Dark
Light
Dark
Light

Rumah Dekat Masjid, Bolehkah Sholat Berjamaah di Rumah?

Rumah Dekat Masjid, Bolehkah Sholat Berjamaah di Rumah?

Arina.id - Haikal Ali Basyarahil dalam suatu video ditanya oleh salah satu jamaahnya tentang hukum suami sholat berjamaah dengan anak dan istrinya di rumah sedangkan dia mampu untuk ke masjid. Sontak dia menjawab “tidak boleh” dengan alasan ayat 43 surat Al-Baqarah berikut:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ 

Artinya: "Tegakkanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk."

Ia mengartikan وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ sebagai bentuk sholat di masjid dan mengatakan bahwa tidak boleh sholat di rumah. Ia juga menambahkan dalil hadits dalam Sahih Bukhari no. 2288 riwayat Abu Hurairah berikut: 

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ ‌بِالصَّلَاةِ ‌فَتُقَامَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ

Artinya: "Aku ingin untuk memerintahkan sholat agar didirikan, kemudian aku mendatangi rumah-rumah orang yang tidak hadir sholat (berjamaah) maka aku bakar rumahnya." 

Ia mengatakan bahwa bisa jadi orang-orang yang didatangi Nabi melakukan sholat jamaah di rumah mereka akan tetapi Nabi ingin membakar rumah mereka. Hal ini menurutnya disebabkan karena orang-orang itu tidak mengikuti jamaah di masjid.

Setidaknya, ada beberapa poin yang harus dibahas untuk menganalisis pemikiran Basyarahil ini. Pertama adalah mengenai penafsiran ayat 43 surat al-Baqarah dan juga penafsiran hadits Imam Bukhari no. 2288 tersebut sehingga bisa menemukan apakah benar kesimpulan hukum yang diutarakan olehnya itu berasal dari para ulama.

Penafsiran Ayat 43 Surat Al-Baqarah

Syekh Muhammad Tahir bin Asyur menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

وقوله: واركعوا مع الراكعين تأكيد لمعنى الصلاة لأن لليهود صلاة لا ركوع فيها فلكي لا يقولوا إننا نقيم صلاتنا دفع هذا التوهم بقوله: واركعوا مع الراكعين. وقوله: مع الراكعين إيماء إلى وجوب ممثالة المسلمين في أداء شعائر الإسلام المفروضة فالمراد بالراكعين المسلمون وفيه إشارة إلى الإتيان بالصلاة بأركانها وشرائطها

Artinya: "Firman Allah واركعوا مع الراكعين merupakan penguat makna sholat, karena sholat masyarakat Yahudi dilakukan tanpa rukuk agar mereka tidak membantah bahwa mereka telah melaksanakan sholat, Allah membantah kebiasan ini dengan perintah ruku’ bersama orang-orang yang rukuk. Firman Allah مع الراكعين merupakan sebuah isyarat tentang kewajiban menyamakan dengan masyakarat Muslim terkait melaksanakan segala kewajiban syariah Islam, yang dimaksud dengan raki’in adalah masyarakat Muslim, dari ayat itu menujukkan untuk melakukan sholat dengan syarat dan rukunnya." (al-Tahrir wal Tanwir, [Tunisia: Dar Tunisia, 1984], juz 1, hal. 473.).

Ayat tersebut secara khithab sebenarnya ditujukan kepada Bani Isra’il sesuai dengan rentenan ayat-ayat sebelumnya. Meskipun ada sebagian penafsiran dari para ulama dalam kutipan tidak jelas (qiil) yang menunjukkan bahwa ayat ini berkaitan degan sholat berjamaah. Sebagaimana kutipan penafsiran Imam Baghawi berikut:

وَقِيلَ: هَذَا حَثٌّ عَلَى إِقَامَةِ الصَّلَاةِ جَمَاعَةً كَأَنَّهُ قَالَ لَهُمْ: صَلُّوا مَعَ الْمُصَلِّينَ الَّذِينَ سَبَقُوكُمْ بِالْإِيمَانِ.

Artinya: "Dikatakan ayat ini merupakan anjuran untuk melakukan sholat berjamaah, seakan Allah mengatakan kepada mereka (Bani Israil) sholatlah bersama orang-orang yang sholat yang telah mendahului kalian dalam keimanan." (Ma’alimut Tanzil, [Dar al-Tayebah, 1997], juz 1, hal. 88.).

Mayoritas kitab tafsir mencatat dua model penafsiran tersebut. Pertama perintah kepada masyarakat Bani Israil untuk masuk Islam dan melakukan sholat sebagaimana sholatnya Islam yakni dengan rukuk. Kedua perintah untuk melakukan sholat berjamaah bersama Nabi dan para Sahabat. Sayang sekali dari berbagai penafsiran itu tidak disebutkan secara eksplisit tentang tempat untuk melakukan sholat seperti masjid atau rumah.

Penafsiran Hadits Imam Bukhari No. 2288

Hadits tersebut ditulis oleh Imam Bukhari dengan judul باب إخراج أهل المعاصي والخصوم من البيوت بعد المعرفة (Bab Mengeluarkan Pelaku Maksiat dan Provokator Permusuhan dari Rumahnya Setelah Diketahui), akan tetapi hadits tersebut sangat berhubungan erat dengan hadits no. 644 tentang kewajiban sholat berjamaah. 

Jika dikembalikan kepada bab kewajiban sholat jamaah, maka hadits itu tentunya mengalami multitafsir di antara para ulama dan tentunya sangat erat berhubungan dengan kajian fiqih Islam. Syekh Syamsuddin al-Karmani mengutip penafsiran Imam Nawawi sebagai berikut:

استدلّ به من قال الجماعة فرض عين والجواب أن هؤلاء المتخلفين كانوا منافقين والسياق يقتضيه فإنه لا يظن بالمؤمنين من الصحابة انهم يؤثرون العظم السمين على حضور الجماعة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي مسجده ولأنّه لم يحرق بل همّ به ثم تركه ولو كانت فرض عين لما تركهم.

Artinya: "Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang mewajibkan sholat berjamaah, bantahannya adalah para pembelot itu adalah orang-orang munafik dengan bukti konteks hadits itu, karena tidak mungkin para sahabat harus dipengaruhi dengan pahala seperti daging ukuran besar hanya untuk datang berjamaah bersama Rasulullah di masjidnya, karena itu juga beliau tidak membakar rumah mereka, hanya saja beliau merasa resah dan tidak melakukannya, andaikan sholat berjamaah adalah fardhu ain maka Nabi tidak membiarkan mereka." (Al-Kawakibud Darari fi Syarh Sahihil Bukhari, [Beirut: Dar Ihya Turats Arabi, 1937], juz 5, hal. 37.).

Secara eksplisit, hadits itu tidak membahas tentang kewajiban berjamaah di masjid bagi seorang pria apalagi lebih spesifik bagi suami-suami yang rumahnya bertetanggaan dengan masjid. Tentunya perlu analisis fikih untuk menjawab problematika ini.

Hukum Berjamaah di Masjid yang Dekat Rumahnya

Dalil yang digunakan oleh Basyarahil tentunya sangat problematik jika digunakan untuk menjawab hukum sholat berjamaah di rumah bagi tetangga masjid sesuai dengan penafsiran ayat dan hadits ini. 

Penulis menemukan satu riwayat yang secara tekstual sama dengan kesimpulan jawaban Basyarahil, yakni Hadits riwayat Abu Hurairah dalam Sunan Daruquthni no. 1553 berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «‌لَا ‌صَلَاةَ ‌لِجَارِ ‌الْمَسْجِدِ إِلَّا فِي الْمَسْجِد

Artinya: Dari Abu Hurairah berkata Nabi bersabda : “Tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali di masjid”. 

Namun, tentunya hadits ini masih tidak bisa dikeluarkan dalam konteks fiqih Islam, dalam arti masih membuka ruang multitafsir dengan kesimpulan hukum yang berbeda. Syekh Hamd bin Muhammad al-Khathabi mengutip hadits itu ketika menafsirkan hadits tentang basmalah ketika wudhu sebagai berikut:

قال آخرون معناه نفي الفضيلة دون الفريضة كما روي لا صلاة لجار المسجد إلاّ في المسجد أي في الأجر والفضيلة

Artinya: "Ulama lain mengatakan makna hadits itu (لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه) adalah menghilangkan fadhilah seperti riwayat tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali di masjid yakni terkait pahala dan fadhilah." (Ma’alimus Sunan Syarh Sunan Abi Dawud, [Aleppo: al-Ilmiyah, 1932], juz 1, hal. 47.).

Syekh Ibnu Qudamah al-Maqdisi dari madzhab Hanbali tidak mengartikan hadits tersebut sebagai kewajiban untuk melakukan sholat berjamaah di masjid meskipun bagi tetangga masjid. Pasalnya, hadits-hadits sahih banyak yang menunjukkan boleh melakukan sholat berjamaah di selain masjid.

Berikut catatan beliau:

والظَّاهِرُ أنَّه إنَّما أرَادَ الجَمَاعَةَ؛ وعَبَّرَ بالمَسْجِدِ عن الجماعةِ لأنَّه مَحَلُّهَا، ومَعْنَاهُ ‌لا ‌صَلَاةَ ‌لِجَارِ ‌المَسْجِدِ إلَّا مع الجماعةِ. وقِيلَ: أرَادَ به الكَمالَ والفَضِيلَةَ، فإنَّ الأخْبَارَ الصَّحِيحةَ دَالَّةٌ على أن الصَّلاةَ في غيرِ المَسْجِدِ صَحِيحةٌ جَائِزَةٌ.

Artinya:  "Yang jelas hadits tersebut menunjukkan kepada jamaah menggunakan redaksi masjid sebab sholat jamaah dilakukan di masjid, maknanya adalah tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali dengan berjamaah. Dikatakan bahwa maksud dari tidak adanya sholat tersebut merupakan tidak adanya kesempurnaan dan fadhilah, sebab hadits sahih banyak yang menunjukkan sholat boleh dilakukan di selain masjid." (Al-Mughni, [Riyadh:  Dar Alamil Kutub, 1997], juz 3, hal. 9.).

Dalam berbagai literatur madzhab lain selain Hanbali, hadits ini tidak diartikan sebagai syarat sah sholat bagi tetangga masjid. Sebagaimana penafsiran Ibnu Qudamah, hadits ini hanya menunjukkan kepada hilangnya kesempurnaan dan fadhilah. Jadi, hal ini tentu akan mengalami beberapa keerancuan jika diartikan sebagai syarat sah sholat dengan berjamaah di masjid sebab secara tekstual hadits ini tidak menunjukkan dilakukan berjamaah, hanya dilakukan di masjid saja.

Walhasil, keterangan Basyarahil sangat problematik jika syarat sah sholat para tetangga masjid harus dilaksanakan dengan berjamaah di masjid berdasar dalil-dalil yang dia utarakan. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo