Pada era 1980 hingga 2000-an angkutan umum bus menjadi moda transportasi yang digandrungi masyarakat. Bus-bus berseliweran di jalan raya berbagai kota di Indonesia. Nama-nama besar seperti Sinar Jaya, Dedy Jaya, Sumber Alam, Nusantara, adalah legenda yang masih berjaya.
Bus menjadi primadona masyarakat, karena lebih hemat ketimbang angkutan umum lain seperti ojek dan taksi. Tidak perlu mencari tempat parkir dan mengurangi resiko kehilangan ketimbang membawa kendaraan sendiri. Dengan naik bus juga bisa berngantuk ria atau menikmati indahnya pemandangan sepanjang jalan. Uniknya lagi--ibarat ruang publik berjalan—bus umum juga menjadi ajang silaturahmi, kopi darat dengan kerabat dan kawan baru. Dari obrolan hangat antarpenumpangnya, hingga candaan genit sopir dan kondektur. Bahkan tak sedikit yang ketemu jodoh di bis kota!
Sepanjang Jalan Nasional menuju kota Purwokerto Jawa Tengah di era 1990 hingga 2000 pada waktu itu, selalu ramai oleh lalu lalang bus dari berbagai bendera perusahaan otobus (PO). Mayoritasnya jenis medium atau bus tanggung, penumpang lebih suka menyebut sebagai bus 3/4. Ukuran bus ini sangat cocok untuk berpergian, berbodi ramping dan dinamis dengan 35 tempat duduk. Ada PO ‘Asli’ dengan trayek Sidareja-Purwokerto, PO ‘Amanat Jaya’ dengan trayek Wangon-Purwokerto, ‘Bina Sehat Keluarga’ (BSK) dari Banjarpatroman, atau bus ‘Kurnia’ jurusan Tegal. Dari arah timur ada PO ‘Teguh’ dengan trayek Wonosobo-Purwokerto, dan ‘Cebong Jaya’ yang kesohor ngebutnya.
Belum lagi, trayek dari Cilacap dan Pemalang serta Pekalongan di jalur utara yang tak sedikit pula populasinya. Hampir semuanya adalah bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dengan jurusan utama Kota Purwokerto, sebagai kota pusat pemerintahan, pendidikan, niaga serta menjadi magnet kaum urban karena lengkapnya fasilitas yang dimiliki.
Namun, kini kejayaan bus kota khususnya dengan trayek AKDP telah redup. Bisnis atau usaha jasa angkutan umum, khususnya bus kecil (mikrobus) dan bus tanggung (bus 3/4) semakin memprihatinkan. Layanan angkutan penumpang yang sangat berjaya pada masanya, kini mengalami penurunan eksistensi yang drastis.
Mudahnya kredit motor
Usaha jasa yang sempat membuat pemilik armada mengantongi untung besar ini dirasakan surut sejak awal 2000-an. Banyak faktor yang memengaruhi surutnya usaha tersebut, antara lain mudahnya masyarakat memiliki kendaraan pribadi baik motor dan mobil melalui skema kredit.
Awal era 2000-an, dealer-dealer sepeda motor ternama berlomba-lomba menjual produknya dengan mekanisme kredit yang sangat memudahkan masyarakat. Berapa dealer tercatat pernah menawarkan syarat kredit yang tak masuk akal. Untuk mendapatkan motor baru, cukuplah membawa KTP dan uang muka (DP) Rp100 ribu bahkan Rp0.
Motor pun diantar ke rumah kreditur hari itu juga. Jadilah motor-motor baru memenuhi jalanan. Serombongan penumpang bus yang tiap hari setia menunggu bus-bus kesayangan mereka, telah berkurang sebagian, menaiki motor sendiri yang lebih bebas dan bisa berpacu dengan waktu.
Terdesak ojol hingga covid
Kemajuan teknologi seringkali berdampak kurang menguntungkan satu pihak. Bisnis bus dan angkutan umum pun terdesak oleh Ojek Online (Ojol), Grab dan jasa transportasi berbasis aplikasi sejenisnya. Badai semakin mendera ketika awal tahun 2020 dunia dihantam pandemi Covid-19.
Berbagai pembatasan diberlakukan Pemerintah. Larangan bepergian diterapkan sangat ketat oleh aparat berwenang. Para pemilik armada termasuk bus angkutan umum pun tak bisa berbuat banyak, selain mengikuti aturan, jika tak ingin berhadapan dengan hukum. Kegiatan bepergian sangat jarang, jalanan benar-benar sepi penumpang. Badai corona dua tahun itulah klimaks dari senjakala bus angkutan umum bus yang sebelumnya pun terus meredup. Roda usaha benar-benar macet, dan armada tak mampu lagi beroperasi karena hampir tak ada penumpang sama sekali.
Pengusaha memutar otak
Adakah secercah harapan tersisa seusai badai corona? Ternyata masih ada armada bus yang survive. Penumpang memang sangat sepi. Yang tersisa, tinggal pedagang yang berbelanja serta berjualan di pasar-pasar tradisional. Beberapa armada seperti bus ASLI dari Sidareja masih eksis. Sejak awal bis tersebut memang jadi favorit para pedagang pasar. Bus ini berangkat pukul 04.30 WIB dan pulang garasi pukul 17.00, berangkat dari Sidareja ke Purwokerto via Ajibarang, tarif penuhnya Rp30.000.
Melihat prospek penumpang yang semakin hilang, pengusaha bus berpikir keras, agar armadanya tetap berjalan. Seperti yang dilakukan Pak Dwi, pengusaha bus di Banyumas. Ia mengambil kebijakan tidak mengeluarkan armadanya untuk meraup penumpang umum di jalanan, namun kini armadanya diperbaiki untuk melayani carteran masyarakat dengan berbagai keperluan. Mulai dari kondangan, membezuk orang sakit, takziah, hingga ziarah Walisongo.
"Memang inilah keadaannya, kalau kembali kayak dulu itu nggak mungkin. Tapi kami tak pasrah begitu saja. Zaman memang sudah berubah, kita tak bisa banyak mengeluh. Sekarang orang sudah punya motor sendiri, banyak ojol, Pemda juga punya bus trans yang AC. Daripada glondhang-glondhung hanya bawa kursi kosong, mending saya alihkan untuk wisata," ujar Dwi.
Banyak sopir banting stir
Merosotnya kharisma bus sangat berdampak pada pengemudi dan awak armadanya. Bus dan mikro angkutan umum semakin merana ditinggalkan penumpangnya. Banyak sopir banting stir, namun ada beberapa yang bertahan. Salah satunya Urip (52 tahun) sopir senior dari Desa Candinegara Pekuncen. Meski rekan-rekannya sesama pengemudi dan awak bus udah berganti profesi, Urip masih tekun dengan pilihannya.
"Teman-teman sopir dan kru bus banyak yang beralih profesi. Ada jadi tukang bangunan, juru parkir, dan pemandu wisata. Ada yang masih nyopir tapi ganti layanan jasa antar paket," tukas lelaki berperawakan atletis yang pernah puluhan tahun mengabdi di PO Amanat Jaya.
Awal menjadi sopir, tiap hari ia pergi pulang ke garasi majikannya dengan numpang bus lain. Setelah puluhan tahun mengabdi, sang majikan memberi kepercayaan untuk membawa pulang bis ke rumahnya di Candinegara. Yang penting, setoran jalan terus.
Dari ketekunannya, Urip bisa menghidupi istri dan ketiga anak perempuannya. Bahkan si sulung telah berkeluarga dan memberikan seorang cucu. Urip bergeming, tak menoleh profesi lain setelah sering mengantar penumpangnya ziarah dan pengajian. Di sana ia banyak bertemu dengan penumpang yang kini menjadi saudara.
"Alhamdulilah, kalau rezeki itu dari mana saja, bukan hanya uang tapi saudara. Rezeki sethithik ningen kemlethik (Rezeki sedikit tapi lancar) daripada rezeki besar banyak ujiannya," kilahnya menyebut nguping dari seorang penceramah di pengajian.
Sementara itu awak bus lain, Budi, kerap memilih bermain aman. Kondektur senior ini memandu sopirnya kapan harus tancap gas, kapan pulang gasik. Mereka membawa bus Teguh dengan trayek Wonosobo-Purwokerto. Meski terlihat hanya 3 armada yang wira-wiri di jalur ini, nyatanya penumpang memang sepi. Jika demikian, mereka memilih menggarasikan armadanya lebih awal.
"Kadang hanya satu tangkep. Dari Purwokerto Wonosobo sekali terus balik garasi. Daripada berangkat lagi, risiko penumpang sepi., padahal solar harus diisi, belum lagi setoran ke bos,” beber Budi.
Komentar penumpang
Bus angkutan umum sudah kalah pamor. Kini saingan utamanya adalah bus trans milik Pemerintah. Di Banyumas, Pemda setempat meluncurkan Trans Banyumas yang merupakan implementasi program Buy The Service (BTS) Kementerian Perhubungan. Meluncur sejak Desember 2021, ada 52 bus dengan rute terbagi menjadi 3 koridor: Koridor 1 Terminal Ajibarang-Pasar Pon, Koridor 2 Terminal Notog-Terminal Baturraden, Koridor 3 Terminal Bulupitu-Terminal Kebondalem.
Belum lagi, kini juga melenggang puluhan Bus Trans Jateng milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang semakin diminati masyarakat. Bus dalam balutan cat motif batik elegan itu bersih, wangi ber-AC, penumpangnya tertib bebas copet, serta menggunakan pembayaran non-tunai. Jika dibandingkan dengan bus umum, semakin mengenaskanlah nasibnya.
Namun, masih ada penumpang yang setia. Mereka biasanya para pedagang, Seperti Kamid, pedagang bawang di Pasar Ajibarang.
"Saya sejak puluhan tahun setia naik bis ini, karena nggak ngebut dan tarifnya ekonomis. Bahkan kurang pun nggak dimarahi," ujar Kamid
Penumpang lain, Rusti dari Pekuncen, masih sesekali naik bus, biasanya kalau Trans Banyumas sedang penuh. Namun belum lama ini ia mengalami insiden unik. Ceritanya ia menumpang bus jadul yang rasanya tak mungkin diremajakan lagi. Di tengah jalan tiba-tiba hujan deras. Air hujan pun menerobos atap bus yang ternyata bocor di bebarapa titik.
"Jadilah kami penumpang kehujanan di dalam bus," kenangnya tertawa.
Editor: Kendi Setiawan


