Dark
Light
Dark
Light

Sukacita ‘Malam Pertama’

Sukacita ‘Malam Pertama’

Bulan suci datang, orang-orang memiliki kebahagiaan atas ibadah-ibadah. Pada malam hari, sukacita itu sholat tarawih. Konon, kebersamaan di masjid untuk beribadah dan berbagi cerita. Masjid memang ramai menandai Ramadan dengan peningkatan jumlah jamaah.

Di cerita berjudul “Tarawih”, Chairil Gibran Ramadhan (2004) menguak suasana (batin) para tokoh saat Ramadan: “Lepas maghrib, ia dan suaminya segera menyiapkan pakaian yang nanti dipakai tarawih. Bahkan, sejak kemarin pagi, ia sudah merendam sajadah, baju koko, sarung dan peci hitam milik suaminya, serta mukena, sajadah dan baju kurung miliknya sendiri – terbagus yang pernah mereka miliki – di dalam bak plastik biru berisi air bercampur deterjen seharga 500 perak, yang katanya harum dan lembut di tangan.”

Kegembiraan terwujud dengan ibadah. Persiapan dilakukan agar kenikmatan beribadah tercapai. Benda-benda diceritakan ikut menentukan “keseriusan” mengalami Ramadan. Mencuci menjadi peristiwa bertajuk hasrat bersih atau suci. Pada saat ikut tarawih, jamaah ingin memasrahkan jiwa-raga meraih pahala dan mendapat berkah.

Ramadan berisi pengharapan. Kita bisa mengerti keinginan orang-orang mengikuti sholat isya dan tarawih berjamaah di babak awal Ramadan. Mereka dalam pengharapan berpijak keimanan. Rajin beribadah itu baik. Pengharapan besar di awal: “Ia harus cepat-cepat tiba di masjid malam ini. Ia tidak mau tak kebagian tempat seperti tarawih malam pertama tahun lalu, sholat di pinggir selokan dekat tempat wudhu perempuan. Di kampungnya dan di mana-mana, ia tahu, malam pertama tarawih pasti akan seperti itu. Orang meluber hingga ke halaman masjid dan mushola, bahkan sandal-sandal ditutupi sajadah. Anak-anak, remaja, dewasa, tua renta, semua pergi tarawih.”

Cerita itu dialami ratusan atau ribuan orang. Pengalaman “malam pertama” itu membuktikan sukacita Ramadan. Hari-hari berganti, jamaah perlahan berkurang. Mereka mungkin lelah. Mereka memiliki beragam alasan. Cerita gubahan Chairil Gibran Ramadhan terbaca lagi saat kita memasuki babak awal Ramadan. Kita seperti tokoh dalam cerita: memiliki kesibukan dan mengejawantahkan semagat keimanan di bulan suci. “Malam pertama” mengikuti sholat jamaah seolah penentuan dalam derajat iman dan sukacita meramaikan masjid.

Andre Moller dalam buku berjudul Ramadan di Jawa (2005) ikut merekam babak awal bulan suci. Ia menjelaskan tentang masjid atau mushola penuh sesak oleh jamaah: “Maka, ini merupakan saat yang sangat baik untuk interaksi sosial, suasana dipenuhi kegembiraan, kemenangan dan takwa…” Malam-malam bersukacita dalam ibadah kadang disisipi debat berulang. Kita menginsafi debat lama itu mengenai jumlah rakaat dalam sholat tarawih.

Di desa atau kampung, orang-orang menandai sekian masjid. Mereka mengetahui kebijakan pengurus masjid dalam mengadakan shalat tarawih berupa jumlah rakaat. Orang ingin shlat “singkat” atau “lama” berhak memilih melangkahkan kaki ke masjid berdasarkan kebiasaan penentuan jumlah rakaat. Jumlah itu membuat orang-orang berlaku saling menghormati ketimbang mencari pengakuan “paling” benar. Pada abad XXI, debat jumlah rakaat itu masih berlaku.

Kita kembali ke cerita “Tarawih”. Di situ, kita mengetahui perubahan di babak pertengahan dan akhir Ramadan. Pengarang mengisahkan: “… semakin hari puasa berjalan, jumlah jamaah tarawih akan semakin berkurang. Selalu seperti itu. Orang tidak lagi meluber hingga ke halaman masjid dan mushola.” Sekian tuduhan diajukan saat orang-orang tak lagi meramaikan masjid: “kekenyangan berbuka puasa.” Shalat tarawih memang menjadi tanda “ramai” dan “sepi” mengalami hari-hari di bulan suci.

Bersumber pelbagai pustaka beredar di Jawa, Andre Moller mencatat hikmah Ramadan berupa pengampunan dosa-dosa. Orang-orang ikut shalat tarawih bisa mengandaikan dalam kondisi seperti “dilahirkan oleh ibu” dalam kondisi suci. Segala janji dan hikmah Ramadan memberi keteguhan dalam beribadah. Andre Moller menjelaskan pengalaman keberagamaan di Jawa: “Dengan janji Ilahi seperti itu kita dengan lebih mudah dapat memahami semangat umat Islam di Jawa untuk memenuhi masjid-masjid pada malam Ramadan. Siapa yang tidak mau disediakan sebuah istana cahaya di surga?”  

Pemahaman tentang Ramadan memang mula-mula dapat merujuk “malam pertama” dengan cerita shalat tarawih berjamaah. Siti Musdah Mulia (2013) turut mengenang diri saat masih bocah dan remaja: “Sholat tarawih merupakan tradisi yang sangat kuta, dilakukan secara berjamaah di masjid, baik lelaki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan miskin. Semuanya berbaur menjadi satu… Ketika di kampung, kalau ada orang yang berada di luar masjid pada jam-jam sholat tarawih pasti ia bukan orang alim.”

Di kalangan anak, kedatangan ke masjid untuk ikut shalat tarawih disempurnakan dengan “iseng”. Kita mengikuti masa lalu Siti Musdah Mulia: “Bagi saya, sholat tarawih adalah momen yang sangat istimewa. Saya dapat bertemu dengan banyak orang. ini membuat saya sangat senang. Kadang kami berangkat dari rumah ke masjid dengan membawa makanan atau kue yang dibungkus dalam sarung. Setelah shalat, kami mendengarkan ceramah sambil mengemil.” Pengalaman dan suasana itu menggembirakan ketimbang berisi keluhan atau penderitaan. Sholat tarawih turut menentukan biografi dalam beragama dan menguak sukacita jamaah terutama saat “malam pertama”. Begitu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo