Dark
Light
Dark
Light

5 Keistimewaan dan Keutamaan Sya’ban menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

5 Keistimewaan dan Keutamaan Sya’ban menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

Arina.id - Bulan Sya’ban merupakan bulan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Letaknya berada di antara dua bulan yang sangat dimuliakan, yaitu Rajab dan Ramadhan. Karena posisinya diapit oleh dua bulan utama tersebut, Sya’ban kerap terabaikan dan kurang mendapat perhatian dari sebagian umat Islam.

Padahal, sebagaimana diterangkan para ulama, bulan Sya’ban mengandung banyak keutamaan yang berhubungan erat dengan peningkatan kualitas ibadah serta persiapan ruhani seorang hamba dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani Al-Maliki, seorang ulama besar dan ahli hadits terkemuka asal Makkah (wafat 1425 H), secara khusus membahas keutamaan bulan Sya’ban dalam karyanya yang berjudul Madza fi Sya’ban (Ada Apa di Bulan Sya’ban?).

Dalam kitab itu, beliau menegaskan bahwa Sya’ban bukanlah bulan yang biasa, melainkan waktu yang dipenuhi dengan curahan rahmat, kesempatan memperbanyak amal ibadah, serta momentum untuk membersihkan jiwa. Di antara sekian banyak keutamaannya, terdapat lima keistimewaan pokok bulan Sya’ban yang layak untuk direnungkan dan diamalkan oleh setiap Muslim.

1. Bulan Diangkatnya Amal

Salah satu keistimewaan paling agung dari bulan Sya’ban adalah diangkatnya seluruh amal perbuatan manusia ke hadirat Allah SWT. Diangkatnya amal pada bulan ini berskala besar dan mencakup secara menyeluruh.

Hal ini sebagaimana diterangkan dalam redaksi hadits yang diriwayatkan Usamah bin Zaid RA. Tatkala Usamah menanyakan alasan Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, beliau menjelaskan bahwa Sya’ban merupakan bulan yang kerap diabaikan oleh manusia karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Padahal, pada bulan inilah seluruh amal perbuatan dipersembahkan kepada Allah, dan Rasulullah SAW sangat menyukai kondisi ketika amalnya diangkat dalam keadaan beliau sedang berpuasa. Sayyid Muhammad menegaskan bahwa meskipun pengangkatan amal juga berlangsung pada waktu-waktu lainnya, hal tersebut tidaklah saling bertentangan. Setiap proses pengangkatan memiliki hikmah dan ketetapannya masing-masing.

Karenanya, bulan Sya’ban menjadi momentum penting bagi seorang hamba untuk mempersiapkan amal perbuatannya sebelum dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT:

مِنْ مَزَايَا شَهْرِ شَعْبَانَ الْمَعْرُوفَةِ: رَفْعُ الْأَعْمَالِ فِيهِ، وَهُوَ الرَّفْعُ الْأَكْبَرُ وَالْأَوْسَعُ، وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! لِمَ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ .وَلَيْسَ هَذَا الرَّفْعُ خَاصًّا بِشَعْبَانَ، بَلْ جَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ الشَّرِيفَةِ مَا يَدُلُّ عَلَى تَعَدُّدِ رَفْعِ الْأَعْمَالِ فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَلَا تَنَافِيَ بَيْنَهَا؛ فَإِنَّ لِكُلِّ رَفْعٍ حُكْمًا تَتَعَلَّقُ بِهِ

Artinya: “Di antara keutamaan bulan Sya‘ban yang telah dikenal adalah diangkatnya amal-amal perbuatan pada bulan tersebut, dan pengangkatan ini merupakan yang terbesar dan terluas. Hal ini disebutkan dalam hadis dari Usamah bin Zaid RA, ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa pada suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya‘ban. Beliau bersabda: Itulah bulan yang sering dilalaikan oleh manusia, berada di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Tuhan seluruh alam, dan aku senang apabila amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa. Pengangkatan amal ini tidak hanya khusus terjadi pada bulan Sya’ban saja, karena dalam hadits-hadits mulia terdapat keterangan yang menunjukkan bahwa amal-amal diangkat pada berbagai waktu yang berbeda. Hal itu tidak saling bertentangan, karena setiap pengangkatan memiliki hikmah dan ketentuan tersendiri yang berkaitan dengannya.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h. 11)

2. Bulan Ditentukannya Usia Manusia

Keutamaan lain dari bulan Sya’ban adalah penetapan ajal manusia. Pada bulan ini, Allah SWT menampakkan dan meneguhkan ketentuan mengenai siapa saja yang akan wafat dalam kurun satu tahun mendatang. Penetapan ini tentu tidak berarti bahwa Allah SWT terikat oleh waktu, karena Dia Mahasuci dari keterbatasan ruang dan masa. Justru, hal itu merupakan perwujudan dari ketetapan-Nya yang telah ada sejak azali.

Sayyid Muhammad Al-Maliki mengutip riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW sangat menggemari ibadah puasa pada bulan Sya’ban. Ketika beliau ditanya mengenai alasannya, Nabi SAW menjelaskan bahwa pada bulan Sya’ban Allah SWT menetapkan siapa saja yang akan wafat dalam tahun itu.

Karena itulah, Rasulullah SAW berharap apabila ajal menjemputnya, beliau berada dalam kondisi sedang berpuasa. Dorongan inilah yang membuat beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, hingga para sahabat menyaksikan besarnya perhatian Nabi SAW terhadap bulan tersebut:

وَفِي شَهْرِ شَعْبَانَ تُقَدَّرُ الْأَعْمَارُ، وَالْمَقْصُودُ إِظْهَارُ هَذَا التَّقْدِيرِ وَإِبْرَازُهُ، وَإِلَّا فَإِنَّ أَفْعَالَ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تُقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَلَا مَكَانٍ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ .وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ عَنِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلَيْكَ أَنْ تَصُومَهُ شَعْبَانُ؟ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَكْتُبُ فِيهِ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِيتَةَ تِلْكَ السَّنَةِ، فَأُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَنِي أَجَلِي وَأَنَا صَائِمٌ .وَلِذَلِكَ كَانَ يُكْثِرُ صِيَامَهُ. يَقُولُ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَصُومُ وَلَا يُفْطِرُ، حَتَّى نَقُولَ: مَا فِي نَفْسِ رَسُولِ اللَّهِ لَهُ أَنْ يُفْطِرَ الْعَامَ، ثُمَّ يُفْطِرُ فَلَا يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: مَا فِي نَفْسِهِ أَنْ يَصُومَ الْعَامَ، وَكَانَ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَيْهِ فِي شَعْبَانَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ

Artinya: “Pada bulan Sya’ban ditetapkan umur manusia. Yang dimaksud dengan penetapan ini adalah penampakan dan penegasannya, karena sesungguhnya perbuatan Allah SWT tidak terikat waktu dan tempat. (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Sayyidah ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW biasa berpuasa sepanjang bulan Sya’ban. Ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa adalah bulan Sya‘ban. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mencatat pada bulan itu bagi setiap jiwa siapa yang akan meninggal pada tahun itu, dan aku suka jika ajalku datang sementara aku dalam keadaan berpuasa. Oleh karena itu, beliau SAW memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW terkadang terus berpuasa dan tidak berbuka, sehingga kami berkata: sepertinya beliau tidak akan berbuka sepanjang tahun. Kemudian beliau berbuka dan tidak berpuasa, hingga kami berkata: sepertinya beliau tidak akan berpuasa sepanjang tahun. Dan puasa yang paling beliau sukai adalah puasa di bulan Sya’ban. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Thabrani.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h. 17)

3. Bulan Shalawat Kepada Nabi SAW

Keistimewaan Sya’ban selanjutnya adalah kedudukannya sebagai bulan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama menjelaskan bahwa ayat yang memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW dalam Surah Al-Ahzab diturunkan pada bulan Sya’ban. Ayat ini menjadi dasar utama bagi umat Islam untuk memperbanyak shalawat sebagai wujud kecintaan, penghormatan, serta ketaatan kepada Nabi SAW.

Lebih lanjut, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sejumlah pandangan ulama salaf, di antaranya Ibn Abi Ash-Shaif Al-Yamani, Imam Al-Qasthalani, dan Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani. Mereka menyatakan bahwa bulan Sya’ban pantas disebut sebagai bulan shalawat karena pada bulan inilah ayat perintah bershalawat tersebut diturunkan.

Dengan demikian, Sya’ban menjadi waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak lantunan shalawat, mempererat ikatan spiritual dengan Rasulullah SAW, serta menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada beliau:

وَمِنْ مَزَايَا شَهْرِ شَعْبَانَ أَنَّهُ الشَّهْرُ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ آيَةُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهِيَ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ أَبِي الصَّيْفِ الْيَمَنِيُّ أَنَّهُ قِيلَ: إِنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِأَنَّ الْآيَةَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ الخ نَزَلَتْ فِيهِ. وَنَقَلَ الْإِمَامُ شِهَابُ الدِّينِ الْقَسْطَلَّانِيُّ فِي الْمَوَاهِبِ قَوْلًا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ: أَنَّ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ لِأَنَّ آيَةَ الصَّلَاةِ، يَعْنِي قَوْلَهُ تَعَالَى : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ الخ نَزَلَتْ فِيهِ .وَقَدْ ذَكَرَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْهَرَوِيِّ، أَنَّ الْأَمْرَ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْنِي قَوْلَهُ تَعَالَى  :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، كَانَ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَقِيلَ: فِي لَيْلَةِ الْإِسْرَاءِ

Artinya: “Di antara keutamaan bulan Sya’ban adalah bahwa pada bulan inilah diturunkan ayat tentang perintah bershalawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, yaitu firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. Ibn Abi Ash-Shaif Al-Yamani menyebutkan bahwa ada pendapat yang mengatakan: Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan bershalawat kepada Nabi SAW, karena ayat perintah sholawat diturunkan pada bulan tersebut. Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam kitab Al-Mawāhib juga menukil pendapat sebagian ulama bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bershalawat kepada Nabi SAW, karena ayat shalawat yakni firman Allah Ta’ala itu diturunkan pada bulan tersebut. Al-Hafizh Ibn Hajar juga menyebutkan, dari Abu Dzar Al-Harawi, bahwa perintah untuk bershalawat kepada Nabi SAW yakni melalui firman Allah Ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan, terjadi pada tahun kedua Hijriah. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa perintah demikian turun pada malam Isra’ Mi’raj.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shafwah Al-Malikiyyah], h. 25)

4. Bulan Al-Qur’an

Selain dikenal sebagai bulan shalawat, Sya’ban juga menurut sebagian ulama disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menjelaskan bahwa meskipun membaca Al-Qur’an dianjurkan pada setiap waktu, keutamaannya menjadi lebih ditekankan pada saat-saat yang penuh keberkahan, termasuk bulan Sya’ban.

Kalangan salafus shalih menjadikan bulan ini sebagai kesempatan untuk memperbanyak tilawah, bahkan sebagian di antara mereka mengurangi kesibukan duniawi agar dapat lebih fokus dalam membaca Al-Qur’an.

Al-Hafizh Ibn Rajab Al-Hanbali meriwayatkan bahwa ketika bulan Sya’ban datang, umat Islam dari kalangan salaf akan menyibukkan diri dengan mushaf Al-Qur’an serta menunaikan zakat untuk membantu kaum fakir agar mereka siap menyambut bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban merupakan bulan persiapan, baik secara spiritual maupun sosial, di mana Al-Qur’an menjadi pusat perhatian sekaligus amalan yang diutamakan:

جَاءَ فِي بَعْضِ الْآثَارِ تَسْمِيَةُ شَعْبَانَ بِـشَهْرِ الْقُرْآنِ. وَمَعْلُومٌ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مَطْلُوبَةٌ فِي كُلِّ زَمَانٍ، وَلَكِنَّهَا تَتَأَكَّدُ فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُبَارَكَةِ الْمُشَرَّفَةِ، كَرَمَضَانَ وَشَعْبَانَ، وَمَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ، وَالرَّوْضَةِ الْمُشَرَّفَةِ، وَالْمَوَاسِمِ الْمُفَضَّلَةِ .وَقَدْ جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ هَذَا الْقَوْلُ .قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ رَجَبٍ الْحَنْبَلِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: رُوِينَا بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ الْمُسْلِمُونَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ، انْكَبُّوا عَلَى الْمَصَاحِفِ فَقَرَؤُوهَا، وَأَخْرَجُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ تَقْوِيَةً لِلضَّعِيفِ وَالْمِسْكِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ .وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ: كَانَ يُقَالُ: شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ .وَكَانَ حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ قَالَ: هَذَا شَهْرُ الْقُرَّاءِ .وَكَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمَلَّائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَغْلَقَ حَانُوتَهُ، وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ .قَالَ الْحَسَنُ بْنُ سَهْلٍ: قَالَ شَعْبَانُ: يَا رَبِّ، جَعَلْتَنِي بَيْنَ شَهْرَيْنِ عَظِيمَيْنِ، فَمَا لِي؟ قَالَ: جَعَلْتُ فِيكَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ.

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنُ حِجَازِي رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ يُقْبِلُونَ فِيهِ عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَتَأَسَّوْا بِهِمْ؛ فَمَا مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ جَمَعَ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، كَالْفَاتِحَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ، وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ، وَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَيَشْتَغِلُ الْإِنْسَانُ فِي هَذَا الشَّهْرِ بِمَا جَمَعَ

Artinya: “Dalam sebagian atsar disebutkan penamaan bulan Sya’ban sebagai bulan Al-Qur’an. Telah diketahui bahwa membaca Al-Qur’an dianjurkan pada setiap waktu, namun anjuran itu semakin ditekankan pada waktu-waktu yang penuh berkah dan mulia, seperti bulan Ramadan dan Sya’ban, di Makkah Al-Mukarramah, di Raudhah yang mulia, serta pada musim-musim utama. Pendapat ini juga diriwayatkan dari sebagian ulama salaf. Al-Hafizh Ibn Rajab Al-Hanbali berkata: Kami meriwayatkan dari Anas RA, ia berkata: Apabila bulan Sya‘ban telah masuk, kaum muslimin menyibukkan diri dengan mushaf-mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat harta mereka sebagai penguat bagi orang-orang lemah dan fakir miskin agar mampu berpuasa di bulan Ramadan. Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an. Dan Habib bin Abi Tsabit apabila bulan Sya’ban masuk, ia berkata: Ini adalah bulan para pembaca Al-Qur’an. Sementara itu, ‘Amr bin Qais Al-Mulā’ī apabila bulan Sya’ban tiba, ia menutup tokonya dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an. Al-Hasan bin Sahl berkata: Sya’ban berkata: Wahai Tuhanku, Engkau menjadikanku berada di antara dua bulan yang agung, maka apa keistimewaanku? Maka Allah berfirman: Aku menjadikan di dalammu pembacaan Al-Qur’an. Al-‘Allamah Syekh Ahmad bin Hijazi berkomentar: Para salafus shalih dahulu menyambut bulan ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, maka teladanilah mereka. Tidaklah ada seorang pun di antara kalian melainkan telah menghafal sebagian dari Al-Qur’an, seperti Al-Fatihah Ummul Kitab, Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, dua surah perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas), dan selainnya. Maka hendaklah seseorang menyibukkan dirinya pada bulan ini dengan apa yang telah ia hafal.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shafwah Al-Malikiyyah], h. 44)

5. Bulan Istighfar dan Penyucian Diri

Keutamaan terakhir dari bulan Sya’ban adalah kedudukannya sebagai bulan istighfar. Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa istighfar merupakan zikir yang sangat utama untuk diperbanyak, terutama pada waktu-waktu yang dimuliakan seperti bulan Sya’ban dan malam pertengahannya. Melalui istighfar, pintu rezeki dibukakan, dosa-dosa dihapuskan, serta segala kesedihan dan kesempitan hidup diangkat oleh Allah SWT.

Dalam berbagai redaksi hadits, Rasulullah SAW menerangkan keutamaan istighfar sebagai sarana keluar dari beragam kesulitan serta jalan untuk meraih karunia Allah dari arah yang tidak terduga. Dosa-dosa yang menumpuk kerap menjadi penyebab kegelisahan dan kesempitan hidup.

Oleh sebab itu, istighfar, tobat yang sungguh-sungguh, serta pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah SWT merupakan penawar yang paling ampuh:

الِاسْتِغْفَارُ مِنْ أَعْظَمِ وَأَوْلَى مَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ الْحَرِيصِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ، الَّتِي مِنْهَا: شَعْبَانُ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ، وَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ تَيْسِيرِ الرِّزْقِ، وَدَلَّتْ عَلَى فَضْلِهِ نُصُوصُ الْكِتَابِ، وَأَحَادِيثُ سَيِّدِ الْأَحْبَابِ، وَفِيهِ تَكْفِيرٌ لِلذُّنُوبِ، وَتَفْرِيجٌ لِلْكُرُوبِ، وَإِذْهَابٌ لِلْهُمُومِ، وَدَفْعٌ لِلْغُمُومِ .وَذَلِكَ لِأَنَّ كَثْرَةَ الْهُمُومِ وَتَوَالِيَ الْأَكْدَارِ سَبَبُهَا شُؤْمُ الذُّنُوبِ وَالْإِصْرَارِ، فَجَدِيرٌ بِأَنْ يَكُونَ دَوَاؤُهَا الِاسْتِغْفَارَ، وَصِدْقَ التَّوْبَةِ وَالِاعْتِذَارِ .قَالَ: مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ. وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى :يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي .يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي. يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي 

Artinya: “Istighfar termasuk amalan yang paling agung dan paling utama untuk dilakukan seorang muslim yang bersungguh-sungguh, terutama pada waktu-waktu utama, di antaranya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar merupakan salah satu sebab dimudahkannya rezeki. Keutamaannya ditunjukkan nash Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW. Di dalamnya terdapat penghapusan dosa, pelepasan kesusahan, penghilangan kegundahan, serta penolak berbagai kesedihan. Hal itu karena banyaknya kegundahan dan bertumpuknya kesulitan merupakan akibat dari dosa-dosa dan sikap terus-menerus dalam kemaksiatan. Sebab itu, sangat layak jika obatnya adalah istighfar, ketulusan tobat, dan kejujuran dalam memohon ampunan. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa membiasakan istighfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud. Dari Anas RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman: Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa pun yang telah engkau perbuat, dan Aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak memperdulikannya. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku.” (Madza fi Sya’ban [Surabaya: Haiah As-Shafwah Al-Malikiyyah], h. 57)

Kesimpulan 

Berdasarkan uraian Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ini, dapat dipahami bahwa bulan Sya’ban sama sekali bukan bulan yang hampa dari keutamaan. Sya’ban merupakan waktu diangkatnya amal perbuatan, ditetapkannya ajal, bulan bershalawat kepada Nabi SAW, bulan Al-Qur’an, sekaligus bulan istighfar dan penyucian jiwa. Seluruh keistimewaan tersebut menegaskan bahwa Sya’ban merupakan fase persiapan yang sangat penting bagi seorang Muslim sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Oleh sebab itu, kita selayaknya tidak mengabaikan bulan Sya’ban. Justru pada bulan inilah kita dapat berupaya memperbaiki amal perbuatannya, memperbanyak ibadah, menyucikan hati, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan memuliakan bulan Sya’ban, semoga kita dapat menyongsong Ramadhan dengan hati yang bersih, keimanan yang kokoh, dan kesiapan ruhani yang matang. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan taufik kepada kita untuk menghidupkan bulan Sya’ban dengan amal-amal terbaik serta menerima seluruh ibadah yang kita lakukan. Amin. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo