Sekian hari lalu, pengajian-pengajian di masjid bertema haji. Para penceramah berusaha memberi deskripsi dan narasi berkaitan ibadah di Tanah Suci. Jemaah mendengar sesuai kesanggupan berpikir dan berimajinasi. Konon, ibadah haji abad XXI sangat berbeda dengan sulit dan risiko dari abad-abad silam. Beragam kemudahan diperoleh bagi jemaah mengikuti peraturan-peraturan dibuat oleh Arab Saudi dan disokong kebijakan Pemerintah Indonesia. Konon, peningkatan pelbagai fasilitas menjadikan ibadah haji tak seberat para pendahulu di abad XIX dan awal abad XX.
Kini, pergi ke Tanah Suci naik pesawat terbang itu kelaziman. Kebijakan perjalanan memunculkan istilah “kloter”. Orang-orang mungkin abai bila itu berarti “kelompok terbang”. Cara agar perjalanan tak terlalu lama dan berhitung konsekuensi (kematian). Dulu, orang-orang pergi naik kapal mendapat tantangan-tantangan besar. Perjalanan mengandung risiko memungkinkan tulisan-tulisan (perjalanan) haji terpahamkan dalam debar dan takjub. Konon, tulisan-tulisan sering melimpah gara-gara perjalanan di laut berlanjut perjalanan darat sampai ke tempat-tempat terpenting di Tanah Suci. Zaman berubah, kadar (ketegangan) pemaknaan haji pun turut berubah.
Pada 2000, terbit Cara Mabrur Naik Haji dan Umrah susunan A Luqman dan C Baskoro. Judul mengesankan buku biasa dipelajari jemaah di Indonesia jika ingin beribadah ke Tanah Suci. Orang tak pernah memegang atau membaca buku itu mengira isi buku pasti biasa-biasa saja. Kita melihat mulai dari sampul belakang. Buku mendapat iklan dari perusahaan penerbangan Merpati. Dulu, orang-orang mengetahui pesawat terbang dinamakan Merpati, selain Garuda. Di sampul depan, kita melihat lelaki berpeci membawa tas dan koper. Ia naik karpet terbang, bukan pesawat terbang. Lelaki menuju Tanah Suci. Buku unik saat kita membaca tulisan di pojok: komik haji.
Komik digunakan dalam dakwah atau memberi petunjuk bagi orang-orang mau naik haji dan umrah. Apa komik ingin memberi “sensasi” berbeda ketimbang buku-buku petunjuk sering membosankan dan berat? Jawaban diberikan para pembuat buku: “Penyajian lewat komik memang lebih menarik, atraktif, mudah dimengerti dan lucu. Sehingga, mendorong orang untuk membaca.” Komik untuk dinikmati kaum dewasa. Para anak dan remaja ikut boleh membaca asal mencari pemahaman lanjutan kepada kaum dewasa.
Sejak dulu, komik memang digemari orang-orang di seantero Indonesia. Sejak masa 1950-an sampai 1990-an, kaum moralis atau pihak-pihak paling paham agama biasa memberi kritik (moral) atas peredaran komik di Indonesia dan orang-orang ketagihan komik (asing atau Indonesia). Pada babak berbeda, komik-komik dibuat untuk berdakwah. Komik pun bertema haji. Komik bersaing dengan buku-buku biasa keluaran Kementerian Agama dan penerbit-penerbit partikelir.
Penjelasan dan pengisahan haji tanpa kesan-kesan “berat” pun dilakukan oleh Hasan Bisri melalui buku berjudul Haji Dilarang Ketawa (2005). Pengakuan penulis tersajikan di halaman awal: “Menulis humor-humor tentang haji sebenarnya cita-cita penulis sejak lama, bahkan sebelum penulis naik haji akhir 2003…. Penulis memungut peristiwa-peristiwa konyol atau mengharukan atau bahkan menggelikan sekaligus menyedihkan jamaah haji Indonesia.” Kita mengandaikan menjadi pembaca tanpa sungkan tertawa (terhibur) tapi dalam kepentingan renungan bertema haji.
