Dark
Light
Dark
Light

Pembelajaran Sastra di Sekolah; Dihafal atau Dihayati?

Pembelajaran Sastra di Sekolah; Dihafal atau Dihayati?

Sastra dan Reduksi Kognitif di Kelas
Di banyak ruang kelas, pelajaran sastra kerap diperlakukan seperti kumpulan data mati. Puisi dipenggal menjadi larik-larik yang dianalisis secara teknis: ini metafora, itu hiperbola. Cerpen diringkas dengan pendekatan struktural: siapa tokohnya, apa konfliknya, di mana latarnya. Siswa tak ditanya bagaimana perasaannya saat membaca puisi Chairil Anwar, melainkan diminta menghafal tahun lahir sang penyair dan menyebutkan gaya bahasanya.

Situasi ini menggambarkan bahwa sastra belum sungguh-sungguh hidup di ruang belajar kita. Ia hadir dalam bentuk teks, masuk dalam soal ujian, tapi jarang menyentuh ruang batin dan imajinasi siswa. Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Louise M. Rosenblatt, seorang tokoh pendidikan sastra, "reading is a transaction between the reader and the text"; membaca adalah transaksi batin antara pembaca dan teks, bukan sekadar proses decoding makna (Rosenblatt, Literature as Exploration, New York: Modern Language Association, 1995: 24).

Namun yang terjadi di sekolah kita adalah reduksi: sastra dijadikan alat uji kognitif semata. Keindahan diabaikan, kedalaman rasa dilupakan. Akibatnya, siswa kehilangan gairah untuk membaca sastra, apalagi menulisnya. Sastra tak lagi menumbuhkan kepekaan, justru terasa sebagai beban.

Sastra sebagai Pintu Imajinasi dan Empati
Hal ini diperparah oleh kultur digital yang semakin instan. TikTok, reels, dan konten video pendek menyita perhatian remaja. Ketimbang membaca cerpen Seno Gumira Ajidarma, mereka lebih tertarik menonton potongan drama Korea atau sinetron remaja. Ketimbang menghayati puisi, mereka lebih hafal lirik lagu patah hati yang viral di media sosial. Sementara guru, terbatas oleh kurikulum dan tekanan ujian nasional, tak mampu memberi ruang eksperiensial untuk sastra di kelas.

Padahal, sebagaimana dikatakan Albert Einstein, "Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world"; imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Sebab pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia (Einstein, Cosmic Religion: With Other Opinions and Aphorisms, New York: Dover Publications, 2009: 97). Sastra adalah pintu menuju imajinasi, dan dalam konteks pendidikan, ia berperan membentuk manusia yang utuh: yang berpikir sekaligus merasa.

Jika pengajaran sastra hanya menekankan aspek kognitif, kita sedang mencetak generasi hafal tapi tidak peka, pandai menjawab soal tapi miskin empati. Padahal, pendidikan sejati adalah yang menyentuh sisi insani. Seperti dikatakan oleh Paulo Freire bahwa "Education must begin with the solution of the teacher-student contradiction... so that both are simultaneously teachers and students"—Pendidikan harus dimulai dari pemecahan kontradiksi guru-siswa, agar keduanya secara bersamaan menjadi guru dan murid (Freire, Pedagogy of the Oppressed, New York: Continuum, 2000: 72). Guru sastra seharusnya bukan hanya pengajar, tapi juga pembaca dan penulis yang belajar bersama siswa, membuka ruang pengalaman estetis di kelas.

Revitalisasi Sastra sebagai Pengalaman Batin
Kurikulum perlu disusun ulang agar sastra tidak menjadi pelengkap pelajaran bahasa, tapi menjadi jantung pembelajaran manusiawi. Guru sastra harus diberi pelatihan untuk memperkenalkan metode pembelajaran berbasis pengalaman: pembacaan performatif, diskusi tafsir, menulis kreatif, dan refleksi. Siswa diajak bukan untuk menaklukkan teks, tapi untuk memasuki dan mengalami dunia yang ditawarkan oleh teks.

Beberapa sekolah alternatif dan komunitas literasi telah memulai praktik semacam itu. Misalnya, komunitas Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) di Purwokerto, Komunitas Selasa Sastra dan Rumah Baca Komunitas (RBK) di Bantul Yogyakarta, atau Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) di Salatiga. Mereka menempatkan sastra sebagai jendela ke kehidupan. Siswa membaca puisi dan cerpen tanpa tekanan nilai, tetapi sebagai cara memahami dunia dan diri. Karya-karya siswa pun tak kalah menyentuh dibanding buku pelajaran. Mereka belajar menulis bukan karena tugas, melainkan karena dorongan rasa.

Sayangnya, program seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sering berhenti di tataran administratif. Banyak sekolah menjadikan GLS sekadar formalitas: baca lima belas menit sebelum pelajaran, tanpa pendalaman. Dokumentasi kegiatan literasi lebih penting daripada dampaknya. Sastra tidak bisa hanya dijadikan laporan; ia harus menjadi pengalaman batin.

Salah satu pendekatan yang bisa dikembangkan adalah integrasi metode ekspresif dalam pembelajaran sastra, seperti yang ditawarkan oleh James Britton. Ia menyebut pentingnya writing to learn—menulis untuk belajar, bukan sekadar menulis sebagai hasil pembelajaran. Dengan menulis reflektif, siswa diajak menemukan diri dan makna di balik bacaan (Britton, Language and Learning, Portsmouth: Heinemann, 1970: 45).

Demikian pula, pendekatan Reader-Response yang dikembangkan Wolfgang Iser menunjukkan bahwa pembaca bukanlah penerima pasif, melainkan pencipta makna bersama teks. Dalam The Act of Reading, Iser menulis: "Texts contain gaps that the reader must fill in; reading is thus a creative act". Teks mengandung celah-celah yang harus diisi pembaca; membaca adalah tindakan kreatif (Iser, The Act of Reading, Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1978: 275).

Kini saatnya kita menjawab pertanyaan mendasar: apakah kita ingin mendidik manusia yang hafal atau yang merasa? Apakah kita ingin menghasilkan lulusan yang terampil menjawab soal, atau yang sanggup merasakan luka sesama manusia dan mengungkapkannya secara jernih dan indah?

Revitalisasi pembelajaran sastra adalah kebutuhan mendesak. Ia bukan sekadar pelajaran tambahan, tetapi inti dari pendidikan humanis. Jika kita terus mengabaikan kekuatan sastra, kita sedang membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam keheningan rasa, kekeringan imajinasi, dan kerapuhan empati.

Sudah waktunya sastra tidak lagi diposisikan sebagai materi hafalan. Mari hadirkan ia sebagai ruang perjumpaan batin: antara teks dan manusia, antara imajinasi dan kenyataan. Sebab dari sana, lahir manusia yang lebih utuh, lebih halus, dan lebih bijaksana.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo