Arina.id - Di kalangan Muslim, dikenal sebuah penyakit yang cukup unik karena tidak disebabkan oleh bakteri, kuman, pola makan buruk, atau faktor fisik lainnya. Penyakit ini disebut sebagai penyakit ain yang datang secara tiba-tiba akibat pandangan seseorang yang disertai rasa takjub, iri, atau dengki yang sangat kuat.
Tak heran jika banyak Muslim yang mempercayai adanya penyakit ini, terutama di era media sosial seperti sekarang. Banyak orang menjadi lebih berhati-hati dalam membagikan sesuatu di media sosial untuk menghindari pandangan takjub atau dengki dari orang lain.
Misalnya, ketika mereka memiliki momongan, ada yang memilih untuk tidak mengeksposnya sama sekali dan ada pula yang tetap mengunggah foto sang bayi tetapi menutupi wajahnya.
Lantas, apakah benar penyakit ain itu ada? Apa sebenarnya penyakit ain, sejauh mana bahayanya, dan bagaimana cara kita melindungi diri dari penyakit tersebut?
Penyakit Ain Menurut Ulama dan Bahayanya bagi Kehidupan
Dalam literatur Islam, para ulama menjelaskan bahwa penyakit ain sebenarnya telah disinggung oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surat Al-Qalam ayat 51 berikut:
وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌۘ
Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan matanya ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan berkata, “Sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) benar-benar orang gila.”
Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Munir, ayat ini berisi peringatan Allah kepada Rasulullah SAW untuk berhati-hati terhadap permusuhan orang-orang kafir. Mereka menatap Nabi Muhammad SAW dengan pandangan yang tajam penuh kebencian dan dengki ketika beliau membaca Al-Qur’an. Tatapan mereka itu hampir saja mencelakakan beliau.
Ayat ini menunjukkan betapa besar kebencian mereka kepada Nabi SAW, sampai-sampai mereka menatap beliau dengan pandangan seolah ingin membinasakan.
Namun, ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini menyinggung tentang penyakit ain dan pengaruhnya yang nyata, yang muncul dari pandangan takjub yang disertai rasa benci orang-orang kafir terhadap Rasulullah SAW:
وَقَالَ بَعْضُهُمْ: الْمُرَادُ أَنَّهُمْ يَكَادُونَ يُصِيبُونَكَ بِالْعَيْنِ، رُوِيَ أَنَّ الْعَيْنَ كَانَتْ فِي بَنِي أَسَدٍ، فَكَانَ الرَّجُلُ مِنْهُمْ يَتَجَوَّعُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَلَا يَمُرُّ بِهِ شَيْءٌ فَيَقُولُ فِيهِ: لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مِثْلَهُ، إِلَّا عَانَةً، فَأُرِيدَ بَعْضُ الْعَيَّانِينَ عَلَى أَنْ يَقُولَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ، فَقَالَ: لَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ رَجُلًا، فَعَصَمَهُ اللَّهُ
Artinya: ”Sebagian ulama berpendapat, ayat ini menunjukkan bahwa mereka hampir saja menimpakan penyakit ain kepada Nabi SAW. Diriwayatkan bahwa penyakit ain pernah terjadi pada Bani Asad, di mana seseorang dari mereka menahan lapar selama tiga hari, lalu jika ia melihat sesuatu, ia akan berkata, “Hari ini aku tidak pernah melihat yang seperti ini,” maka orang atau hewan yang dilihatnya akan celaka. Pernah ada seseorang dari golongan mereka yang diminta untuk menimpakan ain kepada Rasulullah SAW lalu ia berkata, “Hari ini aku tidak pernah melihat laki-laki seperti dia.” Namun Allah melindungi Nabi-Nya.” (Tafsir al-Munir, juz 29 hal.76)
Hal tersebut juga didukung oleh beberapa hadits, salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut.
مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَدُعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا حَسَدَ، وَالْعَيْنُ حَقٌّ
Artinya: ”Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,“Tidak ada penyakit menular yang berpindah sendiri (tanpa izin Allah), tidak ada sial karena burung (takhayul), tidak ada hantu yang membawa kesialan, dan tidak ada hasad yang bisa mencelakai tanpa izin Allah. Namun, penyakit ain itu benar adanya (bisa terjadi dengan kehendak Allah).” (Tafsir al-Munir, juz 29 hal.76)
Dari ulasan ini, dapat dipahami bahwa penyakit ain menurut ulama adalah penyakit yang muncul akibat pandangan seseorang yang disertai rasa takjub namun bercampur dengan hasad atau iri dengki. Penyakit ini berasal dari tabiat buruk seseorang dan dapat berdampak negatif, bahkan menimbulkan bahaya bagi orang yang dipandang.
Cara Melindungi Diri dari Penyakit ain
Meskipun penyakit ain benar adanya dan dapat memberikan pengaruh buruk, tentunya semua itu dapat terjadi atas izin Allah SWT. Oleh karena itu, kita tidak perlu merasa takut berlebihan terhadap penyakit ini, namun tetap perlu berhati-hati dengan cara berikhtiar dan berdoa, memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari bahaya penyakit ain.
Rasulullah SAW pun pernah mendoakan cucunya, Hasan dan Husain, dengan doa berikut untuk melindungi mereka dari penyakit ain:
اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ، ذَا الْمَنِّ الْقَدِيمِ، ذَا الْوَجْهِ الْكَرِيمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ، عَافِ......( عَافِنِي وَأَهْلِي وَمَنْ أُحِبُّ)..... مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ، وَأَعْيُنِ الْإِنْسِ
Allahumma Dza as-Sulthaanil ‘Azhiim, Dza al-Mannil Qadiim, Dza al-Wajhil Kariim, Waliyyal Kalimaatit Taammaat, wad-Da’waatil Mustajaabaat, ‘aafii (’aafinii wa ahlii wa man uhibb) min anfusil jinni wa a’yunil ins.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki kekuasaan agung, yang memiliki karunia sejak dulu, yang memiliki wajah yang mulia, pemilik kalimat-kalimat yang sempurna dan doa-doa yang mustajab, lindungilah...(sebutkan nama orang yang ingin dilindungi, misalnya diriku, keluargaku, atau siapa pun yang aku cintai)... dari kejahatan diri jin dan pandangan mata manusia.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 8 hal.287)
Doa ini berasal dari kisah ketika Jibril datang kepada Nabi SAW dan mendapati beliau sedang bersedih. Jibril bertanya, “Wahai Muhammad, mengapa aku melihat kesedihan di wajahmu?” Nabi menjawab, “Hasan dan Husain terkena penyakit ain.”
Jibril pun berkata, “Benar, mereka terkena ain, karena penyakit ain itu memang benar adanya. Tidakkah engkau membacakan doa perlindungan untuk mereka dengan kalimat-kalimat ini?”
Nabi SAW bertanya, “Kalimat apa itu, wahai Jibril?” Lalu Jibril mengajarkan doa tersebut kepada Nabi SAW. Setelah Nabi membacakannya, Hasan dan Husain pun sembuh dari penyakit ain dan kembali bermain seperti biasa. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


