Dark
Light
Dark
Light

Membahas Dalil Tarawih 10 Rakaat yang Baru Diterapkan di Masjidil Haram

Membahas Dalil Tarawih 10 Rakaat yang Baru Diterapkan di Masjidil Haram

Arina.id - Pemerintah kerajaan Arab Saudi menetapkan jumlah rakaat sholat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan 10 rakaat (5 kali salam) dan 3 rakaat sholat witir. Kebijakan ini diberlakukan mulai Ramadhan 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi dengan mempertimbangkan kenyamanan dan efektivitas serta efisiensi manajemen masjid yang memandang semakin banyaknya jamaah internasional di bulan Ramadhan.

Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan bagi sebagian masyarakat Muslim global. Pasalnya, sholat Tarawih di Masjidil Haram sebelum-sebelumnya dilakukan dengan 20 rakaat. Kebijakan jumlah 10 rakaat sholat Tarawih juga belum pernah terdengar di telinga mayoritas masyarakat Muslim. 

Tidak memungkiri bahwa jumlah rakaat sholat Tarawih memang menjadi hal yang diperdebatkan hingga kini dan menjadi topik perselisihan setiap bulan Ramadhan. Ada beberapa pandangan jumlah rakaat mulai dari 8 rakaat, 20 rakaat, dan 36 rakaat khusus penduduk Madinah. Namun, jumlah 10 rakaat sangat tidak umum, bahkan terkesan tidak berdalil.

Abdurrahman al-Sudais, imam besar Masjidil Haram, menjelaskan problematika ini dalam sebuah potongan video, dan mengatakan sebagai berikut:

ولا ينبغي للمسلمين أن يختلفوا في أعداد التراويح, فيصلون احدى عشرة ركعات وهم على سنة, ويصلون ثلاثة عشرة ركعات وهم على سنة, ويصلون عشرين ركعات وهم على خير, صلاة الليل مثنى مثنى.

Artinya: "Masyarakat muslim hendaknya tidak berdebat terkait jumlah rakaat sholat Tarawih. Mereka sholat dengan 11 rakaat sudah sesuai sunnah, mereka sholat dengan 13 rakaat sudah sesuai sunnah, mereka sholat 20 rakaat sudah sesuai dengan sunnah yang lebih baik, sebagaimana sabda Nabi “sholat malam dilakukan dua rakaat salam, dua rakaat salam.”

Kebijakan ini terkesan sebuah pembaruan ijtihad terkait sholat Tarawih karena sebelumnya belum pernah terjadi, bahkan sejak zaman Nabi dan para sahabat. Akan tetapi, kebijakan ini menunjukkan sebuah inklusivitas ber-fiqih para ulama Arab Saudi dan semakin mempertegas terkait terbukanya ruang perbedaan dalam ber-fiqih.

Jumlah Tarawih 10 rakaat memang sangat sulit untuk dicarikan dalilnya dari catatan ulama klasik. Terlebih dari dalil Hadits dan dari catatan aktivitas para sahabat dan tabi’in. Namun, bukan berarti tidak ditemukan sama sekali.

Penulis menemukan sebuah catatan terkait jumlah rakaat sholat Tarawih yang terkesan kontroversial dikarenakan berbeda dengan biasanya, yaitu dalam catatan Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, penulis Syarh al-Yaqut al-Nafis. Dia mengatakan bahwa sholat Tarawih dilakukan minimal 2 rakaat dan maksimal 20 rakaat. Berikut catatannya:

وأقل التراويح ركعتان, وأكملها عشرون.

Artinya: "Minimal jumlah rakaat sholat Tarawih adalah dua rakaat, dan sempurnanya adalah 20 rakaat." (Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, [Beirut: Darul Hawi, 1997], vol. 1, hlm. 290.).

Muhammad al-Syathiri juga mengutip pendapat sebagian ulama bahwa sesungguhnya sholat Tarawih tidak dibatasi dengan rakaat tertentu. Berikut catatannya [hlm. 291]:

وقال بعضهم: المعتمد انها لم تحدد بعدد معين في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Artinya: "Sebagian ulama mengatakan bahwa sholat Tarawih tidak dibatasi dengan jumlah rakaat tertentu di zaman Rasulullah SAW menurut pendapat yang mu’tamad." 

Muhammad al-Syathiri sendiri mengomentari terkait jumlah rakaat sholat Tarawih sebagai sebuah produk ijtihad, bukan merupakan perintah Rasulullah. Buktinya, ijtihad ahlul Madinah menambahkan 16 rakaat sebagai perbandingan tawaf yang dilakukan oleh Ahlu Makkah setiap selesai 4 rakaat sholat Tarawih. Sehingga jumlah rakaat Tarawih ahlul Madinah menjadi 36 rakaat.

Tarawih sendiri merupakan sebuah terminologi yang muncul di era ijtihad, bukan di era Rasulullah dan para sahabat. Sebuah terminologi yang muncul karena tradisi istirahat di setiap dua kali salam dengan bacaan dzikir, meskipun empat madzhab sepakat terkait jumlah rakaatnya, yakni 20 rakaat. Tidak menutup kemungkinan bahwa 10 rakaat kebijakan pemerintah Arab Saudi juga merupakan sebuah produk ijtihad dengan pertimbangan teknis, dan manajemen masjid.

Kutipan komentar tentang tidak adanya jumlah rakaat yang pasti di era Rasulullah juga ditulis oleh Jalaluddin al-Suyuthi sebagai berikut:

الذي وردت به الأحاديث الصحيحة والحسان الأمر بقيام رمضان والترغيب فيه من غير تخصيص بعدد، ولم يثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى التراويح عشرين ركعة، وإنما صلى ليالي صلاة لم يذكر عددها، ثم تأخر في الليلة الرابعة خشية أن تفرض عليهم فيعجزوا عنها

Artinya: "Hadits-hadits baik sahih, hasan, bahkan dha’if hanya terkait perintah untuk beribadah di bulan Ramadhan tanpa menyebutkan jumlah rakaat secara khusus, dan tidak ada riwayat Nabi sholat Tarawih 20 rakaat. Beliau hanya sholat malam yang tidak disebutkan jumlah rakaatnya, lalu beliau menyudahi di malam ke empat khawatir menjadi wajib bagi umat Muslim sehingga bisa memberatkan mereka." (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Mashabih fi shalatit Tarawih, [Oman: Darul Ammar, 1986], hlm. 15-16.).

Jumlah 13 rakaat (10 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir) hanya ditemukan di hadits yang menerangkan tentang sholat malam yang dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana dalam hadits Sahih Bukhari [no. 1145] berikut:

حدثنا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو جَمْرَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ صَلَاةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‌ثَلَاثَ ‌عَشْرَةَ ‌رَكْعَةً، يَعْنِي: بِاللَّيْلِ

Artinya: "Dari Ibnu Abbas berkata, sholat Rasulullah 13 rakaat, yakni di malam hari."

Hadits ini sebenarnya sama dengan hadits Sayyidah Aisyah terkait aktivitas sholat malam Rasulullah baik di dalam maupun luar Ramadhan, yakni 11 rakaat beserta witir. Mungkin saja yang dimaksud oleh Abdurrahman al-Sudais dengan jumlah 13 rakaat untuk Tarawih sudah sesuai sunnah adalah berdasarkan hadits Ibnu Abbas ini. Sebagaimana jumlah 11 rakaat yang sudah sesuai sunnah menurutnya. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo