Dark
Light
Dark
Light

5 Cara Melawan Bullying pada Anak dan Remaja

5 Cara Melawan Bullying pada Anak dan Remaja

Kasus bullying atau perundungan di kalangan remaja semakin marak terjadi. Bahkan, belakangan ini sudah menjangkiti anak-anak usia sekolah dasar.

Bullying dapat berakibat bahaya pada kedua belah pihak, baik pelaku maupun korban. Bagi pelaku bullying, perbuatan melakukan perundungan dalam bentuk apa pun baik fisik, verbal atau cyber bullying dapat menyebabkan kehilangan konsep diri. Pelakuakan sulit mengenali potensi yang sedang tumbuh untuk menghasilkan karya-karya nyata sebagai hasil olah kreativitas dan inovasi. 

Bagi korban, bukan saja mendapatkan bentuk perlakuan yang tampak. Jika perundungan berupa fisik maka korban memperoleh kerugian luka fisik, cacat permanen, atau sakit berkepanjangan yang tak kunjung sembuh. Perundungan bentuk verbal bisa menyebabkan si korban merasa minder, kehilangan rasa percaya diri, atau teralineasi dari lingkungan pertemanannya. Dampak ini akan menjadi parah jika korban mengalami depresi dan kesepian. 

Satu hal yang perlu dicermati adalah perundungan berakar dari perilaku orang dewasa yang berada paling dekat dengan anak-anak, di rumah, sekolah, atau lingkungan tempat tinggal si anak, saudara sepupu, paman, tetangga, dan lain-lain.

Ada yang mengatakan bahwa untuk mendidik satu anak, diperlukan orang sekampung. Ungkapan ini ada benarnya, orang dewasa yang melingkupi kehidupan anak-anak akan sangat berpengaruh, bagaimana seorang anak berpikir, bertindak, dan berkata-kata. Lingkungan rukun tetangga (RT) yang saling menjaga kesopanan, berpengaruh baik bagi anak-anak dalam sikap sopan santun, demikian sebaliknya. 

Demikian pula sikap orang dewasa yang kasar dan kriminal, jika tindakan-tindakan ini eksis di lingkungan tertentu, lamat-lamat sikap seperti itu menjadi bahaya laten yang terserap oleh anak-anak yang melihat secara kasat mata. Anak-anak mudah terpapar perilaku kasar dan merugikan orang lain.

Betapa lingkungan yang berada pada lingkaran keseharian anak memiliki peran yang tak main-main. Lingkungan yang ramah dan sehat harus dimulai dari ruang lingkup terkecil, yakni keluarga. Oleh karena itu, fondasi mental anak telah mengakar kuat meski lingkungan di luarnya kurang mendukung. 

Tindakan bullying dapat dihindari dengan tidak berada pada lingkaran pergaulan yang keras dan kasar. Kendati begitu, anak juga perlu dilatih kemampuan untuk menangkis perundungan.

Berikut 5 cara menghadapi perundungan disarikan dari buku The Secret of Happy Children karya Timothy J. Sharp. 

1. Doronglah Anak Bersikap Terbuka
Bangunlah suasana yang nyaman di rumah. Bukan suasana yang mengandalkan sarana mainan kesukaan anak-anak yang lengkap, namun suasana yang membikin tenteram hati sang buah hati.

Suasana itu dapat dirasakan jika kita sebagai orang tua hadir secara utuh ketika anak sedang berkisah segala keceriaannya, kecemasanya, kesedihannya, dan ketakutannya. Berikan dorongan agar anak senantiasa berani menceritakan apa yang tengah dialami. Ciptakanlah suasana ketika duduk bersama, laksana berada di puncak gunung, ruang yang aman dan nyaman untuk menumpahkan lelah dalam mencari jati diri. 

Sikap terbuka ini, selain menguatkan kecerdasannya, keuntungan lainnya adalah rasa aman bagi orang tua dan juga anak. Sebab, melalui sikap ini deteksi dini tentang perundungan akan mudah diidentifikasi. Penanganan yang tepat akan mudah diperoleh. 

2. Jelaskan Potensi Perundungan yang Bisa Meluas dan Parah
Kadang-kadang, ada pula anak-anak yang tidak berani menceritakan bahwa ia telah diperlakukan tidak baik oleh teman, kakak kelas, bisa juga gurunya. Saat momen dialog hangat dengan anak-anak, sampaikanlah pesan bahwa jika tidak segera diungkap, pelaku bullying akan menajamkan dan menambah intensitas perlakuan tersebut.

Bukan hanya itu, jika pelaku perundungan ini merasa aman melakukan tindak kekerasannya, akan semakin luas korban yang jadi sasaran mereka. Berikanlah pemahaman semacam ini agar keberanian menjadi baju yang disandang melekat menjadi mental pribadinya. 

3. Bantulah Anak Menyelesaikan Masalahnya Sendiri
Sebenarnya, pemikiran anak-anak berada pada fase yang luar biasa. Ia memiliki segudang pilihan hasil imajinasinya yang kaya. Mereka hanya perlu diberi kesempatan, kepercayaan, dan dukungan positif dari orang-orang yang ia kasihi, yaitu, kedua orang tuanya.

Cara membantu anak-anak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, selain mau mendengar, berikanlah apresiasi dan besarkan hatinya. Katakanlah kepadanya, "Nak, kami siap mendengar ceritamu, jika diperlukan, ayah bunda siap membantu kesulitanmu".

4. Jadikan Humor sebagai Salah Satu Cara
Jadikanlah humor sebagai jalan untuk mencairkan suasana dalam pergaulan. Pada saat yang sama, pesankanlah juga kepada anak-anak, bahwa humor itu bukan untuk memusuhi kawan yang melakukan tindakan perundungan. Humor dapat digunakan sebagai pembawa pesan damai.

Dengan humor kita mudah memiliki rasa penerimaan. Humor bisa menjadi cara agar suasana hati tak mudah tegang. Juga, dapat menjadi titik tolak untuk belajar kehidupan dalam sudut pandang kelucuan. Humor kerap ampuh sebagai pemecah kekakuan komunikasi antar teman, sehingga perilaku buruk dapat kita hindari. 

5. Libatkan Diri Anda
Bagaimanapun kondisinya, anak adalah anak. Kondisi emosinya seringkali tidak tepat dengan kondisi yang mereka hadapi. Jika mereka tidak lekas mampu menyelesaikan masalah yang ada, libatkanlah diri anda sebagai orang tua.

Bicaralah dengan pihak-pihak yang bisa diajak dialog. Jika perundungan terjadi di sekolah bicaralah dengan guru, kepala sekolah, aparat penegak hukum, dan pemerintah yang memungkinkan bisa mengurai permasalahan dengan jalan restorarif, bukan mengedepankan hukum yang kaku.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo