Beberapa bulan lalu, perbincangan soal feminisme ramai. Obrolan itu dipantik sebuah buku yang diterbitkan IRCiSoD berjudul Anti Feminisme (2025) gubahan Aquarina. Sebagian orang mendukung gagasan dalam buku, yang lain sebaliknya. Saya berada dalam posisi tidak mendukung gagasan anti feminisme, meski saya sepakat feminisme butuh selalu dikritik agar tetap kontekstual dan berkembang.
Sebelum muncul buku dengan sampul gambar bunga mawar itu, penolakan pada feminisme sering saya jumpai. Biasanya teman saya laki-laki, meski tidak semua. Ini membuat saya sampai pada pertanyaan: apa sih yang membuat teman saya—mungkin juga banyak orang—antipati dengan feminisme? Mengapa seolah-olah feminisme seperti Typhon, monster paling mengerikan dalam mitologi Yunani. Bertubuh raksasa, punya seratus kepala naga di tangan, ular berbisa di kakinya, dan siap membunuh tanpa belas kasihan.
Saya mencoba menjadi peneliti amatir, berselancar di media sosial untuk mencari tahu pandangan orang lain tentang feminisme. Hasilnya, saya menemukan banyak prasangka dari beberapa akun di Instagram maupun Facebook. Ringkasnya begini:
“Feminisme berusaha mendidik perempuan melihat kesuksesan materi sebagai tujuan. Mereka didorong untuk punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat. Hasilnya, di negara-negara asal feminisme, perempuannya jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak.
Feminisme mengajarkan perempuan modern harus mirip pria. Perempuan yang tidak bekerja akan dianggap lemah. Menjadi ibu rumah tangga adalah perendahan martabat perempuan, tidak modern, dan bentuk perbudakan.”
Kalau yang hinggap dalam kepala teman saya adalah narasi demikian, saya bisa mafhum atas perubahan sikap mereka ketika ngobrol: sinis pada wacana feminisme. Apa benar feminisme begitu? Apa betul tujuan feminisme semengerikan itu? Saya rasa tidak.
KH Husein Muhammad, salah satu tokoh ulama kontemporer, punya pandangan menarik soal feminisme. Beliau pernah mengatakan bahwa feminisme sejalan dengan Islam karena memandang semua manusia sama derajatnya. Feminisme berupaya memperjuangkan persamaan hak dan keadilan bagi perempuan maupun laki-laki. Tujuannya agar tidak ada lagi marginalisasi, subordinasi, stigmatisasi, dan kekerasan (Mubadalah.id, 9/10/2022).
Feminisme juga diartikan sebagai kesadaran pada penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, tempat kerja, dan keluarga. Feminisme mendorong perempuan maupun laki-laki untuk secara sadar mengubah keadaan tersebut. Begitu yang saya temukan di buku Sosiologi Gender garapan Ikhlasiah Dalimoenthe (2020).
Saya teringat kasus Herry Wirawan, pemilik dan pengurus Pondok Tahfiz Al-Ikhlas di Bandung. Ia memperkosa 13 santriwati, delapan korban sampai melahirkan sembilan orang anak. Kekerasan ini tertutup sangat rapat, baru mengemuka ketika aktivis perempuan Nong Andah Darol Mahmada mengungkapkannya di Twitter. Setelah viral, banyak masyarakat, lembaga perempuan, dan media, mendesak hukuman berat bagi pelaku dan penanganan yang tepat bagi para korban.
Sikap yang diambil Nong Andah Darol Mahmada dan masyarakat yang menuntut keadilan bagi korban adalah wujud dari feminisme, meski tidak secara gamblang disebut. Mereka secara sadar mendorong adanya tindakan tegas pada kejahatan yang berbasis gender. Contoh lain baru-baru ini, ketika Odyssey Filsafat akan menggelar diskusi Merayakan Kematian Filsafat?, ramai-ramai netizen mengkritik karena 25 orang panelis semuanya pria, menihilkan sosok perempuan. Padahal, di Indonesia banyak tokoh perempuan yang jempolan bicara soal filsafat.
Kesadaran netizen ikut mendorong keterlibatan perempuan dalam ranah intelektual juga merupakan wujud dari feminisme.
Dari berbagai pengertian dan contoh di atas, ringkasnya saya mengartikan feminisme sebagai usaha untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tindakan dan pikiran tetek-bengek yang menyangkut diskriminasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan pada suatu gender. Sebab, semua perilaku tersebut tidak mencerminkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Nah, mengapa bisa terjadi pembelokan pengertian feminisme, dari yang berwajah perjuangan menjadi mengerikan? Ini sama halnya dengan yang terjadi di Eropa. Dahulu pernah muncul istilah Islamophobia, pandangan yang mengandung prasangka dan kebencian pada Islam. Agama itu dianggap keras dan pencetak teroris. Orang-orang banyak mempercayai karena kurang tersedia wacana lain yang menyuguhkan pengertian tandingan. Ini disebut Chimamanda Ngozi, feminis Nigeria sebagai bahaya narasi tunggal. Istilah bekennya the danger of a single story.
Ketika hanya satu narasi yang terus-menerus diceritakan tentang suatu kelompok, maka cerita itu menjadi satu-satunya kebenaran yang dipercaya, padahal kenyataan jauh lebih kompleks dan beragam. Cara pandang ini melanggengkan stereotip, menghapus identitas, dan menciptakan ketimpangan kekuasaan dalam representasi.
Prasangka dan desas-desus telah sukses mempromosikan feminisme sebagai gerakan yang ingin menggulingkan laki-laki, menjauhkan dari agama, dan membuat perempuan menjadi liar. Wacana ini dipantik oleh asumsi yang sangat subjektif lalu apinya ditiup beberapa oknum hingga makin membesar.
Pengertian itu tidak tepat. Feminisme tidak menyerang, apalagi berambisi untuk mengobrak-abrik tatanan yang ada. Feminisme hanya menyoroti dan mengkritik tindakan maupun budaya yang menempatkan perempuan (juga laki-laki) dalam lubang kesengsaraan. Tujuannya tidak lain supaya tercipta keadilan di ruang privat, sosial, politik, dan ekonomi pada semua gender, tanpa terkecuali.
Mengapa orang-orang tidak langsung menyebutnya sebagai perjuangan hak asasi manusia? Kenapa harus menggunakan istilah feminisme? Feminisme tentu bagian dari hak asasi manusia secara umum, tetapi memilih untuk menggunakan kata HAM saja itu sama dengan menyangkal masalah yang spesifik. Sama halnya dengan perjuangan rasial melawan apartheid alias kesewenangan warga kulit putih atas kulit hitam.
Sebenarnya, bukan hanya laki-laki, banyak juga perempuan yang tidak menganggap penting wacana feminisme, bahkan menjadi pelaku yang mendiskreditkan gender lain. Misalnya yang ditulis Lydia Cacho dalam Bisnis Perbudakan Seksual (2021). Ia merekam kesaksian dan investigasi terhadap para pelaku utama—termasuk perempuan yang menjadi bos dalam bisnis perbudakan seksual. Perdagangan manusia itu banyak menelan korban perempuan dan anak-anak.
Pada akhirnya, saya tidak bermaksud menyudutkan laki-laki, karena toh perempuan juga banyak bersikap demikian. Tulisan ini tak lain hanya sebagai pelepasan rasan-rasan saya terhadap teman-teman yang sepakat dengan HAM tetapi sinis pada gagasan feminisme. Ibarat menyukai rumah yang kokoh dan indah, tapi tidak mau memakai fondasi. Demikian.
Editor: Kendi Setiawan


