Dark
Light
Dark
Light

6 Hikmah Puasa menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

6 Hikmah Puasa menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Arina.id - Puasa di bulan suci Ramadhan merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang sudah mukallaf. Jika ditelisik lebih dalam, di balik kewajiban puasa yang telah disyariatkan oleh agama Islam, terdapat sejumlah hikmah, manfaat, dan dampak positif lain yang menyentuh aspek jasmani maupun rohani.

Menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, di dalam puasa terdapat sejumlah hikmah besar yang bisa didapatkan oleh umat Islam yang menunaikannya. Hal ini sebagaimana ia jelaskan dalam kitab Zād al-Ma‘ād (Beirut: Daru Ibnu Hazm, 2019), juz II, h. 34-36, sebagaimana berikut:

1. Meraih Takwa

Perjalanan spiritual seorang hamba bisa mengalami fluktuasi, di saat tertentu terkadang naik dan semangat beribadah, di saat yang lain malah sebaliknya. Datangnya kewajiban puasa bisa menjadi sarana untuk meningkatkan spiritualitas seorang hamba dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Inilah tujuan utama disyariatkannya puasa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

2. Mengendalikan Syahwat

Aspek penting yang harus diperhatikan dalam diri seorang Muslim adalah syahwat. Pasalnya, tidak sedikit orang terjerumus ke dalam berbagai dosa, maksiat, dan kehancuran karena didorong oleh hawa nafsu yang tidak terkendali. Selama manusia hidup di dunia, syahwat dalam dirinya tidak akan hilang atau binasa karena syahwat adalah bagian dari fitrah manusia. Dengan berpuasa, gemuruh syahwat yang terus bergejolak itu dapat dilemahkan dan diarahkan sehingga bisa lebih terkendali.

3. Menyapih Hati dari Dunia

Menurut Ibnul Qayyim, puasa bisa berfungsi sebagai sarana untuk menyapih seorang hamba dari gemerlap dunia. Ketika bayi disapih dari Air Susu Ibu (ASI), pertumbuhannya akan semakin baik dan kuat. Begitu pun seorang hamba, ketika ia disapih dari berbagai kenikmatan duniawi, hatinya akan semakin baik dan kuat.

Sebagaimana diketahui, hati adalah sosok raja yang menguasai diri manusia. Jika hatinya baik, raganya pun akan baik dan gemar beramal saleh. Sebaliknya, jika hatinya buruk, raga pun akan menjadi buruk dan lebih senang berbuat dosa.

4. Mempersempit Jalan Setan

Dijelaskan Ibnul Qayyim, setan berjalan dalam aliran tubuh manusia melalui jalur-jalur yang dipengaruhi oleh syahwat. Ketika asupan makanan dan minuman berkurang, jalur syahwat tersebut akan menyempit sehingga setan pun akan sulit untuk menerobosnya. Selanjutnya, dorongan untuk berbuat maksiat pun akan melemah.

Rasulullah SAW bersabda:

الصَّوْمُ جُنَّةٌ

Artinya: “Puasa adalah perisai.” (HR Bukhari Muslim)

5. Menumbuhkan Empati

Puasa juga bisa menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidupnya kurang beruntung, bergelut dengan kemiskinan, dan kesulitan mendapatkan makanan. Melalui rasa lapar dan haus saat berpuasa, seorang Muslim bisa merasakan sebagian penderitaan saudara-saudaranya yang hidup dalam kelaparan dan bergumul dalam penderitaan. Dengan begitu, diharapkan tumbuh rasa empati, kepedulian, dan dorongan untuk berbagai dengan sesama.

6. Menyehatkan Tubuh

Selain berdampak pada aspek rohani dan spiritual, puasa pun memiliki manfaat dan pengaruh positif pada kesehatan jasmani. Dengan berpuasa, seseorang akan memiliki keseimbangan tubuh, membantu membersihkan unsur-unsur yang dapat merusak tubuh, dan memulihkan kekuatan yang dirampas oleh energi syahwat. Dampaknya, hati akan merasa lebih tenang, pikiran menjadi lebih jernih, dan ibadah pun terasa lebih ringan.

Dengan demikian, puasa bukan sekadar menahan rasa haus dan lapar. Lebih dari itu, puasa bisa menjadi "madrasah" bagi seorang Muslim untuk belajar sabar, mengendalikan hawa nafsu dan syahwat, serta menumbuhkan empati dan kepedulian kepada sesama. Ketika proses pembelajaran tersebut berhasil dilalui dengan baik, maka seorang Muslim akan lulus mendapatkan gelar takwa. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo