Dark
Light
Dark
Light

Toxic Positivity: Ketika Semua Harus Terlihat Baik itu Justru Bisa Merusak

Toxic Positivity: Ketika Semua Harus Terlihat Baik itu Justru Bisa Merusak

Nada indah dari suara gitar tidak akan muncul jika senar terlalu dikencangkan, pun jika senar terlalu dikendurkan. Ketika senar dipasang pas, artinya tidak begitu kencang dan kendur, maka akan menimbulkan suara yang merdu. Begitu pula dalam menjalani hidup. Tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri adalah pilihan tepat, memilih jalan tengah. Itulah perumpamaan yang mungkin bisa disebut sebagai moderat.

Kata moderat tidak hanya milik agama. Moderat diperlukan dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, termasuk membangun mental yang sehat. Moderat dalam menjalani hidup bisa berarti mengakui emosi negatif dan positif yang hadir dalam diri manusia. Tidak menyingkirkan seluruh emosi yang dianggap mengesalkan dan menggenggam erat emosi yang dianggap menyenangkan.

Ketika memiliki keinginan yang sungguh-sungguh diperjuangkan namun ternyata gagal untuk meraihnya, kita boleh bersedih, menangis, bahkan memaki. Kita boleh untuk mengakui kegagalan. Tidak perlu terlihat baik-baik saja untuk menyembunyikan apa yang kita rasakan. Ketika berambisi untuk selalu menunjukkan hal yang baik, bagus, positif, menolak hal sebaliknya, justru berpotensi merusak dan membuat mental menjadi tidak sehat.

Jika diri sendiri atau orang terdekat memiliki kecenderungan selalu memandang segala hal dengan positif secara berlebihan, walaupun di hadapan hal-hal yang layak untuk diberikan respons yang negatif, kita patut sejenak berhenti dan merenung beberapa saat. Jangan-jangan, itu sindrom dari toxic positivity.

Toxic positivity merupakan fenomena ketika seseorang memaksakan pandangan positif secara berlebihan sehingga mengabaikan atau menolak emosi negatif yang dialami diri atau orang lain. Ini merupakan keyakinan yang mendorong seseorang harus memberikan pandangan positif pada semua pengalaman, bahkan yang sangat tragis.

Meskipun memiliki pandangan positif merupakan hal yang baik, toxic positivity justru berdampak buruk karena menuntut seseorang untuk terus terlihat bahagia dan optimis meski sedang menghadapi situasi sulit. 

Berdasarkan penelitian oleh Wood et al (2009), terus mengulang kalimat positif memang dapat berguna bagi sebagian orang, tetapi jika konteksnya tidak tepat dapat menjadi boomerang karena bisa menekan perasaan yang sebenarnya dialami dan perlu direspons dengan benar.

Toxic Positivity bisa ditandai dengan beberapa ciri. Pertama, menghindari diskusi tentang emosi negatif. Seseorang dengan pola pikir ini cenderung meminimalkan atau menolak pembicaraan tentang masalah dan perasaan negatif. Kedua, memberikan respon klise. Ungkapan seperti "Semua akan baik-baik saja" atau "Jangan sedih, masih ada yang lebih buruk" sering menjadi jawaban tanpa memahami konteks perasaan dan situasi.

Ketiga, menyalahkan emosi negatif. Anggapan bahwa merasa sedih, marah, atau kecewa adalah kelemahan, sehingga emosi tersebut harus ditekan atau diabaikan.  Keempat, tekanan untuk terlihat bahagia. Seseorang yang merasa harus terus tersenyum atau bersikap positif, meskipun hati sedang terluka. 

Beberapa ciri di atas jika dilakukan terus menerus akan menimbulkan beberapa akibat. Dampak yang muncul bisa beberapa bentuk, seperti penolakan terhadap emosi yang valid. Menolak emosi negatif membuat individu sulit memproses pengalaman emosionalnya dan dapat menyebabkan stres. Selain itu berpotensi menghambat komunikasi. Seseorang yang merasa tidak dimengerti karena respons toxic positivity mungkin akan menarik diri dari hubungan sosial.

Selanjutnya, mengisolasi diri. Emosi negatif yang tidak diterima dapat membuat seseorang merasa sendirian dan tidak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.  Dan yang terakhir adalah mengurangi kesadaran diri. Dengan menekan emosi negatif, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk memahami dirinya sendiri dan bertumbuh melalui pengalaman tersebut.

Beberapa contoh toxic positivity yang sering muncul misalnya ketika seorang karyawan mengeluh tentang tekanan kerja atau job desk berlebih, respon sekitar biasanya memberi tanggapan yang sekilas terdengar positif tetapi sebenarnya toxic: "Kamu harus bersyukur masih punya pekerjaan, jangan mengeluh."

Dalam kehidupan pribadi, ketika seseorang sedang berduka kehilangan sesuatu hal atau orang tercinta, biasanya ramai orang memberi nasihat:

"Jangan menangis, pasti ada hikmah di balik semua ini." Contoh lain yang juga sering ditemui misalnya memberi tahu istri yang suaminya telah meninggal agar jangan bersedih, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan dan pasti ada hikmahnya. 

Menghindari Toxic Positivity 
Positivitas merupakan hal baik jika diterapkan secara bijak. Namun, ketika digunakan untuk menekan atau menolak emosi negatif, ia akan beralih menjadi beracun. Menghadapi emosi secara sehat, baik positif maupun negatif adalah kunci untuk keseimbangan emosional dan kesehatan mental yang lebih baik.

Menurut laman medicalnewstoday (31/3/2021) terdapat beberapa strategi dalam menghindari toxic positivity, diantaranya mengenali emosi negatif sebagai hal yang normal dan merupakan bagian penting dari pengalaman manusia, mengidentifikasi dan mengendalikan emosi daripada mencoba menghindarinya, berbicara dengan orang-orang terpercaya tentang emosi, termasuk perasaan negatif, dan mencari dukungan dari orang-orang yang tidak menghakimi, seperti teman terpercaya atau terapis.
 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo