalnya Fusus al-Hikam (1980), merangkaikan gagasan tentang insan kamil: manusia sempurna yang memantulkan sifat-sifat Ilahi sebagai cermin bagi ciptaan. Insan kamil bukan makhluk supra-manusia; ia manusia yang melalui perjalanan batin menyalurkan rahmat: keteguhan yang lembut, keberanian yang tidak mencari kemenangan atas orang lain, dan kehadiran yang menyembuhkan luka kolektif. Dari perspektif ini, kepahlawanan sejati adalah pelayanan: kemenangan tanpa permusuhan, pengorbanan yang menumbuhkan hidup, keteguhan yang merawat.
Bahasa alegoris membantu kita merasakan dimensi itu. Ada cara mengatakan tentang pahlawan batin yang lebih tepat dalam metafora daripada dalam argumen dingin: Ia berperang tanpa pedang, berdarah tanpa luka, dan menang tanpa musuh.
Baris itu bukan paradoks retoris semata; ia mencoba menangkap paradoks spiritual: jiwa yang berjuang melawan hawa nafsu (jihad akbar) mengalami pertumpahan (bukan darah fisik tetapi luka ego, simpati, dan empati), yang melahirkan kesadaran baru. Sang pahlawan batin “berdarah” dalam arti merasakan kepedihan manusia lain sedemikian rupa sehingga dorongan untuk bertindak beralih dari amarah menjadi kasih. Karena itulah kemenangan yang ia raih bersifat transformatif: mengubah penderitaan menjadi pembelajaran, kebencian menjadi pengertian, dan kehancuran menjadi karya.
Secara argumentatif, menempatkan kepahlawanan pada ranah rahmat memiliki beberapa konsekuensi praktis. Pertama, ia meredefinisi keberanian: bukan sekadar kegigihan menghadapi ancaman eksternal, tetapi konsistensi memperbaiki diri dan lingkungan. Kedua, ia mengubah prioritas kolektif: dari pencapaian dominasi menjadi pencapaian kesejahteraan bersama. Ketiga, ia menempatkan pendidikan moral (adab, empati, disiplin) sebagai bagian dari infrastruktur nasional yang setara pentingnya dengan infrastruktur fisik.
Dalam konteks kenegaraan dan kebudayaan modern, wacana ini menuntut kebijakan yang mendukung pembentukan “pahlawan batin”: program pendidikan karakter yang tidak instrumental, ruang-ruang publik untuk dialog, serta pengakuan atas kerja-kerja sosial yang bersifat merawat. Sebab pahlawan spiritual tidak selalu berdiri di mimbar; sering ia bekerja di dapur komunitas, di kelas literasi, di klinik gratis, dan di laboratorium ide yang mencipta solusi kemanusiaan.
Pahlawan rahmatan lil-‘alamin adalah mereka yang, di saat dunia menuntut kemenangan dengan mengalahkan, justru menang dengan memberi; yang, ketika disodori pilihan antara berkuasa dan berbelas kasih, memilih untuk merendah dan merawat. Kepahlawanan bentuk ini tidak memerlukan prasasti di monumen: jejaknya tertera di wajah-wajah yang terangkat dari kemiskinan, di komunitas yang kembali bersuara, dan di hati generasi yang menemukan kembali makna keberanian sebagai bentuk kasih.
Jalan Sunyi Kepahlawanan Spiritual
Pada akhirnya, kepahlawanan tidak berhenti di tugu peringatan atau deretan nama di nisan pahlawan. Ia adalah jalan sunyi, tempat manusia berjumpa dengan dirinya sendiri, dan di situ pula ia menemukan Tuhan. Bila perang fisik telah usai, maka perang batin terus berlangsung: perang melawan keserakahan, dendam, dan kesia-siaan. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Abu Hamid al-Ghazali menulis bahwa “musuh terbesar manusia bukanlah setan di luar dirinya, tetapi nafsu yang bersarang di dalam dada”. Jihad melawan diri itulah yang disebut jihad akbar, perjuangan besar yang menentukan kemuliaan hidup.
Di puncak jalan itu, insan rahmatan lil-‘alamin berdiri: manusia yang menjadikan kasih sebagai senjata dan ketulusan sebagai strategi. Ia tidak mencari kemenangan, sebab ia telah menang atas dirinya sendiri. Sebagaimana ditegaskan oleh Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, Islam sebagai rahmat bukan sekadar doktrin teologis, melainkan etika sosial yang menuntut manusia “menebarkan kebaikan universal bagi kehidupan bersama” (1992a: 87). Pahlawan spiritual adalah mereka yang memahami rahmat ini sebagai energi peradaban: membangun tanpa menghancurkan, menyembuhkan tanpa menuntut balas.
Kuntowijoyo dalam Maklumat Sastra Profetik menegaskan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan kebudayaan: amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya ajaran moral, melainkan proyek kemanusiaan untuk menegakkan keadilan dan menolak kebohongan (2006: 45). Maka, kepahlawanan spiritual tidak berhenti pada renungan, melainkan mewujud dalam laku hidup: mengajar, menulis, menanam, mendengar jerit orang miskin, dan menyalakan cahaya di tempat gelap. Ia adalah tindakan iman dalam bentuk paling lembut.
Seperti air yang mengalir tanpa mengumumkan dirinya, seperti tanah yang rela diinjak demi menumbuhkan kehidupan, begitulah pahlawan rahmatan lil-‘alamin hadir. Ia berjuang dalam diam, tetapi dunia menjadi terang karenanya. Ia menaklukkan tanpa menindas, memberi tanpa kehilangan, mencintai tanpa menuntut balas. Kepahlawanan sejati, dengan demikian, bukan sekadar sejarah keberanian, melainkan kesadaran akan kasih yang menembus batas ruang dan waktu: ia menyalakan cahaya tanpa menyilaukan, ia mengorbankan diri tanpa kehilangan makna.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan


