Ronaldo hampir membuat seribu gol. Ia menanti hari terjanjikan sebagai sosok “tersakti” di dunia. Gol-gol menghasilkan pujian. Tahun-tahun berkeringat dialami memberi girang dan siksa. Ronaldo itu sepak bola. Ia mengisahkan dunia dengan tendangan dan sundulan. Bola bergerak dan melesat untuk menambah catatan jumlah gol.
Kini, Ronaldo ingin mencipta “gol perdamaian” di dunia. Ia tak berada di Amerika Serikat saat klub-klub terbaik bersaing menang dalam Piala Dunia Antarklub. Konon, ketiadaan Ronaldo menjadikan stadion-stadion kurang gereget. Ribuan penonton masih melihat Messi, Dembele, Mbappe, dan lain-lain. Ronaldo tak ikut menendang bola tapi “hadir” di Amerika Serikat.
Di berita besar, kita mengetahui Ronaldo memberikan kaos tim nasional Portugal untuk Trump. Penguasa rajin omong besar mendapat kaos bertanda tangan Ronaldo. Di situ, ada pesan dicantumkan bermisi perdamaian dunia. Kaos sebagai hadiah tak wajib dikenakan Trump untuk berlari di atas rumput. Trump bukan pemain sepak bola meski ia “sah” menjadi penendamg “bola perdamaian”. Ronaldo berharap Trump memihak perdamaian, bukan membarakan perang atau tebar sesumbar penuh kebohongan.
Trump memilih tak sibuk menjadi penonton sepak bola di stadion. Amerika Serikat sedang menjadi pusat kemuliaan sepak bola. Trump sibuk memikirkan Amerika Serikat dan dunia. Ia kesulitan mendapatkan waktu senggang untuk menikmati gol-gol di Amerika Serikat. Trump mustahil mengenakan kaos pemberian Ronaldo dalam pembuktian menghormati sepak bola dan impian perdamaian dunia. Trump mengenakan busana kebesaran dalam mengurusi Israel, Palestina, dan Iran.
Amerika Serikat sedang ramai bola saat kita tergoda mengingat demokrasi dan kapitalisme. Negara itu menjadi sumber dan panutan meski lumrah panen cemooh. Pada abad XXI, Amerika Serikat tetap ingin menjadi kiblat demokrasi dengan pelbagai gagal dan aib, Amerika Serikat itu demokrasi, belum sepak bola.
Di buku berjudul Ethos Amerika (1988) susunan Herbert M dan John Zaller, kita mengenang kesilaman: "Betapapun pentingnya peranan demokrasi dan kapitalisme dalam kehidupan Amerika Serikat, tidak semua nilai yang terkandung dalam ethos ini saling konsisten dan serasi.” Demokrasi tetap janji terbesar. Kapitalisme tak selalu menang. Trump kadang marah-marah atas lakon kapitalisme Amerika Serikat diejek dan dirongrong negara-negara lain. Kini, ethos itu merapuh saat sepak bola sedang dipentingkan menjadi sejenis industri di Amerika Serikat. Kita menunggu maklumat mengenai etos sepak bola bersanding misi perdamaian dunia.
Amerika Serikat itu Trump. Kita perlahan tak lagi memikirkan ethos telah mewujud sejak ratusan tahun silam. Pengiriman kaus berisi pesan Ronaldo sedikit memberi pengharapan perang tak membuat dunia merana. Di situ, ada pemuliaan sepak bola agar dunia jangan hancur oleh rudal atau bom. Bola itu indah ketimbang letusan dan ledakan berakibat kematian.
Trump dianggap menentukan nasib dunia. Ronaldo pun pesona dunia dan berperan mengartikan sepak bola dalam perdamaian dunia. Kita dalam hari-hari menegangkan tapi selebrasi bola digelar di Amerika Serikat. Jutaan manusia mengarahkan tatapan ke Amerika Serikat tapi sulit menutup mata untuk pertunjukan saling serang antara Israel dan Iran. Gol-gol terus tercipta di stadion berbarengan keguncangan politik-perdamaian dunia.
Politik memerlukan tafsir. Di buku berjudul Tafsir Politik (2002) garapan Michael T Gibbons, ada ajakan memberi tafsir mutakhir atas segala selaras dan sengketa di dunia. Politik terang dan gelap membuat kita sulit menghasilkan makna atau konklusi. Pada abad XXI, politik makin pelik. Peringatan bisa untuk pegangan: "Selama beberapa dekade terakhir hingga sekarang, terutama di Barat, banyak bermunculan sejumlah teoretikus politik dan sosial yang berasumsi bahwa penyelidikan terhadap politik dan sains sosial pada dasarnya bersifat interpretatif.”
Peringatan itu mengajukan hermeneutika bagi orang-orang memandang dan mengalami politik global. Pada tafsir politik, kita susulkan tafsir sepak bola dalam memandang dunia. Gol itu menakjubkan ketimbang pidato-pidato mengumbar kebencian dan munafik. Politik bukan harus gelaran perang untuk menang.
Kita condong memilih sepak bola dan menolak perang. Ronaldo sudah memberi pesan saat ia bukan pembuat gol di Amerika Serikat. Trump justru mencerewti dunia tanpa tanda-tanda menghendaki perdamaian. Dunia mengandung rumit gara-gara perang sambil kita menanti pemenang dalam Piala Dunia Antarklub di negara bertuan Trump.
Pada hari-hari tanpa janji indah, kita berada di Indonesia untuk melihat Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kita mudah memuji Ronaldo dan “membenci” Trump. Segala anggapan mendingan ditunda agar kebaikan-kebaikan masih mungkin diselenggarakan di dunia. Kita menanti hari-hari perdamaian sambil membaca puisi-puisi mengisahkan sepak bola gubahan Hasan Aspahani.
Di puisi berjudul Solilokui Sang Bola Kaki, 1, kita terseret renungan: Kalau bola harus memakai kostum, berapa/ nomor punggung yang cocok untuknya?// Bergembira atau bersedihkan hati bola/ ketika seorang pemain berhasil bikin gol?// Siapa yang tahu betapa inginnya bola kaki/ ikut bersorak di antara penonton itu?/ Kepada siapa bola harus meminta, betapa/ inginnya ia mengecup piala bagi sang juara? Puisi tak dipersembahkan kepada Ronaldo. Puisi belum sempat dibaca oleh Trump. Kita sekadar membaca penggalan saja sambil menanti kabar-kabar baik di dunia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


