Dark
Light
Dark
Light

Merefleksikan Hari Pahlawan yang Serba Klise

Merefleksikan Hari Pahlawan yang Serba Klise

Sepuluh November adalah tanggal peringatan untuk mengenang para pahlawan. Setumpuk ucapan terdengar, sekelompok orang memenuhi makam, dan nama-nama besar yang dipercayai sebagai sosok pahlawan muncul di berbagai isi tulisan. Kita terus mengulanginya, dari tahun ke tahun.

Saya merayakan hari pahlawan dengan menonton film. Pilihan diambil sebagai upaya memutus siklus kerutinan aktivitas memaknai hari pahlawan. Judul yang terpilih adalah serial Chernobyl (2019) garapan Johan Renck dan film Dunkirk (2017) karya Christopher Nolan.

Serial Chernobyl (2019) menceritakan tragedi kebocoran reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, 26 April 1986.

Kecelakaan itu menjadi salah satu bencana nuklir terburuk dalam sejarah dunia. Serial ini mengungkap bagaimana peristiwa itu terjadi, dampak yang ditimbulkan, dan perjuangan individu-individu untuk mengungkap kebenaran di tengah tekanan politik Soviet.

Fokus utama cerita ada pada Valery Legasov (diperankan oleh Jared Harris), seorang ilmuwan yang memimpin penyelidikan teknis bencana, bersama Boris Shcherbina (Stellan Skarsgård), pejabat pemerintah, dan Ulana Khomyuk (Emily Watson), ilmuwan fiksi yang merepresentasikan berbagai pakar yang terlibat dalam upaya pemulihan. Chernobyl berhasil memenangkan tiga penghargaan Emmy Awards 2019.

Film Dunkirk (2017) merupakan sebuah drama perang sejarah yang menggambarkan evakuasi besar-besaran lebih dari 300.000 tentara Sekutu dari pantai Dunkirk, Perancis, selama Perang Dunia II. Dengan alur non-linear yang membagi cerita menjadi tiga perspektif—daratan (satu minggu), laut (satu hari), dan udara (satu jam), Nolan menghadirkan pengalaman sinematif yang menarik dan mendalam. Film ini memenangkan tiga penghargaan Oscar dan banyak menerima pujian sebagai salah satu karya perang terbaik yang pernah dibuat.

Kedua sinema tersebut tidak membuat saya menengok pada tokoh-tokoh besar yang banyak diberikan pujian atas jasa-jasanya. Misalnya pada Valery Legasov dan Boris Shcherbina dalam serial Chernobyl (2019) atau Komandan Bolton dan Kolonel Winnant dalam film Dunkirk (2017).

Mereka memang pahlawan, tapi ada juga pahlawan lain yang tidak dikenali publik bahkan mungkin tidak pernah tertuliskan dalam sejarah.

Dalam Chernobyl (2019) saya justru tertarik pada para penggali tambang. Ada sebuah adegan sangat menarik ketika terjadi pertemuan antara Menteri Industri Batubara dan para penggali tambang. Sang Menteri mengajak para penambang agar lekas naik ke truk menuju sebuah tempat yang dirahasiakan. Pemimpin tambang menolak dan lebih memilih mati ketimbang harus pergi ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.

Singkat cerita, Sang Menteri akhirnya mengatakan bahwa mereka harus ke Chernobyl, tempat terjadinya ledakan nuklir. Pemerintah membutuhkan penambang untuk membuat terowongan agar bisa mencegah terbenamnya bahan bakar reaktor yang dapat mencemari sumber air selamanya.  Mendengar hal itu, para penambang akhirnya bersedia. Meskipun tahu, resiko kematian ada di depan mata.

Dialog berlanjut ketika para penambang sudah mulai menggali dalam udara yang penuh radiasi tinggi dan suhu tanah yang menyentuh lima puluh derajat. Andrei Glukhov, kepala penambang berkata pada Boris Shcherbina, “Setelah semua ini selesai, apakah mereka akan diperhatikan pemerintah?” sambil menengok para penambang yang bekerja keras menyelesaikan galiannya. Lalu boris menjawab “Aku tidak tahu.”

Jawaban itu mengandung maksud bahwa mereka tidak akan pernah diperhatikan oleh pemerintah bahkan mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah. Meski begitu, para penambang tetap menyelesaikan tugasnya demi keselamatan jutaan manusia. Tanpa pamrih materi, hanya harapan untuk hari esok yang lebih baik. Dalam film Dunkirk (2017) juga ditemukan kejadian serupa.

Perayaan Hari Pahlawan di Indonesia

Setumpuk berita mengabarkan perayaan Hari Pahlawan dilakukan dengan menggelar upacara dan ziarah di berbagai daerah. Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui situs web resminya menuliskan momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November, bertujuan untuk membangun dan memelihara ingatan kolektif bangsa akan jasa dan pengorbanan para pahlawan. Harapannya, masyarakat bisa mengambil teladan dan mengimplementasikan semangat dan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya heran, mengapa pesan itu ditujukan para rakyat. Yang kita ketahui, justru yang paling tidak mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan adalah orang-orang yang saat ini duduk di kursi Pemerintahan.

Garin Nugroho, dalam Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta, Minggu, 10 November 2024, berjudul Balas Budi untuk Rakyat memaparkan bagaimana pemerintahan sepuluh tahun terakhir dan nasib rakyat di tangan para pemimpinnya.  

Garin menuliskan dalam pidatonya: “Rakyat Indonesia adalah rakyat yang unggul, toleran, dan tangguh dalam menghadapi berbagai bentuk kekuasaan dan ketimpangan. Bahkan dalam situasi krisis ekonomi, rakyatlah yang sering kali menjadi penopang utama perekonomian negara. Begitu pula dalam pemilu, mereka selalu memberikan dukungan penuh meski dihadapkan pada berbagai kecurangan dan manipulasi.” Jadi, berhentilah menunjuk rakyat untuk melakukan ini dan itu, sementara para pemimpin asik mencuci tangan.

Saya merasa bingung, bagaimana pemerintah bisa percaya diri mengenang para pahlawan saat negeri ini dikepung dengan beragam permasalahan yang penderitaannya nyaris seperti zaman penjajahan. Pesta oligarki, eksploitasi rakyat untuk kepentingan diri, keluarga, dan partai, lalu biaya pendidikan yang mahal, pekerjaan yang sulit, kebutuhan hidup yang terus naik, korupsi yang merajalela, perampasan tanah adat, hukum yang timpang, dan berbagai masalah lain masih tumbuh subur di Indonesia.

Proses mendapatkan kemerdekaan atas kolonialisme pada saat itu, saya yakin hampir serupa dengan peristiwa dalam serial Chernobyl (2019) film Dunkirk (2017). Ada peran rakyat yang sangat besar di dalamnya meski tidak tercatat sejarah. Bantuan dari para petani, pengorbanan para nelayan, kerja keras seniman dan akademisi, loyalitas tenaga medis, pengabdian para pemuka agama dan sederet profesi lain saling berkorban demi kehidupan rakyat Indonesia yang lebih baik, demi masa depan yang lebih cerah bagi anak-cucu mereka.

Barang kali, yang diharapkan para pahlawan sesungguhnya adalah bukan upaya-upaya seremonial atau sematan bintang-bintang tanda jasa, tapi kesejahteraan rakyat Indonesia dengan keadilan yang jernih, regulasi yang pro rakyat, dan pemenuhan hak-hak mereka. Mengenang para pahlawan dengan hanya berhenti pada sosok lalu ucapan seremonial, mengabaikan cita-cita yang diperjuangkan oleh para mereka adalah kemunafikan belaka.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo