Nama Syekh Baribin mungkin tak setenar Wali Songo dalam peta besar sejarah Islam Jawa. Namun di wilayah ‘Mas Barling Cakeb’ (Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap hingga Kebumen) namanya hidup kuat dalam masyarakat. Beliau dikenal dan dikenang sebagai wong agung, bangsawan Majapahit yang memilih jalan sunyi, meninggalkan istana dan kekuasaan demi menyebarkan Islam di Jawa Selatan.
Sejumlah babad sejarah menyebutkan, Syekh Baribin adalah Raden Haryo Baribin alias Raden Joko Panurat, putra Raja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ia juga dikenal dengan sebagai Syekh Arifin. Nama dan gelar yang disematkannya itu mencerminkan posisi keulamaan pada fase akhir kehidupan. Tokoh ini berada di persimpangan antara runtuhnya hegemoni Majapahit dan menguatnya pengaruh Islam sebagai kekuatan kultural baru.
Beberapa waktu lalu Arina.id mengunjungi Makam Syekh Baribin di Gunung Wulan, yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Gunung Grenggeng. Perbukitan ini masuk wilayah Dukuh Setana Kunci, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sekitar 25 kilometer di sebelah barat pusat Kabupaten Kebumen.
Lokasi kompleks Makam Syekh Baribin jauh dari keramaian kota, tersembunyi di balik perbukitan nan sejuk, mudah diakses melalui jalan nasional dan dekat dengan stasiun Karanganyar dan Kota Gombong. Arina.id juga menyempatkan istirah sejenak di kota Gombong yang dikenal sebagai kota satelit dan simpul ekonomi masyarakat Kebumen. Pengunjung bisa menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat, atau ojek aplikasi yang siap mengantar sampai tujuan.
99 anak tangga menuju makam
Pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua bahkan bisa langsung naik sampai area tangga terakhir menuju makam, tentunya harus ekstra hati-hati karena jalan sempit dan berlumut. Jika ragu, pakailah jasa ojek lokal untuk mencapai puncak. Sementara pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat harus parkir di halaman Masjid Baiturrahman. Untuk yang berjalan kaki, jarak dari lokasi parkir ke makam sekitar satu kilometer.
Sebelum memasuki area makam, pengunjung harus melewati tangga sepanjang 100 meter dengan 99 anak tangga dan melepas alas kaki. Konon kabarnya, wisata religi ini mulai dikenal setelah diidentifikasi dan diresmikan oleh Patih Donoharjo IV dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Perjalanan ziarah dimulai dari kaki bukit, dekat sebuah masjid. Dari titik ini, peziarah berjalan kaki sekitar satu kilometer menyusuri jalan menanjak yang sebagian besar sudah dicor kokoh. Butuh kesungguhan bagi siapa pun yang ingin mencapainya, karena medan yang curam dan melelahkan, terlebih jika ditempuh pada siang hari. Untunglah kami datang saat matahari belum terlampau tinggi. Sembilan puluh sembilan tangga yang dihubungkan dengan ‘asmaul husna’ dan angka kesempurnaan itu seperti ujian terakhir sebelum sampai di kompleks makam.
Hening yang membuat hati bening
Setelah sampai puncak, sedikit perjuangan itu terbayar sudah. Dari kompleks makam Syekh Baribin di puncak bukit itu, nampak jelas landskap Kebumen yang indah. Sawah-sawah terbentang luas, jalan, sungai dan perkampungan nampak dari kejauhan. Angin berembus sejuk, menghadirkan suasana hening yang membuat batin menjadi bening.
Di sekitar makam utama, terdapat sejumlah makam tua lain, di antaranya makam Raden Joko Panular, yang dipercaya sebagai bangsawan Majapahit sekaligus penerus Syekh Baribin setelah wafat, serta makam Kiai Jono (Raden Jono), murid kepercayaannya. Tak jauh dari sana, tertulis pula petilasan Angling Darma dan makam yang disebut sebagai Makam Kajoran, meski identifikasi tokohnya masih menyisakan perdebatan sejarah.
Syekh Baribin figur penting
Menurut penulis serial Babad Banyumas, Nassirun Purwokartun, Syekh Baribin digambarkan sebagai seorang ajar, pandita, dan pertapa. Ia disebut pula dengan nama Pandita Putra, sebuah penanda bahwa pada masa mudanya, jalan spiritual yang ditempuh masih kuat dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha.
Namun pada fase akhir hidupnya, ia justru dikenal sebagai syekh, gelar yang menandai kiprahnya dalam dakwah Islam. Perubahan identitas spiritual ini mencerminkan dinamika besar yang tengah terjadi di Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16, ketika Majapahit runtuh dan Islam berkembang melalui pendekatan kultural yang digawangi Wali Songo.
Nassirun menyebut Syekh Baribin sebagai figur transisi penting. Menurutnya, ia adalah bangsawan Majapahit yang tidak serta-merta menolak Islam, tetapi justru menjadi jembatan antara tradisi lama dan ajaran baru. Penyebaran Islam oleh tokoh seperti Syekh Baribin tidak dilakukan secara konfrontatif. Melainkan–sebagaimana Wali Songo, melalui laku spiritual, keteladanan, dan adaptasi budaya lokal.
Masyarakat setempat menyebut Syekh Baribin aktif menyebarkan Islam di wilayah selatan Jawa, terutama Banyumas, Kebumen, Cilacap dan sekitarnya. Murid-muridnya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk bangsawan pelarian Majapahit dan masyarakat desa setempat.
Nama Kiai Jono (Raden Jono) pun disebut sebagai murid kepercayaannya, sementara Raden Joko Panular dipercaya melanjutkan peran spiritualnya setelah wafat. Meski bukti tertulis sangat terbatas, keberadaan makam-makam tua di sekitar kompleks Grenggeng menjadi penanda kuat bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat aktivitas spiritual yang sangat strategis di masa lalu.
Tradisi ruwahan melengkapi wisata religi
Hingga kini, makam Syekh Baribin dirawat sebagai destinasi wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen. Setiap tahun, terutama pada bulan Ruwah (Sya’ban), ribuan peziarah datang dari berbagai daerah: Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Gombong, hingga Yogyakarta dan Surakarta.
Salah satu tradisi yang masih lestari adalah pembagian gunungan menjelang Ramadan yang selalu dihadiri puluhan ribu orang. Perayaan ini juga kerap dihadiri perwakilan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, yang memandang Syekh Baribin sebagai bagian dari trah Majapahit yang dihormati.
Seorang peziarah asal Dawuhan, Banyumas, Soleh, mengaku rutin berziarah ke Makam Syekh Baribin di Gunung Grenggeng. Soleh ‘nyekar’ bukan untuk meminta sesuatu, melainkan untuk hormat dan mengenang keteladanan sosok penting itu.
“Niat saya datang untuk tawasul dan mendoakan Beliau. Ini bentuk penghormatan kepada tokoh yang berjasa menyebarkan Islam, bukan untuk meminta hal-hal duniawi,” ujarnya.
Juru kunci makam Romelan Atmo Suwito kerap mengingatkan bahwa ziarah harus dilakukan dengan adab yang benar.
“Ziarah itu untuk mendoakan dan mengingat kematian. Jangan sampai niatnya melenceng dan merusak akidah,” pesannya.
Setelah berdoa, bertawasul dan hening sekitar satu jam lamanya, kami mengamati kompleks makam, termasuk bagan silsilah Syekh Baribin yang sangat panjang, dan melahirkan nama-nama pemimpin besar dari zaman ke zaman. Setelah mengambil dokumentasi sepenuhnya, kami pun mohon diri.
Jejak Syekh Baribin yang dikenal juga sebagai ‘Mbah Grenggeng’ memang layak diteladani. Beliau dikenal sebagai tokoh yang mengajarkan kebajikan, suka menolong sesama yang membutuhkan. Kehadirannya membawa keberkahan masyarakat hingga kini.
Bagi banyak pengunjung, Grenggeng bukan sekadar tempat ziarah, melainkan ruang untuk tafakur, meningkatkan ketaqwaan sembari bermuhasabah diri tentang perjalanan hidup masing-masing.
Editor: Kendi Setiawan


