Arina.id - Islam merupakan agama yang mengajarkan moderasi, kepedulian kepada sesama, dan sangat memperhatikan kebutuhan umatnya. Islam memberikan solusi pada umatnya sesuai dengan konteks yang dihadapi. Di antara solusi tersebut bernama ruhsah atau keringanan.
Salah satu keringanan yang diberikan syariat Islam khusus kepada orang yang sedang bepergian (musafir) adalah kebolehan melakukan jamak sholat, yaitu menggabungkan dua sholat wajib dalam satu waktu.
Dalam kitab Fathul Qarib 96 dijelaskan kebolehan tersebut:
ويجوز للمسافر) سفرا طويلا مباحا (أن يجمع بين) صلاتَي (الظهر والعصر) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء، و) أن يجمع (بين) صلاتَي (المغرب والعشاء) تقديما وتأخيرا، وهو معنى قوله: (في وقت أيهما شاء).
Artinya: "Seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh yang diperbolehkan itu boleh menggabungkan sholat Zuhur dan Ashar, baik dengan memajukannya atau menundanya, yang merupakan makna dari pernyataannya: “pada waktu mana pun yang dia inginkan. Dan dia boleh menggabungkan sholat Maghrib dan Isya, baik dengan memajukannya atau menundanya, yang merupakan makna dari pernyataannya: “pada waktu mana pun yang dia inginkan.”
Istilah memajukan dan menunda sholat dalam kajian fiqih, lazim dikenal dengan jamak taqdim (memajukan) dan jamak ta’khir (menunda).
Definisi Jamak Taqdim dan Jamak Ta'khir
Jamak taqdim adalah mengerjakan dua sholat fardhu pada waktu sholat yang pertama. Contohnya, sholat Ashar dikerjakan pada waktu Zuhur dan sholat Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib.
Adapun jamak ta’khir adalah menggabungkan dua sholat fardhu pada waktu sholat yang kedua, seperti sholat Zuhur dikerjakan pada waktu Ashar.
Dasar kebolehan menjamak sholat bersumber dari beberapa hadits Nabi di antaranya riwayat dari sahabat Anas RA yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menggabungkan sholat Zuhur dan Ashar ketika dalam perjalanan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.
عن أنس أنه عليه الصلاة والسلام كان يجمع بين الظهر والعصر في السفر
Artinya: “Dari sahabat Anas, bahwa Nabi SAE mengumpulkan di antara sholat Zuhur dan Ashar di perjalanan,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang lain, ditegaskan pula hadits Nabi yang menegaskan:
عن معاذ قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام تبوك وكان يجمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء
Artinya: “Dari sahabat Mu’adz, ia berkata, kami keluar bersama Rasulullah saat perang Tabuk, Nabi mengumpulkan di antara sholat Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Permasalahan kemudian muncul ketika seseorang melakukan perjalanan pada hari Jumat. Misalnya, ia berangkat safar setelah terbit fajar pada hari Jumat sehingga ia masih terkena kewajiban sholat Jumat di tengah perjalanan. Atau ia sudah dalam perjalanan berangkatnya sebelum hari Jumat, lalu pada hari Jumat tersebut ia masih berada di perjalanan dan melaksanakan sholat Jumat di suatu daerah.
Pertanyaan yang muncul adalah: apakah sholat Jumat boleh dijamak dengan sholat Ashar?
Para ulama menjelaskan bahwa secara hukum, sholat Jumat memiliki kedudukan yang sama dengan sholat Zuhur. Oleh karena itu, sebagian ketentuan yang berlaku pada sholat Zuhur juga berlaku pada sholat Jumat, termasuk kebolehan menjamaknya dengan sholat Ashar melalui jamak taqdim.
Jika akan menjamak sholat Jumat dan Ashar, maka saat melaksanakan sholat Jumat berjamaah kita harus menyertakan niat untuk menjamak sholat Jumat dengan sholat Ashar secara taqdim.
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاء مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli fardhal jum'ati rak'ataini majmu'an bil 'asri mustaqbilal qiblati ada'an makmuman lillahi taala.
Artinya: "Saya melaksanakan sholat Jumat, dua rakaat digabungkan dengan sholat Asar, menghadap kiblat, ditunaikan sekarang, dalam keadaan makmum, karena Allah Yang Maha Kuasa."
Setelah selesai sholat Jumatnya, sholat Ashar harus segera dikerjakan tanpa jeda yang lama. Dalam jamak taqdim disyaratkan adanya kesinambungan antara sholat pertama dan sholat kedua. Berikut ini niatnya:
أُصَلِّيْ فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَيْهِ الْجُمُعَةُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushalli fardal Asri Arba'a Rakaatin majmu'an ilaihil jumatu mustaqbilal qiblati ada'an lillahi taala.
Artinya: "Saya melaksanakan sholat Ashar wajib empat rakaat, digabungkan dengan sholat Jumat, menghadap kiblat, ditunaikan karena Allah Yang Maha Kuasa."
Penting diingat, bila sholat Asharnya di-qashar, maka redaksi “arba’a raka’atin” diganti dengan “maqshuratan” atau "qashran". Bila sholat Ashar dilakukan secara berjamaah, maka ditambahkan kata “ma’muman” sebelum redaksi “Lillahi Ta’ala”.
Sedangkan bagi orang yang terbiasa sholat sunah ba’diyah Jumat, maka dipersilakan untuk melakukannya setelah melakukan sholat jamak Ashar.
Dengan demikian, menjamak sholat Jumat dengan sholat Ashar hukumnya boleh, asalkan jamak taqdim. Bukan jamak ta'khir. Sebab sholat Jumat hukumnya sama dengan sholat Zuhur dalam masalah jamak taqdim. (Lihat Syekh Khathib As-Syarbini, Al-Iqna’ ‘ala Matni Abi Syuja’, juz I, halaman 174-175). Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


