Arina.id- Ketika Yerusalem direbut kembali oleh pasukan Muslim di bawah komando Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187 M, dunia menyaksikan peristiwa yang sangat berbeda dari Perang Salib sebelumnya. Tidak ada pembalasan berdarah atau penghancuran simbol-simbol agama lawan.
Salah satu keputusan paling penting yang ia ambil adalah tidak menghancurkan Gereja Makam Kudus, situs tersuci umat Kristiani. Keputusan ini mencerminkan nilai toleransi Islam yang dianut oleh Salahuddin.
Penulis menyampaikan kisah ini berdasarkan kitab Salahuddin Al-Ayyubi wa Juhuduhu fil Qadha 'ala ad-Daulah Al-Fathimiyyah wa Tahriri Baitil Maqdis karya Ali Muhammad Ash-Shallabi (Beirut: Darul Ma'rifah, 2008, h. 740-748)
Dikisahkan, sebelum jatuhnya Yerusalem ke tangan Salahuddin, kota itu selama hampir 88 tahun berada di bawah kekuasaan Tentara Salib. Penaklukan awal oleh Tentara Salib tahun 1099 terjadi sangat brutal. Ribuan Muslim, Yahudi, bahkan orang Kristen Timur dibantai di dalam kota. Masjid Al-Aqsha dikotori darah. Dalam konteks ini, Salahuddin memiliki semua alasan untuk membalas, namun ia menahan diri secara terpuji.
Sebelum penyerangan, Salahuddin sudah menyusun strategi yang matang. Ia mengepung kota Yerusalem sejak 20 September 1187. Penduduk dan garnisun kota kala itu dipimpin oleh Balian dari Ibelin. Meskipun sempat terjadi negosiasi yang alot, akhirnya disepakati bahwa Yerusalem akan diserahkan secara damai pada 2 Oktober. Salahuddin menolak kehancuran kota dan melindungi hak-hak sipil penduduknya, termasuk non-Muslim.
Sikap ini bukan sekadar keputusan politis, tetapi cerminan ajaran Islam tentang perlindungan tempat ibadah. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 40 disebutkan bahwa biara, gereja, sinagoga, dan masjid adalah tempat di mana nama Allah disebut dan harus dijaga. Salahuddin, sebagai pemimpin Muslim, menerjemahkan ayat ini dalam bentuk perlindungan nyata terhadap gereja-gereja, termasuk Gereja Makam Kudus di Yerusalem.
Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre) merupakan situs yang diyakini umat Kristen sebagai tempat penyaliban dan pemakaman Yesus. Gereja ini sangat vital secara spiritual bagi dunia Kristiani. Ketika Yerusalem jatuh, banyak yang khawatir Salahuddin akan menghancurkannya seperti yang dilakukan Tentara Salib terhadap masjid dan sinagoga. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti. Gereja tetap berdiri megah, dijaga dengan ketat oleh tentara Salahuddin.
Salahuddin justru memastikan agar gereja itu tidak disentuh oleh massa Muslim yang emosional. Ia menempatkan pengawalan khusus untuk mencegah penjarahan. Bahkan ia mengizinkan para pendeta tetap tinggal dan melanjutkan ibadah mereka. Dalam catatan sejarawan barat seperti Steven Runciman, disebutkan bahwa tindakan Salahuddin sangat mencengangkan, bahkan bagi umat Kristen sendiri, yang tak menyangka akan mendapat perlindungan dari pihak penakluk.
Tindakan Salahuddin ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam yang kuat dan mengenal ajaran Nabi Muhammad SAW. tentang toleransi beragama. Nabi pernah menerima delegasi Nasrani Najran dan membiarkan mereka beribadah di masjid Nabawi. Begitu pula Umar bin Khattab, saat merebut Yerusalem pada tahun 637 M, menolak sholat di dalam gereja agar tidak dijadikan alasan umat Islam merebutnya di masa depan.
Salahuddin tampaknya meneladani sikap Umar bin Khattab. Ia mengerti bahwa agama tak bisa ditegakkan dengan kekerasan. Ia ingin menunjukkan bahwa Islam bukan agama pembalas dendam, tapi agama rahmat. Dalam suratnya kepada Raja Inggris Richard si Hati Singa, Salahuddin menyatakan bahwa tidak ada niat menghancurkan situs suci, karena Islam menghormati para nabi sebelumnya, termasuk Isa Al-Masih.
Salahuddin juga mengizinkan para peziarah Kristen untuk tetap datang ke Yerusalem, sesuatu yang sebelumnya dilarang oleh Tentara Salib terhadap peziarah Muslim. Bahkan dalam perjanjian dengan Richard, Salahuddin menjamin keamanan peziarah Kristen ke Gereja Makam Kudus. Sikap ini membalik stigma bahwa Muslim adalah perusak dan intoleran, serta membungkam narasi perang agama yang didengungkan kaum fanatik.
Berikut adalah kutipan penjelasan Ali Ash-Shallabi terkait sikap Salahuddin Al-Ayyubi dalam menghormati non-Muslim:
احْتَرَمَ صَلَاحُ الدِّينِ مَشَاعِرَ الْمَسِيحِيِّينَ، فَعِنْدَمَا أَشَارَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ عَلَيْهِ عَقِبَ دُخُولِهِ بَيْتَ الْمَقْدِسِ بِهَدْمِ كَنِيسَةِ الْقِيَامَةِ وَإِزَالَةِ آثَارِهَا، وَقَالُوا: إِذَا هُدِمَتْ بِنَايَتُهَا، وَأُلْحِقَتْ بِأَسَافِلِهَا أَعَالِيهَا، وَنُبِشَتِ الْمَقْبَرَةُ، وَعُفِيَتْ، وَأُخْمِدَتْ نِيرَانُهَا، وَأُطْفِئَتْ، وَمُحِيَتْ رُسُومُهَا، وَنُفِيَتْ؛ اِنْقَطَعَ عَنْهَا إِمْدَادُ الزُّوَّارِ، وَانْحَسَمَتْ عَنْ قَصْدِهَا مَوَادُّ أَطْمَاعِ أَهْلِ النَّارِ، وَمَهْمَا اسْتَمَرَّتِ الْعِمَارَةُ؛ اسْتَمَرَّتِ الزِّيَارَةُ. بَيْنَمَا أَشَارَ عَلَيْهِ بَعْضُهُمْ بِأَنَّهُ: لَمَّا فَتَحَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ الْقُدْسَ فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ؛ أَقَرَّهُمْ عَلَى هَذَا الْمَكَانِ، وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِهَدْمِ الْبُنْيَانِ. فَأَعْرَضَ صَلَاحُ الدِّينِ بِتَسَامُحِهِ عَنْ هَدْمِهَا.
Artinya: "Shalahuddin sangat menghormati perasaan umat Kristiani. Ketika ia memasuki Yerusalem, sebagian Muslim mengusulkan agar ia menghancurkan Gereja Makam Kudus dan menghapus seluruh peninggalannya. Mereka berkata: jika bangunannya diruntuhkan, bagian atasnya disamakan dengan bawahnya, kuburannya digali, jejaknya dihapus, apinya dipadamkan, dan semua tandanya dihilangkan, maka aliran peziarah akan terputus, dan hasrat orang-orang sesat akan terhenti. Sebaliknya, sebagian lain mengingatkan bahwa ketika Umar bin Khattab menaklukkan Yerusalem pada awal Islam, beliau membiarkan gereja itu tetap berdiri dan tidak memerintahkan penghancurannya. Maka, dengan sikap toleran, Salahuddin memutuskan untuk tidak menghancurkannya." (Ash-Shallabi, 2008, h. 740-748)
Langkah Salahuddin ini berdampak luas. Ia bukan hanya memenangkan perang secara militer, tetapi juga memenangkan hati banyak orang, termasuk pihak lawan. Banyak biarawan Latin mencatat kekaguman mereka atas kebaikan hati Salahuddin. Dalam sejarah Eropa, jarang ditemukan tokoh Muslim yang begitu dihormati oleh musuhnya sendiri. Bahkan dalam puisi-puisi abad pertengahan, nama Salahuddin muncul sebagai simbol kesatria sejati.
Salah satu alasan kuat mengapa Salahuddin tidak menghancurkan Gereja Makam Kudus adalah karena ia ingin membuktikan superioritas moral Islam. Ia memahami bahwa kekuatan sejati bukan pada kehancuran, tetapi pada pengendalian diri. Menghancurkan gereja hanya akan menyamakan dirinya dengan Tentara Salib yang dahulu menghancurkan masjid. Dengan membiarkannya berdiri, ia menang di medan perang dan dalam ranah etika.
Para sejarawan Islam mencatat betapa damainya pembebasan Yerusalem di tangan Salahuddin. Bahkan tawanan perang diperlakukan dengan adil. Siapa pun yang tidak mampu membayar tebusan dibebaskan begitu saja. Para wanita, anak-anak, dan pendeta diberikan jaminan keselamatan. Tidak ada paksaan masuk Islam. Inilah wajah Islam yang ditampilkan Salahuddin. Islam yang adil, bermartabat, dan berperikemanusiaan.
Meski akhirnya Yerusalem jatuh kembali ke tangan Barat dalam Perang Salib berikutnya, citra Salahuddin tak lekang oleh zaman. Ia tetap dikenang sebagai simbol toleransi dan keadilan dalam sejarah Islam. Gereja Makam Kudus yang ia jaga hingga kini masih berdiri sebagai bukti nyata sikapnya. Apa yang dilakukan Salahuddin seharusnya menjadi pelajaran bagi semua generasi, bahwa kekuatan tidak selalu datang dari senjata, tetapi dari keluhuran hati.
Kisah penolakan Salahuddin Al-Ayyubi untuk menghancurkan Gereja Makam Kudus bukan sekadar fragmen sejarah, tetapi juga warisan moral dunia. Ia menunjukkan bahwa Islam bukan ancaman bagi keberagaman, justru pelindungnya. Dalam era modern yang penuh ketegangan antaragama, semangat seperti inilah yang harus dihidupkan kembali. Toleransi, dialog, dan perlindungan hak-hak minoritas adalah fondasi damai yang dibangun sejak zaman Salahuddin. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


