Dark
Light
Dark
Light

Toko Buku-Toko Kelontong

Toko Buku-Toko Kelontong

Sebuah tempat kurang sempurna tanpa toko buku, begitulah yang ditulis Gabrielle Zevin dalam novelnya The Storied Life of A.J. Fikry. Saya percaya dan sungguh yakin memang demikian adanya. Tetapi di banyak kota di Indonesia, saya melihat sebaliknya. Jalanan penuh toko kelontong. Hampir di setiap gang ada, tapi toko buku jarang, bahkan tidak ada sama sekali.

Di satu kabupaten kecil di Jawa, saya bertanya kepada teman: “Di mana toko bukunya?” Ia tertawa pendek. Jawabnya, “Tidak ada. Kalau mau beli buku, harus ke kota besar. Satu jam perjalanan.”

Kabupaten itu riuh dan ramai. Ada pasar, bank, apotek, warung kopi, berjajar toko kelontong, toko buku tidak ada. Rasanya kok ada yang bolong. Toko kelontong menjual apa yang dibutuhkan sehari-hari: beras, minyak goreng, gula, rokok, mi instan, sabun. Semua seakan ada.

Anak-anak keluar sekolah, membeli permen, sosis dan ciki di warung. Mereka bisa menemukan pensil atau mainan plastik. Tapi tidak ada buku cerita, novel remaja, atau buku dongeng.

Di kota besar, toko buku berdiri di mal. Lampunya menyilaukan, raknya berderet panjang. Udara di dalam dingin, terkadang ada kafe kecil di sudutnya. Orang datang, berjalan di antara rak, menyentuh kover buku, tak jarang membolak-balik halaman. Aroma kertas mengisi ruang. Itu menyenangkan. Tapi suasana itu jarang ditemukan di kota kecil atau kabupaten.

Kebanyakan orang di luar kota besar membeli buku lewat daring. Mereka tidak punya pengalaman berjalan di rak. Tidak ada kesempatan untuk mengambil buku secara acak lalu jatuh cinta pada kover atau isinya. Padahal, terkadang toko buku memberi ruang untuk kejutan.

Indonesia punya banyak toko kelontong. Itu fakta. Hampir di setiap dusun ada beberapa. Mereka buka pagi, tutup malam, bahkan beberapa ada yang dua puluh empat jam. Barang-barang selalu ada. Mereka bertahan karena perut selalu butuh makan. Toko buku tidak seperti itu. Buku tidak dianggap kebutuhan. Orang tidak lapar karena tidak membaca. Mereka bisa hidup tanpa buku, begitu pikir kebanyakan orang. Tapi benarkah bisa hidup tanpa membaca?

Data literasi menjawab dengan pahit. Hanya satu dari lima orang Indonesia yang membaca buku setiap hari. Empat sisanya sesekali membaca. Ada yang sebulan sekali. Ada yang jarang sekali. Ada yang hampir tidak pernah. Ketika ditanya dari mana orang tahu buku baru, jawabannya jelas: media sosial. Lebih dari separuh menjawab begitu. Hanya sedikit yang tahu dari toko buku. Artinya toko buku bukan lagi sumber utama.

Orang tahu buku dari video pendek di hp. Dari unggahan di Instagram, ulasan di TikTok. Mereka membeli buku karena rekomendasi yang viral, bukan karena mereka melihatnya di rak. Toko buku fisik kalah oleh algoritma.

Ironi ini begitu jelas. Toko kelontong ada di mana-mana, sementara toko buku jarang. Teman-teman saya bisa membeli kopi dan nongkrong sampai kelewat malam, hampir setiap hari, tapi tidak bisa membeli atau membaca novel pada waktu yang sama. Buku seakan jadi barang mewah. Membaca bukan sekadar bisa mengeja. Membaca butuh waktu, kesabaran, pikiran yang mau bekerja. Dan lebih penting: membaca butuh pemahaman.

Di sekolah, guru sering menyuruh murid membaca teks, lalu menjawab soal. Murid membaca hanya untuk menemukan jawaban. Setelah itu lupa. Membaca jadi beban. Bukan kebiasaan. Itu sebabnya banyak orang bisa membaca pesan singkat, tetapi gagal memahami berita panjang. Banyak yang cepat percaya hoaks. Membaca satu hal, memahami hal lain.

Toko buku bisa membantu memperbaiki itu. Di toko buku, ketemu bacaan panjang. Buku sastra, filsafat, ekonomi, dan sebagainya. Buku yang menuntut untuk duduk, diam, berpikir. Buku yang membuat memahami sesuatu. Tapi toko buku semakin sedikit, akhirnya buku dianggap benda asing.

Tentu saja toko buku tidak mudah bertahan. Buku tidak bisa bersaing dengan beras. Distribusi sulit. Biaya ongkos kirim mahal. Harga buku jadi lebih tinggi. Di kota kecil, orang lebih memilih beli kebutuhan pokok daripada buku. Itu wajar. Tapi tetap menyedihkan. Di toko buku besar, bisa dilihat rak yang penuh, tapi di banyak tempat lainnya, toko buku hanya tinggal nama. Toko-toko indie berjuang dengan menggabungkan kafe, diskusi, dan penjualan buku. Mereka bertahan. Tapi hidup mereka rapuh.

Mungkin pemerintah bisa membantu ongkos distribusi, sekolah bisa membuka perpustakaan yang benar-benar hidup. Mungkin komunitas bisa membuat taman baca di kampung (beberapa sudah dilakukan). Atau mungkin, di samping toko kelontong, akan ada toko kecil menjual buku. Tidak banyak. Beberapa saja. Buku cerita anak atau dongeng, buku resep, atau novel. Berbagai kemungkinan bisa diupayakan.

Anak-anak bisa melihat buku di antara permen dan mainan. Orang tua bisa membeli bacaan ketika mereka membeli beras. Toko kelontong dan toko buku bisa hidup berdampingan. Saya membayangkan suatu kota kecil atau kabupaten, ada toko kelontong di sudut jalan dan di sampingnya terdapat toko buku kecil. Warung menjual gula, minyak, rokok. Toko buku menjual cerita, imajinasi, pengetahuan. Keduanya dibutuhkan. Perut kenyang, pikiran pun begitu.

 

Saya kembali teringat kalimat Zevin. Dan itulah ironi: kita bisa selalu membeli mie instan, tapi tidak selalu bisa membeli sebuah buku.*
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo