Dark
Light
Dark
Light

Gagasan tentang Keluarga: Film 1 Kakak 7 Ponakan, Arswendo Atmowiloto, dan Surat Kartini

Gagasan tentang Keluarga: Film 1 Kakak 7 Ponakan, Arswendo Atmowiloto, dan Surat Kartini

Saya dan lima orang teman kerja, sudah sejak jauh hari menyepakati akan menonton film 1 Kakak 7 Ponakan (2025) selepas gajian, tepatnya akhir bulan. Gagasan itu muncul karena potongan kalimat dan beberapa scene dari film tersebut lalu lalang di sosial media tanpa henti. Kata yang paling banyak disebut adalah 'Generasi Sandwich'.

Jumat sore lalu (31/1/2015) kami mantap pegi ke Solo Paragon. Saya sudah menyediakan tisu satu gulung di dalam tas. Dugaan saya, selain menonton pasti akan ada adegan menangis di bioskop. Dari judulnya saja sudah membuat mata pilu 1 Kakak 7 Ponakan, belum lagi kavernya yang semakin menambah keyakinan: film bergenre cengeng.

Konon, film itu mengisahkan kondisi seorang anak yang harus memikul tanggung jawab membiayai hidup banyak orang secara bersamaan. Film digadang-gadang menjadi cermin dari jutaan anak muda yang mengalami nasib serupa.

Setelah tuntas menonton, saya senang karena tisu yang dibawa tidak sia-sia. Prediksi ngawur itu ternyata benar. Film itu lebih sedih dari yang saya perkirakan, meskipun tidak sesuai ekspektasi. Saya pikir akan banyak orang menangis karena kasihan melihat tokoh utama harus banting tulang menghidupi banyak orang, tapi ternyata keliru. Yang lebih mengharukan dari hal itu adalah melihat kehangatan di dalam keluarga meski dalam kondisi sulit.

"Maaf, ya."

"Terima kasih, Kak."

"Makan bareng yuk, Kak."

Tiga kalimat di atas adalah beberapa ungkapan dari banyak kalimat yang sangat hangat diterima telinga. Keluarga Moko memang dilanda kesulitan, tetapi rumah itu tidak menjadi neraka. Di dalamnya tetap penuh kesejukan dan cinta. Rumah itu mengandung buku bacaan, musik, lagu, dan tatapan mata penuh kasih sayang.

Sebenarnya, esensi film 1 Kakak 7 Ponakan (2025) tidak jauh berbeda dengan Keluarga Cemara (2018). Keduanya diadaptasi dari karya Arswendo Atmowiloto yang membawa misi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga pembentukan keluarga Indonesia. Kedua film tersebut disutradarai oleh Yandy Laurens. Isinya begitu apik, menebarkan gagasan keluarga ideal yang diharapkan oleh banyak orang.

Mundur ke belakang, barangkali Arswendo terinspirasi oleh Edith Nesbit yang menulis The Railway Children (1905). Novel klasik itu menjadi salah satu rujukan prototipe keluarga ideal Inggris yang menampilkan kisah nyaris serupa. Sebuah keluarga yang diguncang permasalah besar, tetapi tetap bahagia dengan tumpukan kasih sayang meski dilanda kesulitan ekonomi.

Selama ini, mungkin keluarga banyak dipahami sekadar kehadiran secara fisik, misalnya ada ayah, ibu, dan anak. Jika semuanya hadir di bawah satu atap, meski tidak ada percakapan, sentuhan, dan keakraban, sudah sah disebut keluarga. Padahal, arti keluarga melampaui hal itu. Keluarga adalah tempat kembali baik secara fisik maupun batin. Di sana tempat manusia berasal, dan di sana pula tempat manusia kembali.

"Kita itu keluarga, enggak ada yang namanya nyusahin, apalagi beban.” Demikian salah satu kutipan dalam film garapan Yandy Laurens.

Saya menemukan semacam benang merah antara film 1 Kakak 7 Ponakan (2025), Keluarga Cemara (2018), dan novel The Railway Children (1905). Tiga karya tersebut ikut terlibat dalam pembentukan keluarga di negaranya masing-masing. Banyak orang berhutang rasa terima kasih pada para pengarang, karena berhasil menyuarakan impian dari jutaan anak yang mendambakan kasih sayang di rumah.

Keluarga memiliki peran besar terhadap kesehatan fisik dan mental seorang anak. Flavia Izzo lewat penelitiannya bertajuk Children’s and Adolescents’ Happiness and Family Functioning: A Systematic Literature Review menemukan kesimpulan bahwa ada keterkaitan positif antara kebahagiaan dan fungsi keluarga. Hubungan yang erat dan komunikasi yang hangat sangat mempengaruhi kebahagiaan anak-anak dan remaja. 

Menelisik dari sisi sejarah, isu seputar keluarga sebenarnya sudah dibicarakan ratusan tahun lalu, saat Nusantara masih dalam balutan feodalisme dan kolonialisme. Kartini turut mendokumentasikan situasi keluarga di zamannya lewat sebuah surat kepada Stella Zeehandelaar (18/8/1899).

Ia menulis: “..Oh Stella, sekali waktu engkau harus melihat bagaimana di kabupaten-kabupaten lain kakak beradik hidup berdampingan! Mereka bersaudara karena mereka adalah anak-anak yang se Ayah dan se Ibu; tidak ada ikatan lain yang menyatukan mereka, kecuali ikatan darah. Kakak beradik hidup bersama-sama kadang-kadang tidak tampak sebagai kakak dan adik, kecuali di raut kedua wajah mereka, yang menunjukkan bahwa mereka adalah saudara.”

Gadis Jawa itu mengkritik ketetapan adat yang begitu pelik mengatur interaksi antar saudara. Ia menggambarkan kerumitan itu tidak hanya terjadi pada cara berbicara tetapi juga penggunaan bahasa, gerak tubuh, posisi kepala, dan prosesi ‘sembah’. Pada akhirnya, Kartini memilih untuk menaati segala peraturan sopan santun kepada kakak laki-laki dan perempuannya, tetapi pada adiknya, ia membatalkannya.

Kartini menorehkan pikirannya: “…mulai dari saya ke bawah kita putuskan sepenuhnya adat kami. Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan! Adik-adik bergaul dengan saya dan satu sama lain sebagai kawan yang bebas dan setara. Tidak ada kekakuan di antara kami, hanya persahabatan dan keramahan yang dapat dilihat dalam hubungan kami satu sama lain.”

Hingga kini, setelah lebih dari seabad surat itu ditulis, gagasan tentang keluarga di Indonesia masih terus mencari tempat. Perubahan waktu dan arus informasi yang pesat menjadi tantangan pelik untuk menemukan konsep keluarga ideal yang kontekstual dengan zaman. Harapannya, persoalan ‘keluarga’ bisa menjadi perbincangan yang luwes, baik bagi para pemangku kebijakan, tokoh agama, akademisi, sastrawan, sineas, maupun masyarakat umum.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo