Dark
Light
Dark
Light

Cerita-Cerita di Balik Perempuan Pintar

Cerita-Cerita di Balik Perempuan Pintar

Seribu tepukan tangan menyambut Marie Curie dalam penyerahan Hadiah Nobel 1903. Perempuan cerdas itu disambut jutaan pujian atas penemuannya di bidang fisika dan kimia. Orang-orang berharap kembali muncul perempuan-perempuan seperti Madam Curie. Harapan itu mengandung makna bahwa perempuan pintar dekat dengan kemuliaan dan kebahagiaan.

Kita tentu mengiyakan. Tapi, sepertinya juga perlu berhitung konsekuensi dari yang diserukan. Kita sadar akibat membahagiakan menjadi pintar, tapi kerap melupakan sisi dibaliknya. Dalam banyak kisah, cerita-cerita di balik perempuan pintar mengandung arti tahan cibiran, sengsara, gagap pergaulan, stereotip, dan pertaruhan nyawa.

Tahun 1988, Roald Dahl, pengarang ternama Inggris menceritakan nasib perempuan cerdas. Matilda Wormwood, dalam buku Matilda (1988) dikisahkan sebagai gadis kecil yang spesial. Ia punya cara berfikir dan ketertarikan tidak umum: Bersikap tenang, bijak menyikapi masalah, dan pecinta buku. Di usia yang masih anak-anak, kepintaran menjadi masalah di hadapan orang tuanya, Mr Wormwood dan Mrs Wormwood.

"Anak perempuan takkan bisa mendapat suami dengan modal kepintaran," kata Mrs Wormwood. "Lihat saja bintang film itu, misalnya," sambungnya sambil menuding layar televisi yang tidak ada suaranya. Di situ tampak seorang wanita bertubuh montok yang sedang dirangkul seorang aktor di bawah sinar rembulan. "Dia kan tidak berhasil mendapat pacarnya itu dengan jalan perkalian angka-angka di depannya. Ya, kan? Dan sekarang pacarnya ingin menikahinya. Itu sudah pasti. Dan kemudian dia akan tinggal di rumah besar yang bagus, dengan banyak pelayan untuk meladeni."

Lalu, dalam sebuah pertemuan dengan Miss Honey, guru kelas Matilda, Mrs Wormwood kembali berujar: "Saya tidak suka pada anak-anak perempuan yang mementingkan otak. Anak perempuan seharusnya berusaha membuat dirinya menarik, agar bisa mendapat suami yang baik. Penampilan lebih penting daripada buku."

Orang tua khawatir, perempuan pintar akan sulit mendapat suami dan kehidupan layak. Menjadi pintar, kerap menyisihkan kemolekan tubuh. Omelan-omelan setajam pisau harus Matilda hadapi dengan telinga tebal dan hati yang lapang, sebagai akibat dari kepintarannya.

Sejak kecil, anak-anak kerap lebih sering disuguhkan upaya-upaya yang menyangkut kemolekan tubuh ketimbang pikiran. Media massa juga lebih tertarik menampilkan perempuan cantik ketimbang pintar. Lalu, laki-laki sering digambarkan lebih berhasrat dengan perempuan cantik. Kekinian, pekerjaan juga butuh kecantikan. Proses menjadi pintar kerap dihadap-hadapakan oleh standar komersil. 

Sejuta umat memuji kepintaran Kartini (1879-1904). Perempuan Jawa itu, diyakini memberi sumbangsih pada ruang pendidikan, emansipasi, ekonomi, agama dan kebudayaan. Namanya harum hingga saat ini. Kita menyetujui pujian itu, tapi jangan lupakan sejarah hidup menjadi perempuan pintar. Kartini adalah gadis gelisah dengan banyak nestapa. Kepintaran membawanya peka pada masalah.

Di hadapan banyak orang segalanya sudah semestinya begitu, di mata Kartini, segalanya perlu untuk dipikirkan ulang. Dalam surat bertanggal 25 Mei 1899, ia menukilkan keadaan batinnya semasa dipingit: "Empat tahun, yang tak terkira lamanya, saya berkhalwat di antara empat tembok tebal, tidak pernah sedikit juapun melihat dunia luar. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu--hanya yang saya ketahui masa itu amat sengsaranya." Kita mengandaikan, jika Kartini tidak pintar, kata sengsara bisa diganti dengan nikmat dan syukur. Perempuan bangsawan, bisa menikmati kekayaan juga menyibukkan diri pada ritual kecantikan.

The Queen’s Gambit (2020), serial garapan Scott Frank mengisahkan perjalanan Beth Harmon, perempuan yatim piatu yang menjadi pecatur terbaik di dunia. Dalam akhir biografi, ia berhasil menjadi pemenang. Orang-orang mengagumi kejeniusannya. Tapi, dalam beberapa momen Harmon kerap gagap ketika berinteraksi dengan perempuan sebayanya.

Dalam salah satu scene, ketika berkumpul dengan klub perempuan terkenal di sekolah, ia mengalami kebingungan dan asing mengikuti obrolan yang berlangsung. Peristiwa diakhiri dengan pilihan Harmon untuk pergi. Kepintaran Harmon bertemu kebuntuan ketika dihadapkan pada pergaulan sebaya.

Dalam Tjap (2018), Novel gubahan Yuditeha, nasib perempuan pintar  bertemu kematian. Pertiwi, gadis cerdas yang memilih jalan pengabdian pada masyarakat melalui GERWANI, menemui ajal lewat peluru yang menembus tubuhnya. Gagasannya soal kemajuan masyarakat, memberdayakan masyarakat, membebaskan masyarakat dari kesengsaraan harus dibayar dengan nyawa.

Pada akhirnya, kita mengetahui perempuan pintar memiliki banyak lapisan cerita selain kebahagiaan dan kemuliaan. Ada pergulatan batin dan anak tangga yang dilalui dari waktu ke waktu. Masyarakat memuliakan perempuan pintar, tapi dalam proses menjadi pintar, posisi perempuan kerap ditempatkan dalam kondisi menyulitkan. Menjadi perempuan pintar, itu berarti perjuangan sekaligus ketahanan.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo