Dark
Light
Dark
Light

Jimak: Doa, Etika, dan Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Jimak: Doa, Etika, dan Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Jimak, yang juga dikenal sebagai hubungan suami istri atau hubungan intim dalam Islam, merupakan aspek penting dalam kehidupan pernikahan. Konsep ini didasarkan pada prinsip-prinsip agama yang mengatur interaksi antara suami dan istri. Dalam Islam, hubungan jimak merupakan sarana memenuhi kebutuhan batin suami dan istri serta menjaga keharmonisan dalam pernikahan. Pentingnya jimak dalam Islam tercermin dalam ajaran-ajaran agama dan nasihat-nasihat Nabi Muhammad.

Islam mengajarkan bahwa hubungan jimak adalah hak dan kewajiban suami istri satu sama lain. Dalam Al-Qur'an, hubungan intim antara suami istri dianggap sebagai tanda kasih sayang dan rahmat Allah yang sekaligus memenuhi naluri dan kebutuhan batin manusia. Namun, Islam juga menekankan pentingnya saling memberikan izin dan mendekati hubungan ini dengan penuh penghormatan dan kasih sayang.

Jimak dalam Islam diatur oleh beberapa aturan dan etika. Salah satu prinsip utama adalah menjaga privasi dan keintiman dalam hubungan ini. Islam mengajarkan agar suami istri menjaga hubungan jimak dari pandangan orang lain serta menjalankannya di tempat yang layak. Selain itu, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan juga merupakan bagian dari etika dalam hubungan ini.

Jimak juga dianggap sebagai ibadah dalam Islam ketika dilakukan dengan niat yang benar. Niat untuk memenuhi kebutuhan batin pasangan dengan tujuan menjaga keharmonisan dan kebahagiaan dalam pernikahan menjadikan tindakan tersebut bernilai ibadah

Jimak dalam Islam juga memiliki dimensi spiritual. Dalam perspektif agama, hubungan jimak dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan keimanan. Ketika dilakukan dengan niat yang benar dan dalam kerangka pernikahan yang sah, hubungan jimak dapat mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah.

Berikut dipaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat jimak, berhubungan badan dengan suami atau istri berdasarkan penjelasan dari beberapa sumber.

1. Berdoa sebelum Berjimak

Saat akan berhubungan badan, hal yang perlu diperhatikan adalah berdoa kepada Allah yang telah memberikan anugerah nikmat sekaligus berharap perlindunganNya. Doa juga sebagai wujud harapan agar melalui hubungan badan tersebut pasangan suami dan istri dikaruniai keturunan yang shaleh dan shalehah. 

Adapun doa yang bisa dibaca sebelum berhubungan badan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqqi Azza wa Jalla fil Akhlaq wat Tashawwuf wal Adabil Islamiyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 1997 M/1417 H, juz I, halaman 103.

بِسْمِ اللهِ العِلِيِّ العَظِيْمِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنْ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ صُلْبِيْ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِيْ

Bismillâhil ‘aliyyil ‘azhîm. Allâhummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbî. Allâhumma jannibnis syaithâna wa jannibis syaithâna mâ razaqtanî.

Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku.”

2. Etika Jimak

Setiap individu yang akan melakukan jimak juga harus tahu jika aktivitas ini bukanlah hanya sekadar kegiatan rutin untuk melampiaskan syahwat belaka. Jimak juga merupakan aktivitas berdimensi fisik dan psikis yang di dalamnya melibatkan perasaan, bahasa tubuh, bahasa verbal, dan berdimensi ibadah serta medis. 

Dikutip dari kitab Al-Adab fid Din, Imam Al-Ghazali, beberapa hal perlu diperhatikan saat belakukan jimak dengan mengacu kepada akhlak yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

آداب الجماع- طيب الرائحة ولطافة الكلمة وإظهار المودة وتقبيل الشهوة والتزام المحبة ثم التسمية وترك النظر إلى الفرج فإنه يورث العمى والستر تحت الإزار وترك استقبال القبلة

Artinya, “Etika berhubungan badan dengan istri antara lain mengenakan wangi-wangian, menggunakan kata-kata yang lembut, mengekspresikan kasih-mesra, memberikan kecupan menggelora, menunjukkan sayang senantiasa, baca bismillah, tidak melihat kemaluan istri karena konon menurunkan daya penglihatan, mengenakan selimut atau kain (saat bercinta), dan tidak menghadap kiblat,” (Lihat Imam Al-Ghazali dalam Al-Adab fid Din, Beirut, Al-Maktabah As-Sya‘biyyah, halaman 175).

Dari penjelasan ini bisa kita pahami bahwa saat berhubungan badan dengan istri atau suami perlu diperhatikan etika dan hal-hal seperti:

  • Mengatur situasi dan kondisi senyaman mungkin seperti menyiapkan ruang yang nyaman dengan memasang harum-haruman termasuk membersihkan badan dari aroma-aroma yang tidak sedap. 
  • Bukan hanya mempersiapkan hal-hal yang bersifat fisik. Aspek psikis juga penting untuk diperhatikan sebelum berjimak. Persiapan bisa dilakukan dengan menciptakan suasana yang menyenangkan melalui gerak-gerik dan ungkapan verbal yang menunjukkan kemesraan. Aktivitas fisik mengarah kepada keintiman juga perlu dilakukan semisal dengan mengecup pasangan agar gairah menggelora.
  • Ucapkan kalimat bismillah sebelum mengawali jimak. Di antara etika yang lain adalah menutupi badan dengan kain atau selimut saat melakukan jimak, tidak menghadap kiblat, dan tidak melihat kemaluan pasangan.

Selain sebagai tuntunan dalam agama, semua etika ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas jimak yang akan membawa keharmonisan dalam berumah tangga.

3. Berdoa setelah Berjimak

Aktivitas jimak merupakan ibadah yang bisa dirasakan kenikmatannya. Sehingga sepatutnya setelah melakukan jimak, pasangan berdoa sebagai wujud syukur atas karunia sekaligus berharap kehidupan rumah tangga senantiasa diberi keharmonisan. Doa juga merupakan harapan besar agar diberi keturunan yang baik, shaleh dan shalehah. 

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghuniyah li Thalibi Thariqil Haqqi Azza wa Jalla, juz I, halaman 103 menuliskan doa setelah berjimak. Cara membaca doa ini adalah dengan mengungkapkannya dalam hati dan tanpa menggerakkan mulut. Doa ini juga bisa dibaca saat sedang mengalami orgasme atau puncak kenikmatan saat berjimak.

بِسْمِ اللهِ الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصَهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا

Bismillah. Alhamdulillâhilladzî khala minal mâ’i basyarâ, faja‘lahû nasaban wa shahrâ, wa kâna rabbuka qadîrâ.

Artinya, “Dengan nama Allah, segala puji bagi-Nya yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan dan kekerabatan. Tuhanmu maha kuasa.”

Dalam Kitab Ihya` Ulumiddin, juz, 2, halam 52 Imam Ghazali juga mengingatkan untuk membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluan jika akan ‘memainkan ronde kedua’. Setelah merampungkan aktivitas jimak, maka diingatkan untuk segera mandi junub. Jika akan melanjutkan aktivitas dengan tidur sebelum mandi junub, maka diingatkan untuk berwudlu terlebih dahulu.

Adapun waktu yang tepat dan sunnah untuk berjimak menurut Imam al-Ghazali adalah pada hari Jumat. Frekuensi jimak ideal menurutnya adalah empat hari sekali atau tergantung kebutuhan setiap individu. Dimakruhkan berjimak pada awal bulan, tengah, dan akhir bulan serta pada awal malam.  


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo