Khutbah Jumat berjudul: “Khutbah Jum’at: Tetap Istiqamah Beribadah Pasca-Ramadan” ini menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan, agar tidak hanya menjadi rutinitas tahunan. Konsistensi ibadah bukanlah hal yang mudah, tetapi dibandingkan umat terdahulu, syariat Islam jauh lebih ringan
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الطَّاعَةَ سَبَبًا لِلْفَلَاحِ وَالنَّجَاحِ، وَجَعَلَ الاِسْتِقَامَةَ فِي الْعِبَادَةِ مِفْتَاحًا لِرِضْوَانِهِ وَجَنَّاتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُونَ الكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ . فَقَالَ اللهُ تَعَالَى، إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Ma’asyiral muslimin sidang jum’at rahimakumullah
Tidak terasa, baru kemarin kita menjalani ibadah puasa Ramadan dengan penuh kekhusyukan dan kebahagiaan. Di bulan yang penuh berkah itu, ibadah kita meningkat secara signifikan. Jika biasanya kita hanya menunaikan salat fardu lima waktu, maka di bulan Ramadan kita menambahnya dengan berbagai amalan sunnah, seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur'an, hingga bersedekah.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah tambahan ibadah tersebut hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang hanya dilakukan sekali dalam setahun? Apakah semangat ibadah kita hanya muncul ketika pahala dilipatgandakan dan dosa diampuni? Jika demikian, sampai kapan kita menjadi hamba yang transaksional, hamba yang hanya rajin beribadah saat banyak apresiasi besar dari Tuhan?
Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Fusshilat ayat 30 memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berusaha konsisten dalam menjalani ketaatan, menjaga ibadah yang telah dilakukan, serta menjauhi segala larangan-Nya.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati: dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Ma’asyiral muslimin sidang jum’at rahimakumullah
Menjaga konsistensi dalam beribadah memang bukanlah hal yang mudah. Tantangan dan rintangan, seperti rasa malas, akan selalu datang menghambat semangat dalam beramal. Namun, sebagai umat Nabi Muhammad, hal tersebut seharusnya justru menjadi pendorong semangat.
Bukankah syariat kita jauh lebih mudah dibandingkan dengan syariat umat terdahulu? Oleh karena itu, ketika rasa malas melanda, ingatlah bahwa ajaran yang kita jalani jauh lebih ringan dibandingkan kewajiban yang ditetapkan bagi umat-umat sebelumnya.
Selain itu, dalam beribadah tidak mengapa jika amal yang kita tambahkan hanya sedikit. Sebab, amal ibadah yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, bukan yang banyak tetapi terhenti di tengah jalan.
إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya, “Sungguh, ibadah yang paling dicintai oleh Allah adalah ibadah yang paling konsisten sekalipun sedikit.” (HR. Muslim)
Ma’asyiral muslimin sidang jum’at rahimakumullah
Apabila dalil di atas masih belum cukup untuk mengikis rasa malas dalam menjaga konsistensi ibadah, ingatlah nasihat Syekh Basyr Al-Kahfi dalam kitab Lathā’if al-Ma‘ārif. Beliau pernah berkata bahwa seburuk-buruknya suatu kaum adalah mereka yang hanya mengenal dan menjaga hubungannya dengan Allah ketika bulan Ramadan saja.
بِئْسَ الْقَوْم لَا يَعْرِفُوْنَ لِلهِ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
Artinya: “Seburuk-buruknya kaum adalah mereka yang hanya mengenal hak Allah di bulan Ramadan saja. Sesungguhnya, orang yang saleh adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.”
Oleh karena itu, mari kita berusaha menjaga konsistensi dalam beribadah setelah Ramadan. Meskipun amal yang kita lakukan sedikit, jika dikerjakan dengan istiqamah dan penuh kekhusyukan, itulah amal yang paling dicintai oleh Allah Swt.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيآتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، إِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ. وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَاتِ وَخُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَةِ قُدْسِهِ ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا. إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفآءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلآءَ وَالْوَبآءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدَتِنَا هَذِهِ خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَلْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِىْ الْقُرْبَى وَيَنْهَاكُمْ عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبُ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزُّ وَأَجَلُّ وَأَكْبَرُ
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Aiz Luthfi


