Dark
Light
Dark
Light

BUMN: Kami Bermain Golf, Mereka Berpuisi

BUMN: Kami Bermain Golf, Mereka Berpuisi

Tokoh di Danantara (18 Juni 2025) memberi kata-kata lekas disambar para wartawan menjadi berita. Di media sosial, kata-kata terucap tak ditulis utuh memicu anggapan mudah keliru. Tokoh itu mengatakan: “Saya tidak suka direksi yang menghabiskan waktu bermain golf di hari kerja karena itu memberikan persepsi buruk kepada masyarakat….”  Perkataan diarahkan kepada orang-orang penting (petinggi) di BUMN. Bermain golf di akhir pekan atau libur tak termasuk dalam “larangan”. Konon, bermain golf itu hak jika mahir dan berduit.

Sejak lama, kita jemu dan lelah berdebat tentang golf. Pada suatu masa, golf selalu bercerita kaum pejabat atau kaum berduit. Di jagat golf, segala tampak mahal dan mentereng. Di Indonesia, kita pernah mengetahui golf dan politik saat melihat Soeharto berada di padang golf. Presiden berasal dari desa itu pernah mengisahkan Indonesia dengan golf. Pada masa Orde Baru, golf memicu debat-debat keras.

Seribu berita dan cerita bertumbuh di padang. Konon, beragam kesepakatan politik dan bisnis biasa terjadi saat bermain golf. Orang-orang berkuasa dan berlimpah uang menjadikan padang golf sebagai tempat terindah untuk segala capaian kekuasaan dan laba. Kita pun tak ingkar terjadi jalinan asmara memicu ribut-ribut: dari keluarga sampai negara.

Kita tinggalkan masa lalu. Kita tergoda berpikir dulu mengenai BUMN. Fachry Ali dan RJ Lino (2013) mengungkapkan: “BUMN mempunyai sejarah yang panjang, memiliki budaya dan tradisi tersendiri yang lekat dengan politik dan negara. Karena itu, walau berwujud korporasi, sosok kinerja BUMN bercampur baur dengan budaya dan tradisi yang berlaku dalam dunia pemerintah atau negara. Tradisi dan budaya BUMN yang relatif berbagi dengan birokrasi ini membawa konsekuensi politik secara langsung.”

Publik memiliki pengertian umum tentang BUMN sebagai kepanjangan tangan negara dalam perekonomian. BUMN itu kerja dan laba meski publik sering mengetahui berita-berita merugi. Publik kadang bingung saat berhitung gaji para petinggi di BUMN dan kepikiran argumentasi rugi. Publik makin pusing saat mengetahui korupsi-korupsi. Situasi itu berdampak curiga dan keburukan.

Sekian hari lalu, masalah BUMN dan golf dimunculkan meski singkat. Kita enggan berpusing lagi memikirkan BUMN. Pada masa kekuasaan Joko Widodo dan Prabowo Subianto, kita bisa membedakan berita-berita bertema BUMN: baik dan buruk. Kini, kita bukan penilai saat politik makin rumit dan lakon perekonomian bikin gemetaran.

Publik paham bila para petinggi di BUMN bergaji besar. Mereka tampil sebagai kaum terhormat. Kebiasaan hadir di padang golf itu lumrah. Gaji besar dan kehormatan milik mereka. Publik boleh menjadi penonton. Kenikmatan makin diperoleh dengan pelbagai fasilitas. Sentilan disampaikan tokoh dalam Danantara itu mungkin bukan “peringatan awal” tapi tanda seru setelah kejadian-kejadian.

Kita mengaku saja tak terlalu mengerti lakon-lakon BUMN. Berita mengenai BUMN dan golf tak perlu ditafsirkan sepanjang seribu halaman. Kita beralih ke puisi saja. Usaha membaca puisi sambil memberi tafsir sembarangan. Kita berhadapan dengan puisi, bukan berita atau dokumen resmi negara.

Pada masa Orde Baru, Darmanto Jatman menggubah puisi berjudul Golf untuk Rakyat. Puisi lama tak terbaca. Kini, puisi itu hidup lagi gara-gara pemberitaan BUMN dan golf. Puisi bukan jawaban atas segala keruwetan di Indonesia. Kita sekadar membaca berharap agak waras meski terbujuk cengegesan.

Sejak dulu, Darmanto Jatman kondang dengan puisi mencampur beragam bahasa. Puisi-puisi mengandung kocak. Ia tak melulu menghibur tapi mengajak pembaca-pembaca melek politik, peradaban, kota, modernitas, dan keluarga. Darmanto Jatman berani menaruh kritik dan perlawanan. Ia kadang kebablasan mengumbar nasihat: terang dan samar.

Kita membaca puisi tanpa perlu mengikutkan masalah-masalah Danantara dan BUMN. Kita membaca puisi sembari mengingat rezim Orde Baru dan tokoh-tokoh keranjingan berada di padang golf. Kita mulai dengan pembuka: Lho Kang Karto, kok cuma ngalamun di kebun?/ Sudah pernah main golep apa belum?/ Kalau belum ya tunggu sampai dapet dawuh/ Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan/ Langsung deh dapet hole in one. Nasib orang di kebun dan tokoh kondang bergelimang uang di padang golf itu sangat berbeda. Karto, manusia menunaikan ibadah harian dan mendapat nafkah di kebun. Orang-orang di padang golf terlarang berpikir ketersediaan beras atau urusan makan untuk keluarga. Mereka dianjurkan senang dan mendapat pujian.   

Darmanto Jatman seperti mendongengi kita saat membuka kembali halaman-halaman Orde Baru. Ia fasih menguak impian dan aib-aib selama Soeharto berkuasa. Kita tak menimpakan salah mutlak kepada Soeharto. Di bawah Soeharto, ada para pejabat dan pengusaha turut menjadikan Indonesia bertaburan impian. Mereka bersekongkol tapi patuh kepada Soeharto agar Indonesia seolah sejahtera.

Puisi mengandung perlawanan tapi terbaca lucu. Darmanto Jatman menulis: Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT II di Indonesia:/ Den Mantri Jerohan ngendiko: Golf dapat meningkatkan/ kesejahteraan rakyat!/ Sedang Mantri Kanuragan bilang: Golf pertanda masyarakat/ kita sudah lebih sejahtera!/ Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang/ untuk menyejahterakan 200 juta rakyat!/ Berapa tumbal mesti dikorbankan/ untuk mengempiskan kantong-kantong kemiskinan? Kita tersentak membaca diksi “tumbal”. Dulu, para seniman dan intelektual biasa menulis istilah “tumbal” saat marah, kecewa, dan melawan kekuasaan. Romo Mangun malah menerbitkan buku tebal menjelaskan lakon Indonesia masa Orde Baru berjudul Tumbal (1994). Romo Mangun menanggapi petaka-petaka pembangunanisme dan puja-puja kapitalisme.

Golf itu kesejahteraan! Para pejabat dan pengusaha berharap itu kebenaran. Di Indonesia, orang-orang justru memasalahkan golf dan kemiskinan. Golf itu membuktikan Indonesia bergengsi di mata dunia. Acara-acara bertaraf nasional dan internasional makin menjadikan golf mengesahkan Indonesia makmur dan sejahtera berkat kepemimpinan Soeharto. Di puisi, kita pun membaca masalah “kantong kemiskinan”. Darmanto Jatman sengaja mengadakan pertentangan. Pembaca mudah “terhasut” dengan menuduh terjadi kesenjangan saat kaum parlente dan berduit di padang golf. Girang mereka mengabaikan kemiskinan tergelar di seantero Indonesia.

Puisi gubahan Darmanto Jatman tak pernah dilarang rezim Orde Baru. Puisi mengandung kritik-kritik pedas terbiarkan menghidupkan imajinasi perlawanan. Kita mengira puisi tak terbaca oleh penguasa. Darmanto Jatman memilih berpuisi agar Indonesia masih “padang imajinasi” menghasilkan bahagia atau ilusi berkepanjangan.

Pilihan membaca puisi bertema golf ketimbang berita mengenai (direksi)  BUMN itu memberi pemahaman atas sejarah. Orde Baru memiliki bab golf jangan terlupakan. Kini, golf dimunculkan lagi meski kita meributkan Soeharto dalam perkara berbeda.

Di akhir puisi, kita menemukan sejumput hikmah: Jadi perkara padang golf ini Kang Karto/ karena menyangkut kepentingan nasional/ Yang nggegirisi dan gawat keliwat-liwat/ Marilah sama-sama kita tunggu dawuh/ Siapa tahu, sekali sampeyan ayunkan stick sampeyan/ Langsung dapat hole in one/ Hadiahnya bisa buat beli loji, pengganti/ rumah sampeyan yang kegusur… Pada masa lalu, golf itu ironi. Golf mengibuli perwujudan negara sejahtera.  

Penggusuran itu klise masa lalu. Orde Baru kadang teringat sebagai “orde penggusuran” atas nama pembangunan nasional. Konon, orang-orang bernasib buruk jika terjadi penggusuran. Kebutuhan lahan atau tanah menjadikan pejabat dan pengusaha melakukan penggusuran. Kebijakan untuk mendirikan perkantoran, monumen, gedung, waduk, jalan tol, atau padang golf. Kita pun ingat pantung dibuat Emha Ainun Nadjib (1994): Kemerdekaan membuat kita bersatu/ Pembangunan melebur segala kubu/ Tanahku adalah tanahku/ Tanahmu adalah tanahku. Darmanto Jatman juga mengingatkan: Sementara Mantri Pagupon pesan: Silahkan bikin padang golf mister/ asal jangan gusur rumah rakyat! Sejak dulu, golf itu masalah dan masalah di Indonesia. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo