Dark
Light
Dark
Light

Sejarah Vaksin: Ihwal Ketakutan, Ilmu, dan Kemanusiaan

Sejarah Vaksin: Ihwal Ketakutan, Ilmu, dan Kemanusiaan

Di tengah kelamnya sejarah umat manusia, penyakit datang laksana kabut—tidak terlihat, namun membekukan. Di masa-masa ketika dunia masih percaya bahwa penderitaan adalah hukuman dari langit, penyakit menjelma menjadi makhluk gaib yang tak bisa dipahami, apalagi dilawan. Ia mengambil nyawa tanpa memberi alasan, merobek keluarga, dan membuat kota-kota berlutut dalam keputusasaan. Di sanalah percakapan sunyi dimulai—antara manusia, tubuhnya, dan harapan. Sebuah percakapan yang kelak akan disebut dengan satu nama: vaksin.

Di Indonesia, vaksinasi dimulai pada masa kolonial untuk cacar, berhasil bebas tahun 1974, dan diperluas melalui Program Imunisasi Dasar (EPI) WHO sejak 1974. Akan tetapi, tantangan seperti vaksinasi tertunda di daerah terpencil dan penolakan selama Covid-19 menunjukkan kompleksitas penerapan. Kampanye vaksinasi massal Covid-19 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan dosis tertinggi, meski menghadapi resistensi.  

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta pada pagi hari yang cerah titimangsa 7 Mei 2025, dua sosok penting bertemu untuk membahas masa depan kesehatan global. Bill Gates, filantropis dan pendiri Gates Foundation, duduk berhadapan dengan Presiden Prabowo Subianto dari Indonesia. Pembicaraan mereka, meskipun berfokus pada masa kiwari dan masa depan, sebenarnya berakar pada sejarah panjang—sejarah di mana vaksin telah menjadi penyelamat dan subjek dari ketakutan, harapan, serta kontroversi. Pertemuan ini bukan hanya tentang angka dan strategi; hal ihwal ini adalah saksi bisu dari perjalanan panjang vaksinasi, yang dimulai abad silam dengan tindakan berani seorang ibu di Konstantinopel dan sejak itu menyebar ke seluruh dunia, menyentuh kehidupan di setiap penjuru, termasuk kepulauan Indonesia yang luas.

Vaksin telah membentuk sejarah manusia, khususnya di Indonesia, di mana tantangan geografis, budaya, dan politik telah menguji ketahanan upaya kesehatan masyarakat: dari pemberantasan cacar hingga perjuangan melawan polio dan tuberkulosis, vaksin telah menjadi penjaga diam yang sering kali tak terlihat hingga kehadirannya sangat dibutuhkan. Perjalanan waktu ini di abad ke-18, di mana benih vaksinasi pertama kali ditanam, dan kemudian melangkah melalui waktu untuk memahami bagaimana benih-benih tersebut telah tumbuh menjadi pohon kehidupan yang terus berbuah di abad ke-21.

Alkisah, pada 1718, di kota Konstantinopel yang ramai, Lady Mary Wortley Montagu mengambil keputusan yang akan mengubah jalannya sejarah kedokteran. Dihadapkan dengan kenyataan mengerikan cacar, yang telah merenggut nyawa saudaranya dan meninggalkan bekas luka di wajahnya, ia memilih untuk memvaksinasi anak mudanya dengan virus dalam bentuk yang lebih ringan—praktik yang dikenal sebagai variolasi. Tindakan ini, meskipun kontroversial dan dihadapi resistensi dari otoritas agama dan medis, lahir dari cinta seorang ibu yang putus asa.

Keberanian Montagu tidak sia-sia. Variolasi menyebar, meskipun lambat, dan menjadi dasar bagi pekerjaan revolusioner Edward Jenner pada akhir abad tersebut. Jenner, seorang dokter desa di Inggris, mengamati bahwa para pemerah susu yang pernah terkena cacar sapi tampak kebal terhadap cacar manusia. Tahun 1796, ia menguji teori ini dengan menyuntikkan cacar sapi kepada seorang anak laki-laki dan kemudian mengeksposnya pada cacar manusia, menemukan bahwa anak tersebut memang terlindungi. Inilah lahirnya vaksin cacar, vaksin pertama di dunia.

Penemuan Jenner sangat revolusioner, tetapi tidak tanpa tantangan. Resistensi terhadap vaksinasi datang dari berbagai pihak—pemimpin agama yang melihatnya sebagai campur tangan terhadap kehendak Tuhan, profesional medis yang meragukan keefektifannya, dan masyarakat umum yang takut pada yang tidak diketahui. Kartun-kartun saat itu melukiskan orang yang divaksinasi tumbuh fitur seperti sapi, mencerminkan ketakutan dan kesalahpahaman yang mendalam pada masa itu.

Namun, meskipun menghadapi rintangan ini, vaksin cacar secara bertahap mendapatkan penerimaan, yang akhirnya menyebabkan pemberantasan penyakit tersebut tahun 1980—pencapaian monumental dalam kesehatan masyarakat. Seperti yang ditulis Ian Tizard dalam A History of Vaccines and their Opponents, “Vaksin tidak menyembuhkan penyakit, ia mencegahnya. Hasil positif dari vaksin terlihat dari apa yang tidak terjadi” (2023, hlm. xv). Vaksin adalah janji diam-diam, sebuah perlindungan yang sering kali tidak terlihat hingga dibutuhkan.

Cerita vaksinasi di Indonesia dimulai pada masa kolonial, di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Cacar adalah ancaman besar, dan upaya untuk mengendalikannya melalui vaksinasi dimulai sejak awal abad ke-19. Dari tahun 1804 hingga 1974, baik pemerintah kolonial maupun pasca-kolonial Indonesia berjuang melawan cacar. Pada masa kolonial, upaya vaksinasi yang intensif hampir menghilangkan cacar dari kepulauan ini tahun 1940. Namun, gejolak Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia menyebabkan cacar kembali muncul pada 1947 (Neelakantan, 2010).

Barulah tahun 1974, Indonesia berhasil memberantas cacar, berkat kampanye vaksinasi massal dan sistem pengawasan yang ketat yang diterapkan pada tahun-tahun akhir perjuangan melawan penyakit tersebut. Pencapaian ini merupakan bagian dari upaya global, didukung oleh organisasi seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memberikan bantuan teknis dan sumber daya.

Sifat kepulauan Indonesia menimbulkan tantangan unik. Dengan ribuan pulau, banyak di antaranya terpencil dan sulit dijangkau, pengiriman vaksin memerlukan strategi inovatif dan upaya logistik yang luar biasa. Petugas kesehatan sering harus bepergian dengan perahu atau berjalan kaki untuk mencapai komunitas terpencil, membawa vaksin yang harus disimpan pada suhu tertentu—suatu tantangan tersendiri di iklim tropis.
Salah satu cerita yang menarik adalah tentang Irwan Hakim, seorang perawat klinik komunitas di Kalimantan, yang menggunakan pengeras suara untuk memanggil warga desa ke lokasi vaksinasi, memastikan bahkan anak-anak di daerah terpencil mendapatkan suntikan mereka (UNICEF, 2023). Dedikasinya menggambarkan elemen manusia di balik kampanye vaksinasi, di mana usaha individu menciptakan dampak kolektif.

Lompat ke tahun 2025, kita menemukan Bill Gates dan Presiden Prabowo Subianto membahas masa depan kesehatan di Indonesia. Pertemuan mereka berfokus pada kerja sama kesehatan global, khususnya dalam menangani penyakit menular seperti polio, tuberkulosis, dan malaria, serta mendukung program nutrisi seperti Inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG). Gates memuji kemajuan Indonesia dalam vaksinasi anak, menyoroti upaya negara ini dalam menurunkan mortalitas anak melalui vaksin seperti Rotavirus untuk diare dan Pneumococcus untuk pneumonia (The Washington Post, 2025). Diskusi juga menyentuh pentingnya inovasi dalam pengembangan dan produksi vaksin, dengan Gates Foundation mendukung inisiatif untuk memperluas akses ke inovasi kesehatan dan pertumbuhan inklusif di Indonesia.

Pertemuan ini sangat penting bukan hanya karena apa yang diwakilinya—kemitraan antara filantropi global dan kepemimpinan nasional—tetapi juga karena apa yang disinyalirnya tentang komitmen berkelanjutan terhadap vaksinasi sebagai pondasi kesehatan masyarakat. Di tengah tantangan seperti penyakit yang muncul dan keraguan vaksin, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa vaksinasi tetap menjadi prioritas global.

Arkian, sepanjang sejarah, vaksin telah menghadapi resistensi, sering kali dipicu oleh disinformasi dan ketakutan. Di Indonesia, perihal ini tidak berbeda. Selama pandemi Covid-19, Indonesia menghadapi tantangan signifikan dengan keraguan vaksin. Meskipun meluncurkan kampanye vaksinasi massal pada Januari 2021, negara ini berjuang dengan cakupan awal yang rendah akibat ketersediaan vaksin yang terbatas dan masalah logistik. Akan tetapi, dengan memanfaatkan lokasi publik strategis dan melibatkan sektor swasta, laju vaksinasi meningkat secara signifikan (Arifin et al., 2021).

Cerita pribadi dari masa ini menyoroti baik tantangan maupun kemenangan. Petugas kesehatan seperti Komang di Bali menavigasi jalan-jalan yang hampir kosong untuk mengirimkan vaksin, sementara keluarga seperti Wayan dan Ni Luh berjuang dengan dampak ekonomi pandemi tetapi menemukan harapan dalam vaksinasi (UNICEF, 2021). Cerita-cerita ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap statistik ada wajah manusia, masing-masing dengan ketakutan, harapan, dan keputusan mereka sendiri mengenai vaksinasi.

Vaksin adalah bentuk cinta yang tak mendramatisir. Bukan cinta laksana Romeo yang berteriak di balkon, melainkan cinta seorang ibu yang mendekap anaknya usai imunisasi. Cinta seorang peneliti yang menghabiskan dua dekade mengamati satu virus. Cinta yang tidak berharap pujian, hanya ingin dunia tetap berjalan.

Saat kita merenungkan sejarah vaksin, dari tindakan berani Lady Montagu hingga pertemuan di Jakarta, kita melihat tapiseri yang ditenun dengan benang-benang ketakutan, ilmu, dan kemanusiaan. Vaksin tidak hanya mewakili kemajuan medis tetapi juga pilihan sosial—pilihan untuk mempercayai ilmu, mengatasi ketakutan, dan bertindak demi kebaikan bersama.

Di Indonesia, perjalanan ini ditandai dengan kemenangan, seperti pemberantasan cacar, dan tantangan yang sedang berlangsung, seperti memastikan vaksinasi tepat waktu dan melawan disinformasi. Namun, di tengah semua itu, ada konstan: pekerjaan diam dan konsisten dari petugas kesehatan, ilmuwan, dan pembuat kebijakan yang percaya pada kekuatan vaksin untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa.

Pertemuan antara Bill Gates dan Presiden Prabowo Subianto adalah sinar harapan, menandakan komitmen berkelanjutan terhadap penyebab ini. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun jalannya panjang dan penuh rintangan, tujuan—dunia yang lebih sehat dan lebih adil—layak untuk setiap langkah.

Dalam kata-kata Ian Tizard, “Vaksin tidak menyembuhkan penyakit, ia mencegahnya. Hasil positif dari vaksin terlihat dari apa yang tidak terjadi” (2023, hlm. xv). Memang, ukuran sebenarnya dari kesuksesan vaksin terletak pada penyakit yang tidak terjadi, nyawa yang tidak hilang, dan masa depan yang tidak dipotong pendek.

Saat kita menatap masa depan, mari kita bawa pelajaran dari masa silam, memeluk vaksin tidak hanya sebagai alat ilmu tetapi juga sebagai simbol kemanusiaan kolektif kita—kemampuan kita untuk saling peduli, bahkan mereka yang mungkin tidak pernah kita temui, dan membangun dunia di mana ketakutan berganti harapan, dan keheningan berbicara banyak hal.

Mungkin di sinilah letak keindahannya. Vaksin tidak datang untuk dipuja. Ia datang untuk melindungi. Dan perlindungan tidak butuh pengakuan. Ia hanya butuh keberanian, kerendahan hati, dan keputusan kecil yang diambil dengan cinta.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo