Soeharto (sangat) dicintai anak-anak di seantero Indonesia. Soeharto adalah idola, mengalahkan ratusan tokoh pada masa Orde Baru. Anak-anak malah hampir memuja Soeharto bila segala impian pembangunan nasional terwujud. Soeharto berkuasa (lama) di Indonesia untuk mencipta cerita (terindah) dimiliki jutaan anak. Politik cap Orde Baru telah berhasil menjadikan anak-anak bertepuk tangan untuk segala kebijakan Soeharto.
Kemarin, 10 November 2025, orang-orang geram mendapat pengumuman bahwa Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Mereka lekas membuat komentar mengandung kecaman, kritik, dan sesalan. Ribuan kalimat muncul dan beredar di media sosial pada hari untuk sejarah heroisme Indonesia: 10 November 1945. Selebrasi itu mendapat serbuan kalimat berisi penolakan atas penetapan Soeharto dalam album pahlawan Indonesia.
Pada saat pengumuman dan keramaian tanggapan, anak-anak masih berada di sekolah atau rumah. Mereka belajar ilmu-ilmu. Di rumah, mereka mungkin bermain bareng teman-teman atau sibuk dengan gawai. Mereka belum perlu mengikuti berita-berita di televisi. Anak-anak tak ada kewajiban ikut memberi tanggapan atas situasi absurd di Indonesia.
Mereka berbeda dengan anak-anak masa Orde Baru. Dulu, anak-anak keseringan mengikuti berita-berita bertokoh utama Soeharto. Tugas dari guru kadang mengharuskan mereka mengenal dan mengakrabi Soeharto sebagai tokoh terpenting di Indonesia demi penciptaan kemakmuran dan kesejahteraan. Kekuasaan merasuk dalam agenda-agenda pendidikan, menempatkan anak-anak sebagai penonton, penggemar, dan pemuja. Mereka dalam manipulasi kekuasaan tapi tak ada kesanggupan melakukan penghindaran dan perlawanan.
Pembentukan anak-anak dalam kepatuhan rezim Orde Baru dilakukan melalui upacara, lomba, permainan, gambar, lagu, film, buku, dan lain-lain. Indonesia masa lalu, Indonesia dalam kegembiraan anak-anak dalam lakon kekuasaan. Soeharto ingin anak-anak turut dalam pelaksanaan UUD 1945, Pancasila, dan GBHN. Mereka dianggap penentu masa depan Indonesia bila memenuhi kaidah-kaidah dibuat oleh rezim Orde Baru.
Bukti dari masa lalu itu buku berjudul Anak Indonesia dan Pak Harto (1991) digarap oleh Tim Dokumentasi Presiden RI. Buku itu warisan “terindah” dari Orde Baru bila kita membaca sambil pusing memikirkan misi dan argumentasi penetapan Soeharto sebagai pahlawan. Membuka dan membaca buku itu seolah menguak lembaran-lembaran sejarah mengandung politisasi anak-anak. Orde Baru ingin teringat berhasil dan menang. Anak-anak diajak turut mengesahkan segala capaian sambil “menutupi” kegagalan dan keburukan.
Anak-anak berkomunikasi dengan Soeharto melalui surat. Pada 1984-1989, terkumpul 43 ribu surat. Kita jangan selalu mengenang para mahasiswa melakukan demonstrasi mengoreksi kebijakan-kebijakan Orde Baru. Kita boleh mengenang para seniman dan intelektual berani mengungkap kritik meski sadar pelbagai hukuman. Ingatan kita juga harus mengarah kepada anak-anak. Pada masa 1980-an, pembentukan “rezim surat” terselenggara agar anak-anak tak perlu mengikuti ulah kaum dewasa menghadapi kekuasaan.
Editor menjelaskan: “Kertas yang dipakai untuk menulis, banyak yang menggunakan sobekan dari buku sekolah, bergaris biru yang bisa segera dikenali dari dua lubang bekas jilid dengan kawat di tepi kiri. Sebagian yang lain memakai kertas surat aneka warna. Melihat bahwa surat-surat ini datang dari pelbagai pelosok tanah air, keakraban itu terasa merata, melewati batas surat dari kota besar, sedang, kecil atau dari desa.”
Pada suatu hari, ada narasumber bilang bahwa Soeharto tak memiliki kebiasaan membaca buku atau menikmati koran-koran edisi pagi. Soeharto terlalu sibuk. Soeharto telanjur dicap bukan pembaca tulen. Semua tuduhan itu dibantah Soeharto. Ia membuat keterangan tulisan tangan ikut dicetak di buku. Soeharto menulis di kertas berlogo resmi kepresidenan.
Kita membaca tulisan tangan indah dibuat oleh tangan penguasa, 11 Maret 1991:
“Puluhan ribu surat dari anak-anak Indonesia telah saya terima yang isinya tentu tidak terlepas dari sifat kekanakan, tetapi cukup berani mengemukakan isi hatinya dan menyampaikan keinginannya.”
Apakah kedatangan puluhan ribu surat itu menjadikan Soeharto sebagai pembaca? Soeharto membentuk tim untuk membaca, berlanjut membuat laporan agar “politik-perhatian” terwujud kepada anak-anak di seantero Indonesia.
Di lakon besar kekuasaan, anak-anak mendapat “tempat” bagi Soeharto dalam menentukan arah pembangunan nasional. Soeharto itu tokoh terbesar bagi anak-anak. Soeharto selalu “melihat” anak-anak di desa dan kota gara-gara foto resmi dan cakep dipasang di pelbagai tempat. Di kelas atau kantor guru, anak-anak itu melihat foto Soeharto selalu terpasang di dinding meski terjadi sekian pemilu. Soeharto tetap saja presiden. Soeharto tetap “melihat” anak-anak belajar agar pintar dan ambil peran dalam pembangunan nasional.
Soeharto memang foto. Di mata anak-anak, Soeharto itu tokoh sering dimunculkan di televisi atau TVRI. Anak-anak suka menonton film tapi acara-acara resmi kenegaraan tetap disiarkan berakibat anak-anak memastikan “bintang utama” televisi itu Soeharto. Tugas berat kadang melelahkan dan membosankan anak-anak saat guru ingin menerima catatan atau laporan dari menonton pembangunan nasional di televisi. Foto dan televisi makin meresapkan imajinasi kekuasaan meski anak-anak memiliki hero-hero berbeda dalam film berasal dari negara-negara asing.
Kita mengutip isi surat ditulis anak beralamat di Medan. Surat agak menghibur dan berani. Ia tak memberi sapaan “bapak” tapi “om”. Pada masa lalu, orang-orang susah memanggil “Bung Harto”. Konon, sebutan masih pantas ditujukan pada menteri: “Bung Harmoko”. Sejak dulu, sapaan resmi itu Bapak Soeharto. Penguasa itu sulit dan aneh bila dipanggil “bung”. Kita mengingat “bung” belatar masa revolusi.
Isi surat dari Medan:
“Aku bertekad bersurat kepada Om setelah menyaksikan penampilan Om di layar televisi kami ketika berbicara dalam kesempatan silahturahmi dengan DPR… Di situ, Om tampil sangat gagah, terutama aku rasa karena Om pakai kemeja batik. Sungguh tak kurang resmi tampaknya bahkan sangat nasional di mata aku dan saudara-saudaraku. Om, beberapa tahun yang lalu, aku telah pikirkan soal baju batik ini berbanding jas/dasi. Setiap kali aku lihat Om dan pembesar-pembesar lain muncul dengan jas/dasi, hati aku bertanya, mengapa tidak berani memakai batik saja, padahal batik itu begitu anggun dan begitu nasional.”
Kita berimajinasi kekuasaan melalui surat, boleh kebablasan menuju novel-novel pop. Dulu, para tokoh dalam novel biasa mendapat julukan “tante girang” dan “om senang”. Kita mengetahui novel itu rekaman zaman dalam urusan bahasa dan pengisahan. Si penulis surat dari Medan tak menjadikan novel-novel sebagai referensi. Ia justru memberi kejutan sosial-kultural saat memunculkan sebutan “Om Soeharto”. Kita ingin tertawa tapi sadar kesopanan menjadi perhatian besar selama Orde Baru.
Kini, anak-anak pernah menulis surat kepada Soeharto sudah bertumbuh dewasa atau menua. Mereka mungkin menjadi saksi kejatuhan rezim Orde Baru (1998). Berita-berita menjadi rujukan bagi mereka mengetahui tuntutan dalam demonstrasi di pelbagai kota: penurunan Soeharto. Ingatan terpenting tentu mengadili Soeharto gara-gara KKN. Mereka tak lagi menulis dan mengirim surat berkaitan bobrok rezim Orde Baru. Mereka memiliki kesadaran dan sikap berbeda untuk masa depan Indonesia.
Pada 2025, kejutan terbesar dalam sejarah Indonesia seolah meralat ribuan surat dan ribuan berita masa 1990-an. Soeharto itu pahlawan nasional. Kita mulai kebingungan jika memberi penjelasan kepada anak dan cucu. Kelelahan tercipta saat ingin memegangi sejarah agar terhindar dari manipulasi demi Soeharto itu pahlawan. Kita pun kasihan melihat guru-guru di sekolah bisa salah tingkah dan terjerat dilema saat mengajarkan sejarah. Nasib anak-anak di sekolah dan rumah menjadi membingungkan akibat sejarah. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


