Dark
Light
Dark
Light

Ritual Mudik, Perjalanan Menghargai Arti Pulang

Ritual Mudik, Perjalanan Menghargai Arti Pulang

Dengan langkah pasti, Sardi setengah melompat turun dari gerbong kereta di Stasiun Purwokerto, Rabu dinihari, 2 April 2025. Usianya tak lagi muda, 58 tahun, tapi kegesitannya tak kalah dengan pemuda yang sebaya dengan anaknya. Maklum, sejak lulus Sekolah Dasar, ia langsung merantau dan menetap di Jakarta, ibu kota dengan segala tantangan yang sanggup ia hadapi. Wajahnya tampan dengan postur tubuh tinggi tegap, tampak menonjol di antara arus penumpang yang sedang menuju pintu keluar.

Ada dua rumah yang dituju, yakni orang tuanya di Pekuncen dan mertua di Wangon Banyumas. Kangen yang meronta-ronta pun terbayar sudah, setelah ia sungkem di pangkuan orang tua, dan kerabat. Sudah tiga lebaran ia tak mudik, dan pada hari ketiga Idul Fitri ini, tunailah keinginannya untuk berkumpul dengan keluarga di kampung.

Lain lagi cerita Soleh. Ia dan istri tercinta rela terombang-ambing seminggu lamanya di kapal laut, yang mengantarnya ke tanah Jawa. Ia dan orang tua bertransmigrasi dari Banyumas Jawa Tengah ke Halmahera Maluku pada 1986. 

 

Soleh remaja bersama adik perempuan yang masih kecil tumbuh dan menyatu dengan Maluku. Tapi ikatan batin dengan tanah tumpah darah di Banyumas tetap menyala. Setiap ada rezeki ia selalu menyempatkan menengok para kasepuhan dan saudara di Banyumas. 

Menyambut lebaran 1446 hijriyah, jauh-jauh hari ini telah memasan tiket kapal dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Tiket kapal kelas ekonomi seharga Rp 800 ribu untuk satu orang hampir ludes jika ia tak gercep memesan lewat aplikasi. Tahun-tahun sebelumnya,  ketika ada rezeki cukup, ia tak sayang memilih naik pesawat yang harga tiketnya bisa tiga-empat kali tiket kapal laut. Belum ongkos untuk transport lokal dan biaya hidup selama perjalanan. 

Jika dihitung, tak sedikit pengorbanan yang harus dikeluarkan, namun semua perjuangan itu sebanding dengan rasa kangen yang terobati ketika bertemu saudara di kampung, serta nyekar para leluhur yang telah mendahului.

Sementara itu, Ahmad Syukur dari Banjarnegara tahun ini merasa bersyukur karena ia bisa ikut program mudik gratis dari pemerintah. Di saat para pemudik lain asyik berebut di padatnya lalu lintas dan terbatasnya tiket angkutan umum, Ahmad bisa duduk berleha-leha dalam bus yang nyaman dan semua ditanggung pemerintah. Sampai di terminal bus, masih disambut oleh para pejabat daerah. Nikmat mana yang engkau dustakan, katanya.

Mengapa Harus Mudik?
Mudik itu berat, tapi semua orang mau. Setiap tahun, menjelang Idul fitri, jutaan orang di Indonesia berbondong-bondong meninggalkan kota-kota besar di Indonesia, bahkan luar negeri, untuk sejenak kembali ke kampung halaman. Tak sedikit ongkosnya, dan tak kecil risikonya. Pemudik bukan hanya membawa diri, namun juga harta benda dan barang bawaan. Banyak ancaman di perjalanan. Selain aksi kejahatan, pemudik bisa mengalami kelelahan, kecelakaan, atau bencana alam. 

Namun, semua itu tak menyurutkan para pemudik. Ya, bagi kaum perantau, mudik itu lebih dari sekadar pulang. Bukan hanya soal pulang ke kampung halaman, namun perjalanan spiritual dan emosional yang menghubungkan perantau dengan akar budaya dan rumah besar keluarganya. 

 

Bagi perantau, kota besar menawarkan kesempatan, tetapi juga menuntut pengorbanan. Jarak yang tercipta dengan orang tua, saudara, dan sahabat lama di kampung halaman, diurai dalam perjalanan kembali. Maka, mudik menjadi momentum untuk meneguhkan identitas dan merajut kembali ikatan sosial yang sempat renggang akibat kesibukan di perantauan.

Mudik menjadi katarsis yang efektif, memberikan jeda dari rutinitas, serta menyegarkan kembali pikiran dan perasaan. Berada di lingkungan yang lebih tenang, bertemu orang-orang yang menyayangi tanpa syarat, serta menikmati suasana kampung halaman dengan seribu kenangan, adalah terapi alami yang sangat dirindukan kaum urban. Tak heran, banyak pemudik yang merasa lebih segar dan termotivasi setelah kembali ke kota usai berlebaran.

Pelepasan Beban Psikologis
Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam B Prasodjo, berpendapat bahwa mudik bagi para perantau memiliki berbagai alasan, tidak hanya dalam rangka halal bihalal lebaran. Orang rela mengeluarkan uang untuk pulang dengan membawa banyak barang di tengah lalu lintas yang ramai dengan jarak tempuh yang jauh.

Tokoh kelahiran Purwokerto yang menikmati masa kecilnya di Desa Merden, Banjarnegara ini pun rajin menengok saudara dan leluhurnya. Bagi Beliau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi sebuah kebutuhan yang menyentuh aspek emosional dan psikologis. Mudik adalah panggilan hati yang memperkuat rasa kebersamaan dan identitas kolektif. 

Menurut aktivis lingkungan ini, di tengah mobilitas sosial yang tinggi, ritual mudik menjadi jembatan untuk menjaga koneksi emosional dan memperkuat jaringan sosial antara individu dan komunitasnya. Imam Prasodjo juga salah satu tokoh yang pernah menyuarakan kepada Presiden agar mudik lebaran tidak menjadi bencana massal. 

Sementara itu menurut Gus Wakhid, tokoh NU yang kini menjabat Wakil Bupati Banjarnegara, mudik bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah kebutuhan batin yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Tradisi halal bi halal, menurutnya, hanya ada di Indonesia, yang merupakan tradisi yang luar biasa tentang bagaimana kita saling memaafkan, mendoakan, dan saling mensuport satu sama lain.

Untuk itu ia berharap kepada kaum perantau yang akan mudik maupun balik ke kota untuk menjaga dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sebagai pemimpin daerah, ia juga mengharapkan pergerakan ribuan orang dari kota ke desa membawa manfaat ekonomi yang signifikan ke daerah asal. Baik dari sektor transportasi, makanan, oleh-oleh, akomodasi dan jasa lainnya.

Mudik bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah kebutuhan mendasar yang menyentuh aspek batin. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kaum urban, masih ada rumah untuk pulang walau sederhana. Masih ada saudara dan keluarga tempat curhat yang menyayangi tanpa syarat. Juga kenangan di kampung halaman yang terus bermain di angan-angan. 

Bukan hanya soal tradisi, mudik adalah tentang menjaga keseimbangan, antara perihnya perjalanan mencari kehidupan, dan beratnya menemukan kembali arti pulang. Siapa berangkat pasti ingin kembali. Ke rumah besar yang menyimpan sejuta cerita.

Kupat kecemplung santen, sedaya lepat nyuwun pangapunten.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo