Hujan datang ke Sumatra seperti sesuatu yang kembali menagih. Ia turun deras, seolah ingin mencari jejak yang hilang dari peta yang dulu dipenuhi hutan. Yang ditemukannya kini adalah lereng terbuka, tanah lelah, dan sungai yang kehilangan penyangga. Di lembah itu air bergerak tanpa ragu, menyapu apa saja yang berdiri di depannya. Rumah roboh. Jembatan patah. Jalan terputus. Di balik semua itu seakan ada sebuah pertanyaan yang tak diucapkan. Pertanyaan tentang bagaimana tanah ini berubah begitu cepat dan siapa yang diam ketika perubahan itu terjadi.
Di televisi seorang pejabat tampil dengan rompi yang tampak baru. Ia berbicara tentang cuaca yang ekstrem, tentang hujan yang tak biasa, tentang siklus alam. Kata-katanya mengalir seperti garis yang telah dihafal. Namun kamera memperlihatkan hal lain. Di baliknya ada potongan kayu besar yang tersangkut di bebatuan. Permukaannya halus. Bekas gergaji masih terlihat jelas. Tak ada badai yang mampu menghasilkan tanda serapi itu. Banjir hanya membawa bukti yang sudah lama ditinggalkan manusia di hulu.
Di tiga provinsi yang terdampak cerita yang sama berulang. Di Aceh, seorang ibu berdiri sendirian di depan rumah yang tinggal separuh. Ia memandang air yang masih keruh dan berharap nama anaknya muncul di daftar selamat. Di Sumatera Utara, seorang relawan mengangkat kantong jenazah sambil berhenti tiap beberapa meter untuk memastikan pijakan. Di Sumatera Barat, seorang bapak mengumpulkan batu bata yang tersisa, mencoba menghitung apa yang masih mungkin diselamatkan. Mereka semua terdampak oleh sesuatu yang tampak datang dari langit, padahal jejaknya dimulai jauh di balik perbukitan yang gundul.
Pertanyaan mengapa bencana ini tidak disebut bencana nasional terdengar di banyak tempat. Seperti gumaman yang pelan tetapi terus tumbuh. Orang yang bertanya tahu bahwa jawaban resminya akan berputar-putar. Bahwa keputusan seperti itu melibatkan konsekuensi besar. Bahwa kata nasional akan menarik perhatian yang tidak diinginkan ke arah hulu. Ke arah izin sawit. Ke arah konsesi tambang. Ke arah logging yang terlihat jelas tetapi jarang diakui. Pengakuan semacam itu selalu lebih berat daripada membangun tenda darurat di lapangan sepak bola.
Negara sering memilih untuk menjelaskan, bukan mengakui. Ketika sesuatu runtuh ia menggelar konferensi pers. Ketika sesuatu hilang ia membentuk tim koordinasi. Ketika sesuatu meluas ia menambah jumlah rapat. Namun penjelasan tidak memiliki tenaga jika ia hanya menutupi fakta. Hujan memang ekstrem tetapi ekstrem bukan berarti tanpa penyebab. Alam berubah ketika manusia mengubahnya lebih dulu. Dan perubahan yang dilakukan tanpa imajinasi jangka panjang selalu menghasilkan kejutan yang tampak tiba-tiba.
Di banyak desa air membawa batang pohon besar yang tak seharusnya berada di sungai. Beberapa di antaranya masih memiliki sisa akar, seakan baru ditebang sebelum musim hujan. Penduduk melihatnya dan saling berbisik. Mereka tahu apa artinya. Mereka tahu siapa yang bergerak di hulu. Mereka tahu bahwa tidak semua yang hilang karena banjir datang dari alam. Ada hal lain yang hilang lebih dulu. Hutan, misalnya. Atau kewenangan yang diselewengkan. Atau rasa takut untuk melawan suara gergaji.
Bencana selalu terlihat seperti kejadian sesaat. Padahal ia adalah garis panjang yang ditarik dari keputusan-keputusan kecil yang tampak wajar. Satu izin yang diberikan tanpa kajian. Satu perambahan yang dibiarkan. Satu laporan yang dipalsukan. Satu proyek yang disegerakan tanpa memikirkan lereng. Bencana hanya menunggu di ujung garis itu. Menunggu sampai seseorang mengira semuanya baik-baik saja.
Ketika udara mulai cerah warga mulai berjalan melewati lumpur yang menutup jalan. Mereka menemukan pakaian yang terdampar di pagar. Potongan atap di sawah. Sepeda motor yang tersangkut di pohon rendah. Semua itu menyusun kembali cerita yang tidak diceritakan oleh pejabat. Cerita tentang air yang tidak berhenti. Tentang tanah yang tak mampu bertahan. Tentang bukit yang menurunkan bebannya karena tak lagi memiliki akar yang mengikatnya.
Ada ironi yang sulit dihindari. Di negara ini kita memiliki begitu banyak kata untuk menjelaskan harapan tetapi sangat sedikit kata untuk menjelaskan tanggung jawab. Ketika banjir datang kita berkata alam sedang marah. Ketika longsor terjadi kita berkata tanah rapuh. Namun kita jarang berkata bahwa pilihan manusia turut membentuk amarah itu. Kita jarang berkata bahwa tanah rapuh karena kita yang membuatnya demikian. Kita lebih memilih mengulang kalimat lama bahwa hujan tak bisa ditebak. Padahal yang tak bisa ditebak adalah cara kita terus mengabaikan peringatan yang sama.
Di sebuah desa seorang anak menggambar rumah yang tenggelam sebagian. Ketika ditanya mengapa ia tersenyum ia menjawab bahwa rumah barunya mungkin akan lebih kuat karena ayahnya berjanji membangunnya dari batu. Ia tidak tahu bahwa kekuatan rumah tak berarti apa pun jika bukit di atasnya terus dikupas sedikit demi sedikit. Ia tidak tahu bahwa gambar itu mungkin akan digambar lagi beberapa tahun ke depan jika tidak ada yang menghentikan apa yang terjadi di hulu.
Sebagian orang menganggap bencana adalah takdir. Penjelasan ini mudah diterima. Takdir tidak bisa digugat. Namun jika takdir hanya digunakan untuk mengalihkan tanggung jawab maka ia berubah menjadi alasan yang lemah. Bencana Sumatra menunjukkan bahwa takdir terkadang hanyalah nama lain dari kelalaian. Kelalaian yang berlapis. Kelalaian yang berjalan perlahan. Kelalaian yang sering disembunyikan dengan kalimat formal yang terdengar meyakinkan.
Tidak ada badai yang memilih targetnya. Tidak ada hujan yang berpihak. Yang berpihak adalah keputusan manusia yang mengubah lanskap. Yang berpihak adalah izin yang diberikan demi keuntungan cepat. Yang berpihak adalah pembiaran bertahun-tahun yang membuat lereng kehilangan keteduhannya. Bencana hanya memetakan ulang keberpihakan itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam bentuk air yang menelan jembatan. Dalam bentuk tanah yang melepaskan diri. Dalam bentuk jalan yang hilang dari peta.
Ketika malam tiba suara hujan kembali turun. Tidak sederas sebelumnya tetapi cukup untuk membuat sebagian warga gelisah. Mereka duduk di depan rumah sementara dan mendengarkan radio kecil yang memutar berita. Tidak ada pembaruan yang benar-benar baru. Korban bertambah. Evakuasi berlanjut. Pemerintah bekerja. Kalimat yang sama terus muncul. Namun jeda di antara kalimat itu terasa hampa. Di jeda itulah orang menyadari bahwa mereka sedang menghadapi sesuatu yang lebih besar daripada cuaca. Mereka sedang menghadapi pola yang berulang.
Air akhirnya surut. Tetapi seperti selalu air meninggalkan tanda. Tanda itu ada di batang pohon yang longsor. Ada di peta yang berubah. Ada di mata orang-orang yang kehilangan. Dan tanda itu juga ada di cara negara menjawab. Tidak dengan pengakuan. Tidak dengan keberanian. Hanya dengan kalimat yang mencoba merapikan sesuatu yang jelas tidak rapi. Mungkin itu sebabnya bencana ini tidak disebut nasional. Sebab kata itu bukan hanya kategori administratif. Kata itu adalah cermin. Dan tidak semua orang siap melihat apa yang terpantul di sana.
Di Sumatra pagi kembali datang. Udara masih lembap. Tanah masih gelap. Namun kehidupan mulai bergerak kembali. Di tengah itu ada harapan kecil yang tidak sepenuhnya mati. Bahwa suatu saat orang akan belajar melihat ke hulu sebelum melihat ke langit. Bahwa air bukan musuh. Bahwa yang perlu dihadapi bukan hanya hujan tetapi cara kita memutuskan masa depan tanah ini. Jika hari itu datang mungkin bencana akan kehilangan sebagian kekuatannya. Dan air akan kembali menjadi air bukan pengingat yang datang dengan suara deras yang membuat kita terlambat memahami apa yang hilang.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