Kita ikuti cerita kecil memberi lucu: “Berziarah ke Jabal Tsur, tempat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi karena kejaran kaum kafir Quraisy, Haji Abidin merasa heran. Banyak pedagang bertebaran di lerengnya. Bagi Haji Abidin, yang paling menarik adalah penjual obat penumpuh jenggot. ‘Tuan menjual obat jenggot tapi mengapa tuan tidak memiliki rambut jenggot?’ Haji Abidin mencoba menembak penjual obat. Si penjual obat sejenak gelagapan, tapi buru-buru dia berkilah, ‘Haji, kalau ana jual burung, apakah ana harus bertelur juga!’”
Cerita itu bagian dari peristiwa-peristiwa saat bepergian ke pelbagai tempat di Tanah Suci. Kita lanjutkan dengan kelucuan tapi mengingatkan hasrat besar jamaah Indonesia: “Di sekeliling Kabah, ternyata banyak joki Hajar Aswad. Mereka menawarkan jasa membantu memandu jamaah mencium Hajar Aswad. Rata-rata 10 real per jamaah. ‘Mahal amat!’ protes Haji Bonari kepada penyedia jasa. ‘Terserah, Bapak. Kalau tidak punya uang, tidak usah minta bantuan,’ ujar penyedia jasa. ‘Oke, 5 real,’ tawar Haji Bonari. ‘Bisa, Pak, tapi saya lempar sampai depannya’.”
Kita biasa mendapat cerita-cerita mengenai haji. Cerita kadang disampaikan oleh orang-orang sepulang dari Tanah Suci. Kelucuan membuka kenangan-kenangan tak boleh dilupakan. Pelaku atau saksi atas pelbagai kelucuan kadang mengaharapkan itu menghibur bagi para tamu berdatangan setelah jamaah sampai kembali ke Tanah Air. Lucu-lucu tapi mengajak orang dalam renungan-renungan religius. Buku susunan Hasan Bisri mungkin “selingan” bagi para pembaca buku-buku serius bertema haji, sejak dulu sampai sekarang.
Buku tak mungkin terlewatkan tentu Orang Jawa Naik Haji (1984) susunan Danarto. Buku terus terbaca sampai sekarang. Buku bercap klasik tapi tetap menghibur gara-gara lucu dan religius. Pujian diberikan oleh Taufiq Ismail: “Dia menulis apa adanya, gayanya lugu, segar dan jenaka. Tapi, yang lebih utama, kita merasakan hangatnya iman.”
Di sastra Indonesia, Danarto biasa menulis cerita-cerita sufistik dan mengarah ke absurd. Ia pun rajin membuat ilustrasi. Pada suatu masa, ia main-main dengan puisi. Sosok penting dan berpengaruh dalam jagat seni Indonesia menunaikan haji. Ia tak lupa membuat awet melalui penulisan buku tipis dan berkhasiat.
Di Madinah, Danarto ingin makan sate. Ia mengaku “tergila-gila daging kambing”. Selama menunaikan ibadah haji, Danarto berharap bisa menikmati daging kambing. Ia diajak mahasiswa menuju warung. Pengisahan: “Kami memesan 10 tusuk seharga 20 real dengan tusukan besi dan daging yang agak gedean. Kami santap dengan roti tawar yang bentuknya tebal dan bundar seperti cakram, yang saya pikir lebih bergizi dari roti kita di Jakarta.”
Danarto menikmati sate. Ia perlu minum. Kejadian unik teralami: “Saya berteriak minta gelas. Pelayan itu mengambilkannya. Sebelum diberikan kepada saya, ia minum dulu dari gelar yang sama, baru diberikan kepada saya tanpa dicuci lebih dulu. Jangan kaget itu sudah biasa di sana. Adat. Bahkan, kadang enak saja minum langsung dari tekonya, tidak peduli bekas makanan itu pada bertempelan di bibir teko.” Kejadian-kejadian selama menunaikan ibadah haji diceritakan agar para pembaca terhibur. Danarto berhaji tapi tak lupa mengajak orang-orang tertawa.
Kini, kita mulai mengerti tiga khasiat buku untuk mengerti haji. Sajian dalam bentuk komik cukup seru bagi pembaca-pembaca tak mau disiksa jenuh dan pusing jika berhadapan buku-buku serius. Pengumpulan cerita-cerita lucu oleh Hasan Bisri memberi ajakan agar orang-orang lekas beribadah haji. Di sana, mereka bakal tertawa meski mungkin sering berlinangan air mata berpijak iman dan memenuhi panggilan Tuhan. Di buku warisan Danarto, kita diajak menginsafi iman diselingi tawa. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


