Setiap 17 Agustus di Kabanjahé, kemerdekaan tiba bukan dengan dentuman meriam, melainkan bersama gerimis yang pelan-pelan merayap dari langit. Jalan-jalan utamanya menjadi kanvas merah-putih: gerbang dicat ulang, catnya masih basah; drum band anak sekolah berjalan teratur dalam seragam yang kebesaran, celana menggantung canggung di pergelangan kaki. Melodi “Erkata Bedil” (Laporan Senapan) di udara tipis dan dingin dataran tinggi, menyusup seperti kabut yang tahu jalan dari bukit ke bukit.
Mary Margaret Steedly memulai Rifle Reports dari tepi dunia seperti ini, tempat republik hanyalah gema yang sampai belakangan, bukan suara yang memimpin paduan. Ia menulis tentang perempuan-perempuan kamitua yang berdiri di pinggir jalan, dada mereka menyimpan medali seperti jimat, mata mereka jauh menembus tahun-tahun ketika kemerdekaan adalah beban di pundak, bukan angka merah di kalender.
Kemerdekaan di sini tidak pernah menjadi kalimat tegas di podium Jakarta. Ia adalah luka yang tak sembuh, arak-arakan pengungsian di jalan tanah, dan kadang cuma sepotong kisah yang keluar di sela-sela mengupas bawang di dapur. Steedly menuntun pembaca ke Tanah Karo. Suatu wilayah yang ia sebut “pinggiran bangsa” untuk mendengar cerita yang tidak pernah dipanggil ke panggung besar sejarah, tapi tetap hidup di lorong pasar, di batu nisan tanpa nama, dan di nada gemetar lagu perjuangan.
Rifle Reports: A Story of Indonesian Independence (2013) lahir dari empat belas bulan riset etnografis antara 1993-1995, sebagian besar di Medan dan dataran tinggi Karo. Ia berangkat dari kegelisahan pada historiografi kemerdekaan yang terlalu Jawa-sentris, elitis, maskulin. Alih-alih mengulang Surabaya, Bandung, Yogyakarta, ia menyusuri jalan-jalan Kabanjahé, menyimak Revolusi 1945-1949 dari mata warga Karo, terutama perempuan.
Buku ini dibuka dengan perayaan 17 Agustus: parade anak sekolah, veteran, replika tokoh perjuangan; Taman Makam Pahlawan yang menyimpan 735 nama tapi hanya ada satu perempuan; dan lagu-lagu patriotik Karo seperti “Sora Mido-ido” karya Djaga Depari. Dari sana, Steedly mengurai bahwa memori kolektif di Karo dibentuk bukan semata oleh perang, tapi juga oleh ritual tahunan, simbol visual, dan cerita lisan yang melintasi generasi.
Lewat lebih dari seratus wawancara yang tiga perempatnya perempuan, ia mengumpulkan kisah perawat, pengangkut logistik, petani, pedagang, guru, bahkan bekas prajurit. Ia menenun narasi pribadi itu dengan arsip kolonial dan pascakolonial, foto keluarga, lagu, komik perjuangan, dokumen dari Belanda dan Jakarta. Buku ini bergerak kronologis dari Proklamasi 1945 hingga Perjanjian Renville 1948, tapi tak segan melompat ke kilas balik, fragmen kenangan, sejarah lisan yang menunjukkan: “kemerdekaan” di pinggiran tidak pernah satu makna.
Tema besar yang mengalir: tarik-menarik antara pusat dan pinggiran, gender di medan perang, dan cara memori kolektif dibentuk tapi kadang dihapus oleh negara. Steedly menolak menganggap kisah Karo sekadar “tiruan Jakarta” atau “ritual kosong.” Baginya, setiap cerita, bahkan yang terputus, adalah potongan peta emosional bangsa. Dan peta itu akan selalu timpang jika kita berani menghapus pinggirannya.
Steedly menahbiskan Tanah Karo sebagai “the outskirts of the nation” (pinggiran bangsa), bukan semata kategori geografis, melainkan posisi politik dan kultural. Dalam sejarah resmi, perjuangan kemerdekaan Indonesia sering dipetakan dari pusat: Jakarta sebagai nadi politik, Surabaya sebagai jantung perlawanan, Yogyakarta sebagai simbol republik. Di luar itu, pinggiran kerap direduksi menjadi latar belakang atau penonton. Akan tetapi, “kemerdekaan” di Karo bukan sekadar gema yang datang terlambat. Perang di sini bukan rumor dari radio; ia adalah nyala api yang membakar desa, pengungsian yang memisahkan keluarga, dan keputusan-keputusan genting yang diambil di ladang atau di dapur.
Dengan memusatkan lensa pada Kabanjahé dan desa-desa di sekitarnya, Steedly menggeser gravitasi historiografi. Ia mendedah bahwa keterlibatan Karo bukanlah bayangan dari peristiwa di Jawa, melainkan sebuah medan politik yang punya logika, urgensi, dan bahasa sendiri. Pinggiran, dalam buku ini, tidak tunduk pada pusat. Ia berdiri sebagai cermin yang mengungkap ilusi universalitas narasi nasional.
Perempuan dalam revolusi di buku sejarah resmi sering muncul sebagai figur tunggal. Pahlawan nasional yang sudah disaring dan diamankan dalam kisah heroik nan rapi. Rifle Reports meruntuhkan simplifikasi itu. Steedly mewawancarai perawat lapangan, pengangkut logistik, penyanyi lagu perjuangan, hingga perempuan yang tugasnya “mengubur mayat” setelah pertempuran. Ada Muli beru Sebayang, satu-satunya perempuan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahé, yang kematiannya diselimuti versi-versi berbeda: disentri, pendarahan menstruasi, atau mungkin cerita yang sengaja tak diucapkan.
Steedly tidak mencoba “mengoreksi” ingatan, tetapi membiarkan ambiguitas itu berbicara. Dalam perang, tubuh perempuan menjadi medan tidak terlihat, baik sebagai sumber tenaga kerja, simbol moralitas, maupun subjek yang mengalami kekerasan yang tidak pernah masuk arsip resmi. Dengan itu, ia menantang imajinasi nasionalisme yang memisahkan peran gender: laki-laki di medan tempur, perempuan di rumah. Batas itu selalu kabur di Karo.
Karya ini adalah studi tentang bagaimana sejarah diingat, bukan hanya bagaimana ia terjadi. Di Karo, memori kolektif terjalin dalam parade 17 Agustus, lagu-lagu Djaga Depari, monumen dengan batu nisan tanpa nama, dan kisah yang diwariskan di teras rumah. Veteran laki-laki berkumpul dalam “nostalgia sessions”—istilah mereka sendiri—untuk mengulang cerita perang, sementara perempuan lebih sering berbicara pada anak-cucu yang tak selalu mau mendengar.
Steedly memperlihatkan bagaimana ingatan dibentuk oleh penonton: kisah yang diceritakan kepada sesama veteran berbeda dari yang diceritakan kepada peneliti asing, dan keduanya berbeda dari cerita untuk anak sekolah. Lupa pun punya fungsi politik: ia menyaring trauma, melindungi rahasia, dan kadang mengikuti garis sensor negara yang hanya mengizinkan versi tertentu untuk hidup di ruang publik.
Presiden Sukarno menyebut kemerdekaan sebagai “jembatan emas” yang harus diseberangi bersama, tanpa bertanya apa yang ada di seberangnya. Lema “merdeka” di Tanah Karo punya terjemahan yang cair: bagi sebagian orang, ia adalah janji mobilitas sosial; bagi yang lain, ia berarti tanah yang kembali bisa digarap tanpa gangguan tentara; dan bagi beberapa, ia hanya alasan untuk “ikut maju” bersama kawan-kawan meski tidak tahu pasti tujuan akhir.
Steedly menolak menganggap hal ihwal ini sebagai “kebodohan politik”. Justru di sanalah letak kompleksitasnya: nasionalisme bukan hanya ideologi yang dirancang di ruang rapat, melainkan hasil tawar-menawar antara konteks lokal, kepentingan pribadi, dan arus besar politik dunia. Kemerdekaan di Karo bukan tiruan dari naskah pusat. Ia adalah naskah sendiri, ditulis dengan tinta hujan, darah, dan tawa di tengah pengungsian.
Steedly menulis dengan kesabaran seorang pengarsip dan kepekaan seorang pendongeng. Ia tidak memburu “kisah besar” yang bisa menjadikan bukunya bestseller nasional; ia memburu suara yang rapuh, terputus, bahkan kadang tidak koheren. Cerita yang biasa terselip di sela jeda napas pembicara. Inilah kekuatan Rifle Reports: keberaniannya membiarkan ambiguitas berdiri tanpa memaksa pembaca menerima satu “versi benar.”
Secara metodologis, buku ini mengawinkan etnografi, sejarah lisan, dan arsip tertulis dengan cara yang jarang terlihat di kajian revolusi Indonesia. Steedly mengerti bahwa fakta perang sering kali datang melalui foto buram, lagu pop daerah, atau rumor yang beredar di pasar, bukan hanya dokumen negara. Pendekatan ini membebaskan sejarah dari keangkuhan akademik yang sering hanya mengandalkan catatan resmi.
Walakin, justru kekuatan ini yang bisa menjadi kelemahan bagi sebagian pembaca. Mereka yang mencari kronologi rapi dari Revolusi 1945-1949 mungkin akan tersandung oleh alur buku yang kerap melompat, dari parade 17 Agustus ke kisah pribadi, dari analisis teori nasionalisme ke potongan lirik lagu. Struktur ini lebih menyerupai anyaman tikar Karo: benang-benang melintang yang harus dilihat dari jarak tertentu untuk mengerti polanya.
Kritik liyan adalah bahwa Steedly, meskipun sadar akan posisi politiknya sebagai peneliti asing, tidak selalu membongkar bias yang melekat pada hubungan kuasa antara peneliti dan narasumber. Ada momen ketika jarak itu terasa, misalnya saat wawancara dengan bekas perawat yang pernah terlibat organisasi kiri; interaksi itu lebih ditutup dengan simpati diam tinimbang eksplorasi yang mungkin mengungkap lapisan-lapisan trauma politik 1965.
Meski begitu, nilai historis buku ini tidak terbantahkan. Rifle Reports menambah dimensi penting pada historiografi kemerdekaan Indonesia: dimensi lokal, perempuan, dan “pinggiran” yang sering diabaikan. Ia menantang kita untuk mengakui bahwa nasionalisme bukanlah monumen tunggal yang bedegap, melainkan pasar ingar-bingar penuh suara, tawar-menawar, dan kisah-kisah yang saling bertubrukan.
Cerita-cerita dari Rifle Reports seolah lahir untuk menggugat cara kita membaca sejarah hari ini. Tanah Karo dalam buku ini bukan hanya latar perang yang telah usai, melainkan cermin bagi Indonesia kontemporer. Sejarah sebuah negara yang masih bergulat dengan pertanyaan lama: siapa yang berhak wicara untuk bangsa?
Steedly mengingatkan bahwa marginalisasi daerah bukan sekadar warisan kolonial, tetapi juga produk dari nasionalisme yang terpusat. Narasi pusat-pinggiran yang ia buka dalam konteks 1945-1949 masih berulang dalam bentuk kebijakan pembangunan yang meminggirkan daerah luar Jawa, penentuan kurikulum sejarah yang mengabaikan versi lokal, dan representasi media yang menempatkan “pinggiran” sebagai eksotis atau tertinggal.
Isu politik memori pun masih hangat. Seperti veteran Karo yang menyesuaikan cerita mereka untuk audiens berbeda, negara modern pun memilih fragmen sejarah yang nyaman untuk dipamerkan. Sementara bagian yang tidak sesuai dengan narasi heroik dibungkam atau diarsipkan di ruang terkunci. Dalam konteks ini, kerja Steedly adalah tindakan politis: menyelamatkan cerita-cerita yang mungkin akan menghilang dalam satu generasi lagi.
Tentu, ada soal gender. Perempuan dalam Rifle Reports adalah buruh perang yang tidak pernah diakui secara penuh, situasi yang masih berulang dalam konflik kontemporer, dari pengungsian di Papua hingga pekerja migran yang terseret krisis global. Buku ini mengajarkan bahwa mengakui peran perempuan bukan sekadar memberi mereka “panggung” dalam sejarah, tetapi juga membongkar sistem nilai yang selama ini mengatur siapa yang layak disebut pahlawan.
Dengan demikian, Rifle Reports bukan sekadar arsip masa lalu. Ia adalah seruan untuk membangun historiografi yang adil dan memberi ruang bagi suara yang tidak berasal dari podium pusat, yang menyadari bahwa pinggiran adalah pusat bagi dirinya sendiri, dan bahwa kemerdekaan selalu perlu didefinisikan ulang dari tempat di mana ia dijalani, bukan hanya dari tempat di mana ia diumumkan.
Hujan di Hari Kemerdekaan di Kabanjahé bukan sekadar cuaca; ia adalah ritual tidak tertulis. Butir-butir air yang jatuh di atas bendera, seragam drum band yang basah kuyup, dan wajah-wajah yang mengeras menahan dingin. Semuanya adalah arsip yang hidup. Dalam Rifle Reports, Mary Margaret Steedly menangkap hujan itu: ia membekukan tetes-tetesnya di halaman buku, lantas membiarkannya menguap menjadi cerita-cerita yang tidak pernah masuk buku teks sekolah.
Kemerdekaan, dari sudut pandang Tanah Karo, adalah sebuah lanskap berlapis: parade yang riuh di alun-alun, kuburan pahlawan yang sunyi, lagu yang diperdengarkan dari generasi ke generasi, dan kisah yang diucapkan setengah berbisik di tepi tungku. Steedly mengajak kita memahami bahwa republik ini tidak dibangun oleh satu cerita tunggal, melainkan oleh ribuan cerita kecil yang sering saling bertentangan namun sama-sama sahih.
Kalakian, lewat buku Rifle Reports, kita belajar bahwa pinggiran bukanlah bayangan pusat, melainkan sumber cahaya yang berbeda. Ia menantang kita untuk menulis ulang sejarah dengan telinga yang mau mendengar suara serak dari lereng gunung, dengan mata yang sanggup melihat keberanian di tengah ladang, dan dengan hati yang mengerti bahwa kemerdekaan adalah proses yang selalu basah oleh hujan, air mata, dan keringat. Seperti hujan 17 Agustus di Kabanjahé, kemerdekaan sejati mungkin tak pernah kering.
Kemerdekaan di negeri ini kadang seperti payung plastik murahan yang dibagi gratis saat kampanye yang warnanya cerah, pegangannya ringkih, dan begitu angin kencang datang, ia melipat diri sendiri seperti malu pada tugasnya. Hujan 17 Agustus di Kabanjahé tetap turun, membasahi bendera dan pidato yang dihafal setengah hati, seakan langit ingin menguji seberapa jauh rakyat mau basah demi “janji emas” itu. Mary Margaret Steedly menulisnya seperti orang menertawakan nasib sendiri: manis, getir, dan penuh tatapan miring. Karena, bukankah sedikit bergajulan bila kita merayakan kemerdekaan sambil masih antre izin untuk benar-benar bicara?
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


