Dark
Light
Dark
Light

Kekuasaan yang Tumbuh dari Keheningan: Membaca Ulang Masa Kecil Soeharto

Kekuasaan yang Tumbuh dari Keheningan: Membaca Ulang Masa Kecil Soeharto

Tersembunyi di balik lereng Gunung Merapi yang tenang, terdapat sebuah desa kecil bernama Kemusuk. Tidak ada yang luar biasa di sana selain ladang padi yang bergelombang saat angin sore menyapa dan suara kentongan bambu dari langgar kecil yang memanggil untuk sembahyang Maghrib. Namun dari tempat ugahari itulah, seorang anak petani kelak mengatur lintasan sejarah sebuah bangsa selama lebih dari tiga dekade. Ia bernama Soeharto.

Kisah tentang masa kecil Soeharto telah menjadi bagian dari narasi nasional yang sering dikaburkan oleh glorifikasi kekuasaan. Tapi seperti setiap penguasa besar, masa awal hidupnya memuat isyarat tentang bagaimana ia akan memerintah: dengan diam, dengan kendali, dan dengan naluri bertahan.

Anak Tanpa Kepastian
Soeharto lahir titimangsa 8 Juni 1921, bukan di rumah megah atau rumah sakit kolonial, tetapi di rumah bambu milik keluarga petani miskin di Kemusuk, Argomulyo, Godean, sebelah barat Yogyakarta (Elson, 2001, hlm. 25). Ibunya, Sukirah, dan ayahnya, Kertosudiro, segera berpisah setelah kelahirannya. Sang anak masih balita ketika ia harus berpindah-pindah pengasuhan: kadang ke rumah bibinya, kadang ke kakek-neneknya. Dalam kurun waktu sepuluh tahun pertama, Soeharto setidaknya enam kali berganti tempat tinggal dan figur pengasuh (Jenkins, 2021, hlm. 5-6).

Pindah-pindah rumah dalam masa pertumbuhan bukan hanya soal geografis, tetapi juga tentang identitas dan kestabilan emosi. Anak-anak seperti ini belajar menyimpan perasaan, membangun dinding, dan mencari cara untuk bertahan. Keterampilan inilah yang akan membentuk fondasi gaya kepemimpinan Soeharto kelak: dingin, tidak terbaca, dan penuh kalkulasi.

Di usia tujuh tahun, Soeharto masuk Sekolah Ongko Loro, yaitu sekolah rakyat tingkat rendah pada masa Hindia Belanda. Dari laporan-laporan berbagai sumber, ia tidak menonjol secara akademik. Akan tetapi ia punya kelebihan lain: ketenangan. Guru-gurunya menyebutnya anak pendiam dan patuh. Ia tidak banyak berbicara, tapi mengamati segalanya (Jenkins, 2021, hlm. 22).

Dalam dunia kolonial yang bertingkat-tingkat secara rasial, anak petani dari desa seperti Soeharto harus belajar untuk membaca bahasa kekuasaan: kapan harus diam, kapan tunduk, dan kapan mengambil celah. Pendidikan awalnya mungkin tidak mengasahnya menjadi intelektual, tetapi menjadikannya pengamat sosial nan tajam.

Tahun 1939, Soeharto diterima di sekolah pertanian di Wonogiri, sebuah prestasi langka bagi anak kampung. Namun ia tidak menyelesaikan sekolah ini karena alasan biaya dan mungkin juga ketertarikan pribadi yang bergeser (Elson, 2001, hlm. 36). Di titik inilah ia mulai bekerja di kantor kelurahan dan rumah sakit, sampai akhirnya memilih jalur militer yang akan membentuk takdirnya.

Tahun 1940-an adalah masa genting di Pulau Jawa. Dunia sedang bergolak, dan Jepang sedang memperluas pengaruhnya di Asia. Soeharto bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL)—tentara kolonial Belanda—meskipun tidak lama. Setelah Jepang menduduki Indonesia, ia masuk dalam barisan milisi lokal yang disebut Pembela Tanah Air (PETA), bentukan Jepang (Jenkins, 2021, hlm. 154-157).

Di PETA, Soeharto belajar struktur, hierarki, dan taktik. Tapi lebih dari itu, ia belajar nilai kekuasaan dalam struktur. Dalam catatan-catatan pelatihannya, ia menonjol bukan karena keberanian atau strategi perang, tetapi karena kemampuannya untuk “beradaptasi dengan cepat, taat instruksi, dan pandai menjaga loyalitas dari bawahannya” (Abdulgani-Knapp, 2007, hlm. 19-21). Ia mungkin bukan pemimpin karismatik, tapi ia adalah manajer kekuasaan yang efektif—sebuah kemampuan yang lebih jarang dan lebih berbahaya dalam politik.

Jikalau Sukarno dikenal dengan pidatonya, Soeharto dikenal dengan diamnya. Di balik keheningan itu, terdapat trauma masa kecil, kecemasan akan keterbuangan, dan ketakutan akan kehilangan kontrol. Soeharto tidak pernah sepenuhnya percaya pada orang lain, dan dalam struktur kekuasaan Orde Baru, itu berarti setiap hubungan diperlakukan sebagai transaksi kekuasaan (Elson, 2001, hlm. 263-265).

Apa yang tampak seperti kesabaran atau kebijaksanaan, bisa jadi merupakan hasil dari pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian. Ia tidak mempercayai institusi, tetapi membangunnya agar tunduk. Ia tidak mempercayai rakyat, tetapi membujuk mereka dengan stabilitas. Di rumah masa kecilnya, tidak ada kepastian. Maka ia menciptakan kekuasaan yang tak tergoyahkan.

Jejak Emosional Kejawen
Bagi banyak sejarawan, menelusuri masa kecil pemimpin otoriter bukanlah upaya untuk memberi justifikasi, tetapi untuk memahami dinamika batin yang membentuk pilihan-pilihan di masa dewasa. Dalam kasus Soeharto, ada dua tema besar: kelangkaan kasih sayang dan pengulangan kehilangan (Jenkins, 2021, hlm. 8-9). Ia dibesarkan bukan dalam pelukan ideologi, melainkan dalam insting bertahan. Maka ketika ia naik menjadi pemimpin Indonesia, ia memimpin seperti orang yang tidak ingin kembali menjadi anak tak berayah—menggenggam segalanya erat-erat, bahkan ketika kekuasaan itu sudah menindas.

Selama puluhan tahun, negara melukiskan Soeharto muda dalam bingkai yang mulia: anak petani yang tekun, tentara pejuang, dan pemimpin besar. Film seperti Janur Kuning mengabadikannya sebagai arsitek Serangan Umum 1 Maret 1949. Namun sejarawan modern seperti Robert Elson dan David Jenkins mengkritisi narasi tersebut, menyebut banyak bagian masa kecil Soeharto sebagai mitos yang sengaja dibangun untuk membentuk citra kekuasaan (Elson, 2001, hlm. 78-80; Jenkins, 2021, hlm. 219-221). Narasi tentang masa kecil bukan sekadar catatan sejarah; ia adalah fondasi legitimasi. Dalam hal ini, masa kecil Soeharto dijadikan narasi heroik yang sebetulnya jauh dari kenyataan: seorang anak yang penuh luka dan isolasi.

Tatkala Soeharto meninggal pada Januari 2008, negeri ini berdebat tentang warisannya. Akan tetapi di luar angka pertumbuhan ekonomi dan catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), ada satu hal yang tak terbantahkan: Indonesia pernah dipimpin oleh seseorang yang membawa bayang-bayang masa kecilnya ke ruang istana.

Refleksi dari Kemusuk
Di balik wajah tenangnya dan suara yang pelan, tersembunyi anak kecil dari Kemusuk yang pernah merasa ditinggalkan, berpindah-pindah rumah, dan tidak punya siapa-siapa. Seperti anak yang menemukan kontrol dalam dunia yang tak bisa diprediksi, Soeharto mengubah negara menjadi ruang bermainnya—penuh aturan, loyalitas mutlak, dan garis perintah. Mungkin, masa kecil tak hanya membentuk siapa kita. Ia menentukan apa yang akan kita lakukan pada dunia—jika dunia memberi kita kesempatan.

Kemusuk bukan sekadar desa; ia adalah representasi dari dunia batin Jawa yang penuh lapis makna. Dalam kebudayaan Jawa, anak-anak dibesarkan bukan hanya dengan nasihat, tetapi dengan “isyarat”—diam, tatapan mata, gestur tangan, dan perintah lembut yang sering lebih bersifat simbolik daripada eksplisit. Dalam lingkungan semacam itu, Soeharto tumbuh dan belajar bahwa “pengaruh tidak perlu lantang”. Ia belajar bahwa kekuasaan bisa diciptakan melalui kendali emosi dan penciptaan wibawa yang tak perlu dijelaskan. Seperti dikatakan oleh seorang kerabatnya, “Soeharto muda tidak suka banyak bicara, tapi sekali berbicara, semua diam” (Abdulgani-Knapp, 2007, hlm. 25).

Penyerapan nilai-nilai kejawen ini menjelma menjadi politik “kesamaran” di masa kekuasaannya: tidak pernah terlalu jelas mendukung, tetapi juga tidak sepenuhnya menolak. Dalam analisis Elson, kemampuan Soeharto untuk tetap samar dan fleksibel dalam menyikapi konflik elit selama 1965-1966 adalah warisan dari strategi bertahan yang telah ia pelajari sejak kecil (Elson, 2001, hlm. 199-205).

Salah satu aspek yang jarang dibicarakan secara langsung adalah relasi Soeharto dengan figur ayahnya. Kertosudiro, ayah kandung Soeharto, adalah seorang petani sekaligus petugas pengairan desa—sosok yang punya otoritas lokal tapi tanpa kekuatan simbolik besar. Setelah perceraian orang tuanya, Soeharto diasuh oleh berbagai figur laki-laki lain, termasuk Prawirohardjo, yang kelak disebut-sebut sebagai ayah angkatnya.

Perpindahan ini bukan hanya soal fisik, tapi juga emosi. Soeharto tidak pernah memiliki satu figur ayah yang benar-benar konsisten, sehingga konsep otoritas baginya selalu cair dan berubah. Dalam pidato-pidato resminya kelak, Soeharto jarang menyebut sosok ayah atau kenangan masa kecil secara sentimental. Ia membangun gambaran diri bukan dari pengalaman afektif, melainkan dari pencapaian administratif dan militer (Jenkins, 2021, hlm. 32-33).

Banyak pengamat sepakat bahwa Soeharto tidak hanya berhasil karena keterampilan pribadi, tetapi juga karena rangkaian keberuntungan. Saat pecahnya Peristiwa 1 Oktober 1965, misalnya, ia berada di posisi komando Kostrad dan tidak menjadi target penculikan. Dari sana, ia mengambil alih kontrol militer dan kemudian politik. Tapi keberuntungan ini telah disiapkan oleh kemampuan bertahan dan membaca situasi. Sesuatu yang sudah ia lakukan sejak masa remaja.

Robert Elson menyebut gaya kepemimpinan Soeharto sebagai “cuation, coolness, calculated decisiveness when the time was right”—ketenangan yang diperoleh dari sejarah hidup yang penuh ketidaktetapan (Elson, 2001, hlm. 54). Ia bukan penakluk yang besar, tetapi manajer risiko yang sempurna.

Ketika Soeharto akhirnya berkuasa penuh, ia tidak hanya membangun jalan dan bendungan; ia juga membangun narasi. Masa kecilnya dikisahkan ulang dalam bentuk yang romantis: seorang bocah desa yang jujur, pekerja keras, dan sejak dini menunjukkan bakat kepemimpinan. Versi ini ditulis ulang dalam buku pelajaran sekolah, film dokumenter negara, dan kutipan-kutipan media arus utama. Dalam pidato kenegaraan, ia lebih sering merujuk pada identitas “petani” dan “anak desa” dibandingkan identitas militer.

Padahal, narasi tersebut sangat selektif. Misalnya, dalam kisah resmi Serangan Umum 1 Maret 1949, Soeharto ditampilkan sebagai konseptor utama. Namun berbagai riset, termasuk dari Jenkins dan Elson, menunjukkan bahwa peran Sultan Hamengkubuwono IX dan jaringan elit Yogyakarta jauh lebih signifikan (Jenkins, 2021, hlm. 220; Elson, 2001, hlm. 78). Soeharto memahami satu hal dengan jelas: legitimasi bisa dibentuk dari kisah, bukan hanya dari kekuatan.

Sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang, tetapi seringkali ditulis oleh mereka yang paling lama bertahan. Dalam hal ini, Soeharto menulis ulang sejarahnya dengan kesabaran, kehati-hatian, dan kendali penuh atas narasi. Dari anak desa yang tak dikenang siapa pun, ia menjelma menjadi arsitek bangsa yang dikagumi sekaligus ditakuti.

Kiwari, lebih dari satu dekade setelah kepergiannya, jejak masa kecilnya masih terpantul di wajah bangsa ini—dalam kecenderungan kita terhadap stabilitas, dalam hasrat untuk pemimpin yang “bekerja diam-diam,” dan dalam keengganan kita untuk terlalu lama mempertanyakan kebenaran sejarah. Barangkali, kita semua—sebagai bangsa—masih menyimpan trauma kolektif dari kepemimpinan yang berasal dari sunyi.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo