Dark
Light
Dark
Light

Viral, Video Tidak Takut Istri: Berikut Kisah Tokoh Islam yang Takut Istri

Viral, Video Tidak Takut Istri: Berikut Kisah Tokoh Islam yang Takut Istri

Arina.id - Bulan lalu viral sebuah video empat orang bapak-bapak yang menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan istri. Video tersebut dibuat oleh Sunardi Hadi, seorang Kepala Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember bersama rekan kerjanya. Video itu viral di media sosial dan banyak warganet yang membuat video yang sama.

Fenomena takut dengan istri sebenarnya bukan hanya terjadi saat ini dan tidak hanya terjadi pada orang biasa. Seorang sekaliber Antarah bin Shaddad dikisahkan sangat takut dan tunduk kepada Istrinya. Dikisahkan bahwa Antarah adalah seorang kesatria Arab pra-Islam dan seorang penyair terkenal, sebagaimana catatan Umar Ridha Kahalah dalam Mu’jamul Mu’allifin [Beirut: Dar Ihya Turats Arabi, vol. 8, hal. 14]. 

Para peneliti Barat menjulukinya dengan “The Black Knight” dan “Heracles of Arabia” karena kegigihanya dalam berperang dan berpetualang. Sya’irnya juga banyak menjadi perhatian para pakar bahasa Arab sejak era awal kemunculan disiplin ilmu Nahwu hingga era Fakultas Adab dan Humaniora di bilik kampus. Kebanyakan sya’irnya bercerita tentang istrinya, Ablah yang sangat dia cintai.

Ibnu Aqil al-Mishri mengutip sya’ir Antarah sebagai contoh kebolehan membuang salah satu objek dzanna wa akhatuha, dan sya’ir itu bercerita tengan perasaannya kepada Ablah. Berikut sya’irnya:

ولقد نزلت  فلا  تظني  غيره … مني بمنزلة المحب المكرم 

Artinya: "Sungguh engkau telah menetap di dalam hatiku sebagai pecinta yang mulia, maka janganlah berprasangka selain itu." (Syarh Ibn Aqil ala Alfiyah Ibn Malik, [Kairo: Dar al-Turats, 1980], juz 2, hal. 56.).

Banyak tokoh historis Islam yang dikisahkan takut kepada istrinya, mereka bersabar menghadapi segala bentuk perlakuan istinya. Para tokoh ini adalah orang-orang yang mempunyai nama besar dalam histografi Islam.

Youssef Abjik al-Susi mengumpulkan beberapa nama besar dan kisah mereka terkait kesabaran menghadapi istrinya dalam Shafahat min Akhbaril Anbiya’ wal Ulama wal Auliya wal Hukama fis Shabri alaz Zaujat wal Hilmi alaihinna [Oman: Dar al-Fath, 2019].

1. Umar bin Khattab

Abu al-Laith al-Samarqandi mencatat dalam Tanbihul Ghafilin dikisahkan bahwa terdapat seseorang yang hendak bertemu Amirul Mukminin Umar bin Khattab untuk mengeluhkan istrinya. Ketika sudah berada di depan pintu rumah Umar, dia mendengan Umar dimarahi oleh istrinya, Ummi Kulthum. Dia bergumam “Aku ingin bercerita keluh kesahku tentang istriku, ternyata dia juga mengalami hal yang sama”. 

Umar memanggilnya dan menanyai keperluannya, dia menjawab “Aku ingin mengeluh tentang istiku, ketika aku mendengar ucapan istrimu, aku mengurungkan niatku”. Umar menjawab “Aku memaafkan istriku karena dia mempunyai hak kepadaku, pertama dia melindungiku dari api neraka, maka hatiku merasa tenang terhindar dari keharaman, kedua dia menjaga rumahku ketika aku keluar, dan dia menjaga hartaku, ketiga dia merawat pakaianku, keempat dia menyusui anakku, kelima dia membuatkan ku roti dan memasakkan makanan untukku."

Pria itu berkata “Aku juga mengalami apa yang engkau alami, akan tetapi aku tidak memaafkan istriku, oleh karena itu sekarang aku akan memaafkannya”. 

2. Syaqiq al-Balkhi

Abdul Ghani al-Nablusi dalam Syarh Tariqah al-Muhammadiyah mengatakan bahwa sebagian tokoh besar bersabar menghadapi karakter negatif istrinya. Mereka beralasan khawatir jika mentalak istrinya, kelak istrinya akan menikah dengan pria yang tidak bisa bersabar menghadapi sikap buruknya, sehingga dia akan menganiaya balik istrinya tersebut.

Diceritakan bahwa Syaqiq al-Balkhi mempunyai istri yang berkarakter negatif, dia ditanyai mengapa tidak menceraikannya. Dia menjawab “Jika akhlaknya buruk, maka akhlakku harus baik, jika aku mentalaknya maka aku bisa bersabar, sedangkan dia aku khawatir dia akan mendapatkan suami baru yang tidak bisa bersabar menghadapinya”.

3. Ali al-Khawwash

Al-Sya’rani berkata dalam Al-Uhud al-Muhammadiyah bahwa gurunya, Ali al-Khawwash pernah tidak disapa oleh istrinya selama tiga bulan lebih karena memberi minum ayam peliharaan istrinya dengan air yang terbuka. Kemudian dia melakukan kesalahan lainnya yakni meminum dari wadah minuman milik istrinya. Kemudian istrinya menggosok bekas mulut Ali yang ada di wadah itu dengan tembikar dan tidak mau minum di posisi bekas mulut Ali.

Ali mengajaknya pergi ke Hijaz, dia tidak berbicara sama sekali, kemudian diajak ke Mesir dan tidak ada pembicaraan sama sekali hingga kembali pulang. Ketika istrinya meniggal dunia, dia mengiringinya dengan bendera putih di depan kerandanya. Dia bercerita ketika sakit sebelum meniggal dunia, bahwa dia tidak pernah tidur besama isrinya selama 57 tahun meskipun keduanya sedang dalam keadaan damai.

Ali al-Khawwash menjawab orang yang memerintahkannya untuk menceraikan istrinya “kezaliman bukan darinya, akan tetapi dari diriku sendiri, sebab dia adalah representasi dari amal perbuatanku”. 

Hikmah Sabar pada Istri

Banyak kisah-kisah para tokoh historis Islam mengenai kesabaran mereka ketika menghadapi istri-istri mereka, dan hal ini menunjukkan bahwa mengalah dan menurunkan ego kelelakian ketika menghadapi amarah dan prilaku buruk seorang istri bukanlah hal yang hina dan menurunkan derajat kemuliaan seorang pria.

Justru jika melihat fakta yang ada, tingginya angka perceraian juga disebabkan sikap egois seorang pria yang ingin menang dan paling benar serta harus dihormati tanpa disalahkan. Termasuk memaksa istri harus menyetujui kehendak suami untuk berpoligami, atau menormalisasi tindak perselingkuhan yang dilakukan oleh suami berdalih dalil agama. Di satu sisi, hak-hak prerogatif seorang istri tidak dipenuhi dengan baik. 

Banyak hal yang melatarbelakangi sikap suami yang takut kepada istrinya, seperti rasa cinta yang terlampau besar, rasa tanggung jawab kepada keluarga khususnya anak agar tidak menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Termasuk juga prinsip interospeksi diri bahwa sikap itu merupakan cerminan dari dosa-dosa seorang suami yang tidak terlalu mendekatkan diri kepada Allah.

Jika seorang suami tidak menurunkan egonya, seperti ketika istrinya marah sedangkan dia terpantik untuk meluapkan emosi, maka ibarat api menyala yang semakin berkobar dengan disiram bahan bakar. Tidak menutup kemungkinan dengan kondisi ini akan keluar kata talak yang semakin menghancurkan rumah tangga yang telah lama mereka bangun. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo