Arina.id - Banyak anak tumbuh dengan beban psikologis karena sering dibanding-bandingkan oleh orangtuanya, entah dengan saudara kandung, sepupu, atau bahkan anak tetangga. Kalimat seperti “Kamu lihat tuh kakakmu, rajin belajar,” atau “Coba seperti anak Bu Ani, pintar dan patuh,” terdengar sepele, namun bisa melukai harga diri dan memupuk rasa tidak berharga dalam diri seorang anak.
Pertanyaannya, bolehkah seorang anak menasihati orangtuanya bahwa tindakan membanding-bandingkan itu salah? Dalam pandangan Islam, ini adalah pertanyaan penting yang perlu dikaji dengan adab dan hikmah.
Islam Mendorong Saling Menasihati, Termasuk Anak pada Orangtua
Dalam Islam, seorang anak diperkenankan untuk memberikan nasihat kepada orangtuanya jika orang tua tersebut melakukan kesalahan. Bahkan, bisa menjadi wajib ketika tidak ada pihak lain yang berani atau mencoba untuk memberikan nasihat.
Dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 42-45, terdapat sebuah kisah ketika Nabi Ibrahim memberikan nasihat kepada ayahnya yang enggan menghentikan kebiasaan menyembah berhala. Nabi Ibrahim mengambil tugas tersebut dengan teguh dengan tanpa melupakan adab dan tatakrama anak terhadap orangtua:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا • يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا • يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا • يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا •
Artinya: "Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”.
Ayat ini mengajarkan bahwa menasihati orangtua boleh, selama dilakukan dengan bahasa yang lembut, penuh kasih, dan tidak merendahkan.
Terdapat pula sebuah hadits yang memberikan kewajiban kepada kita agar saling mengingatkan kepada sesama, termasuk anak terhadap orangtuanya jika kita menilai bahwa sebuah kemungkaran telah terjadi:
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعاف الإيمان.
Artinya: “Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemunkaran hendaknya merubah kemunkaran tersebut dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian adalah selemah-lemahnya iman”.
Tindakan Membandingkan Bisa Menyakiti
Dalam psikologi, membandingkan anak secara terus-menerus dapat menimbulkan perasaan rendah diri, iri hati, bahkan benci terhadap saudara atau orangtua sendiri. Islam sangat menjaga perasaan sesama, terlebih dalam lingkungan keluarga.
Redatul Jannah dan Sri Putri Rahayu dalam sebuah artikel untuk Jurnal Ilmiah Psikomuda connectedness (2023) yang berjudul Dampak Sibling Rivalry terhadap Kepribadian Anak Usia Dini menyebut bahwa membanding-bandigkan bisa memiliki dampak negatif yang sangat beragam. Di antaranya ialah anak akan berperilaku regresi, tidak akan mau berbagi atau bekerjasama dengan saudaranya, dan cenderung akan mencari-cari kesalahan saudara kandung untuk diadukan. Selain itu, bisa pula berdampak munculnya perilaku buruk terhadap lingkungan sosial lainnya.
Harus dilihat dalam kacamata Islam bahwa orang tua adalah pemimpin dalam keluarga dan akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana mereka mendidik dan memperlakukan anak-anaknya. Jika ada perlakuan yang tidak adil atau menyakitkan, maka anak berhak menyampaikan perasaannya.
Bukan Termasuk Durhaka
Memberikan nasihat kepada orangtua yang abai akan kewajibannya bukanlah merupakan sebuah bentuk kedurhakaan. Dalam kitab Syarh Tuhfatul Murid, h. 124 disebutkan:
وأما إذا كان لإحقاق حق وإبطال باطل أي لإظهار حقيقة الحق وإظهار بطلان الباطل فممدوح شرعا ولو من ولد لوالده فيكون عقوقا محمودا
Artinya: “Adapun jika bertujuan untuk menegaskan kebenaran dan menganggap batal atas sesuatu yang batil, dalam arti menjelaskan hakikat kebenaran dan menjelaskan kebatilan dari sebuah tindakan batil, maka hal tersebut terpuji menurut syariat, meski dilakukan oleh seorang anak kepada orangtuanya. Akan dianggap sebagai sebuah keberanian yang terpuji.”
Bagaimana Cara Menyampaikannya?
Untuk bisa menyampaikan nasihat kepada orang tua agar tidak selalu membanding-bandingkan, seorang anak mesti memilih waktu yang tepat. Jangan menegur di tengah emosi atau saat suasana tegang. Pilih momen santai dan pribadi. Kemudian, anak tetap harus menggunakan bahasa yang santun.
Selanjutnya, hindarilah nada menyalahkan. Contoh pengungkapan yang baik ialah, “Aku merasa sedih waktu dibandingkan, Bu. Aku merasa tidak cukup baik.” Artinya, dalam hal ini yang disampaikan adalah nada ungkapkan perasaan, bukan tuduhan.
Kalimat seperti “Ayah selalu pilih kasih” bisa diganti dengan “Kadang aku merasa tidak cukup dihargai saat dibandingkan.” Terakhir, perlu juga disampaikan bahwa tujuan kita hanya ingin suasana keluarga lebih damai dan adil, bukan atas dasar perlawanan atau pembangkangan.
Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa anak boleh dan bahkan dianjurkan menasihati orang tua bila ada perlakuan yang dirasa tidak tepat, termasuk tindakan membanding-bandingkan. Namun, nasihat itu harus disampaikan dengan adab, kelembutan, dan rasa hormat.
Menyuarakan perasaan bukan bentuk durhaka, justru merupakan bagian dari membangun hubungan yang sehat dan saling memahami dalam keluarga. Karena sejatinya, keluarga bukan tempat untuk dibandingkan, melainkan untuk dipahami dan dikasihi. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


