Arina.id - Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik yang dikaruniai akal, budi pekerti. Kendati demikian, manusia masih memiliki sejumlah keinginan untuk memenuhi hajat hidup.
Dalam rangka itulah, manusia dianjurkan berdoa dan meminta kepada Allah agar sukses dan mendapatkan apa yang diinginkan. Namun tidak semuanya doa dikabulkan. Mengapa demikian? Padahal Allah berjanji mengabulkan doa seorang hamba.
Dalam surat Al-Baqarah 186 disebutkan:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Perlu diketahui, bahwa doa yang tidak dikabulkan sebenarnya akan menjadi pahala. Bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, dari Nabi Muhammad:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِم، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا يُعَجِّلُ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا.
Artinya: "Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan suatu doa, yang tiada terkandung dosa dan terputusnya tali silaturahim, melainkan Allah mengabulkan salah satu dari tiga hal: Allah akan mempercepat terkabulnya doa hamba tersebut, Allah akan menyimpannya sebagai tabungan baginya di akhirat, Allah akan menghindarkannya dari keburukan yang semisalnya." (HR. Ahmad dan al-Hakim, lalu al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).
Dalam redaksi lain yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri dari Nabi Muhammad:
قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو، لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلَا بِقَطِيعَةِ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا، قَالَ: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ
Artinya: "Tiada seorang muslim yang berdoa, selagi tidak untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: Adakalanya doa itu langsung dikabulkan, adakalanya doa itu sebagai simpanan untuk besok di akhirat, adakalanya Allah menolak kejelekan sebanyak permintaannya. Abu Said berkata, Jika demikian, maka kita perbanyak doa! Nabi menjawab: Allah lebih banyak mengabulkan doa" (Adabul Mufrad: 1/248)
Makna dari kedua hadits ini menunjukkan bahwa siapa pun yang berdoa memiliki potensi dikabulkan oleh Allah, asalkan tidak dalam rangka melakukan maksiat, dan memutus tali persaudaraan.
Allah menyukai hamba yang suka berdoa, karena doa adalah bagian dari ibadah seorang hamba kepada khaliq. Doa yang tidak langsung dikabulkan bukan berarti diabaikan. Doa itu tetap ada dan menjadi tabungan atau pahala di akhirat.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan, jika berdoa, maka jangan pernah bertujuan maksiat, memutus persaudaraan. Jika belum dikabulkan, maka tidak perlu berburuk prasangka, dan terburu-buru meminta doanya dikabulkan. Karena yang terpenting adalah merutinkan berdoa tanpa lelah dan bosan.
Az-Zubaidi di dalam kitabnya Taj al-‘Arus (11/12), menyebutkan:
اُدْعُـوْا اللهَ وَلاَ تَسْتَحْسِرُوْا.
Artinya: "Berdoalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian merasa lelah/letih/bosan."
Walhasil, doa yang tidak langsung dikabulkan harus diyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Baik diberikan berupa pahala yang berlipat maupun mencegah keburukan dan kejelekan yang akan menimpa. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


