Dark
Light
Dark
Light

Penjelasan tentang Sholat Kafarat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

Penjelasan tentang Sholat Kafarat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

Sholat Kafarat, atau dikenal juga sebagai sholat al-bara’ah, merupakan ibadah sholat yang bertujuan untuk menggantikan sholat fardhu yang pernah ditinggalkan atau tidak sah di masa lalu. Sholat ini biasanya dilakukan setelah sholat Jumat pada hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan.

Sholat Kafarat dikerjakan dengan jumlah rakaat yang sama dengan jumlah rakaat sholat fardhu dalam lima waktu sholat, yaitu 17 rakaat. Rinciannya adalah 4 rakaat untuk Dzuhur, 4 rakaat untuk Ashar, 3 rakaat untuk Maghrib, 4 rakaat untuk Isya, dan 2 rakaat untuk Subuh.

Pada sisi lain, ada juga yang melakukan sholat kafarat Jumat terakhir Ramadhan dengan 4 rakaat dengan 1 kali tasyahud. Pada setiap rakaat, setelah membaca surat Al-Fatihah, Kemudian membaca surat Al-Qadar sebanyak 15 kali dan surat Al-Kautsar sebanyak 15 kali.

Dalil utama yang mendasari pelaksanaan sholat kafarat adalah hadits Nabi Muhammad SAW:

 مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةٌ فِي عُمْرِهِ وَلَمْ يُحْصِ عَدَدَهَا فَلْيَقُمْ فِي آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَيُصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَشَهُّدٍ وَاحِدٍ وَيَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ الْفَاتِحَةَ وَسُورَةَ الْقَدْرِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَسُورَةَ الْكَوْثَرِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً

Artinya: "Barang siapa yang tertinggal sholat dalam hidupnya dan dia tidak tahu jumlahnya, maka hendaklah dia berdiri pada hari Jumat terakhir bulan Ramadhan dan sholat empat rakaat dengan satu tasyahud. Pada setiap rakaat, dia membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Qadr sebanyak 15 kali, serta surat Al-Kautsar sebanyak 15 kali."

Selanjutnya, terdapat hadits yang menjelaskan keutamaan menunaikan sholat kafarat yakni bahwa barang siapa yang menunaikan sholat lima waktu di Jumat terakhir bulan Ramadhan, maka sholat-sholat fardhu yang dia tinggalkan selama setahun diampuni oleh Allah. Simak sabda Nabi Muhammad berikut:

مَن صَلَّى في آخِرِ جُمْعَةٍ مِنْ رَمَضَانَ الْخَمْسَ صَلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ قَضَتْ عَنْهُ مَا أَخَلَّ بِهِ مِنْ صَلَاةِ سَنَتِهِ

Artinya: "Barangsiapa yang sholat lima waktu fardhu pada akhir hari Jumat bulan Ramadhan, maka sholat tersebut akan menggantikan sholat-sholat yang dia tinggalkan selama setahun."

Terkait hukum melaksanakan sholat kafarat pada Jumat terakhir Ramadhan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Pada satu sisi ada ulama yang tidak memperbolehkannya karena tidak ada dalil kuat dalam Al-Qur'an maupun hadits sahih.

Salah satu ulama yang melarang sholat ini adalah Imam Syaukani. Dalam kitabnya al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Haditsi al-Maudhuah, halaman 54, ia menyatakan bahwa hadits tentang sholat kafarat Jumat terakhir Ramadhan adalah hadits maudhu’.  Hadits maudhu’ adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan kebohongan dan tidak memiliki sanad yang sahih. Hal ini berarti, hadits tersebut tidak benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنته) هذا: موضوع لا إشكال فيه، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة صنعاء في عصرنا هذا، وصار كثير منهم يفعلون ذلك، ولا أدري من وضعه لهم، فقبح الله الكذابين

Artinya: "Barangsiapa yang sholat di akhir bulan Ramadhan lima sholat fardhu di siang dan malam hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa sholat sunnah yang dia tinggalkan selama setahun." Hadits ini, tidak ada keraguan dalam hal ini (kebenarannya), dan saya tidak menemukannya di dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits maudhu’, namun hadits ini terkenal di kalangan sekelompok ahli fikih di kota Sana’a pada zaman sekarang ini, dan banyak dari mereka yang melakukannya. Saya tidak tahu siapa yang meriwayatkannya kepada mereka, maka celakalah bagi orang-orang yang berdusta". [Imam Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Haditsi al-Maudhuah, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1971], halaman 54].

Syekh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anah Thalibin menyatakan bahwa sholat kafarat di bulan Ramadhan terakhir termasuk amalan yang tidak ada dalil shahihnya. Justru, hadits yang menjadi dalil sholat tersebut termasuk hadis maudhu’ (palsu). Pendapat Syekh Abu Bakar Syatha’ ini sejalan dengan ulama lain seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, dan Syekh Zakariya al-Anshari. Mereka semua berpandangan bahwa tidak ada dalil shahih yang meriwayatkan tentang sholat kafarat di bulan Ramadhan terakhir.

(قوله: فائدة: أما الصلاة المعروفة ليلة الرغائب إلخ) قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب. وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها. وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر. وصلاة الأسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه‍.

Artinya: “Perkataannya: Adapun sholat yang dikenal pada malam Ragha’ib, dst. Berkata pengarang kitab Irshad al-’Ibad: Dan di antara bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa dan wajib bagi penguasa untuk mencegahnya adalah: sholat Ragha’ib, dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya’ pada malam pertama Jum’at bulan Rajab. Dan sholat pada malam Nisfu Sya’ban seratus rakaat, dan sholat pada malam Jum’at terakhir bulan Ramadan tujuh belas rakaat, dengan niat mengganti sholat lima waktu yang belum diganti. Dan sholat pada hari Asyura empat rakaat atau lebih. Dan sholat seminggu sekali. Adapun hadits-haditsnya, maka itu adalah hadits palsu, jangan tertipu oleh orang yang menyebutkannya." [Syekh Abu Bakar Syatha’ ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, Jilid I, halaman 312].
 
Lebih jauh lagi, alasan ulama yang tidak membolehkan sholat kafarat mengatakan bahwa dalam Islam, meninggalkan sholat merupakan dosa besar yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Jika seseorang terlanjur meninggalkan sholat untuk segera mengqadhanya. Bila tidak mengetahui jumlahnya, maka dia wajib berusaha keras untuk menghitungnya.

Jika tidak dapat menentukannya secara pasti, maka perkiraan yang kuat dapat digunakan. Setelah mengetahui jumlahnya, dia wajib menggantinya sedikit demi sedikit. Cara yang mudah dan ringan adalah dengan mengganti sholat qadha bersama setiap sholat fardhu yang ada. Syekh Musthafa al-Khin dan al-Bugha berkata dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i:

وقد اتفق جمهور العلماء من مختلف المذاهب على أن تارك الصلاة يكلف بقضائها، سواء تركها نسياناً أم عمداً، مع الفارق التالي: وهو أن التارك لها بعذر كنسيان أونوم لايأثم، ولا يجب عليه المبادرة إلى قضائها فوراً، أما التارك لها بغيرعذر- أي عمداً - فيجب عليه – مع حصول الإثم – المبادرة إلى قضائها

Artinya: "Telah berkonsensus ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa orang yang meninggalkan sholat wajib menggantinya, baik karena lupa maupun sengaja. Namun, ada perbedaan di antara keduanya. Orang yang meninggalkan sholat sebab udzur, seperti karena lupa atau tidur tidak berdosa dan tidak wajib segera menggantinya.

Sedangkan orang yang meninggalkan sholat tanpa alasan (sengaja) berdosa dan wajib segera menggantinya." [Syekh Musthafa al-Khin dan al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i, Jilid I, halaman 110].

Sementara itu ada yang berpendapat bahwa sholat ini dianjurkan, yang kebanyakan berasal dari ulama-ulama Yaman. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami dalam Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Sholat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 48 bahwa sholat Bara’ah/kafarat merupakan amalan yang dilakukan di Masjid Jami’ Zabid, Yaman. Imam al-Nasyiri menyebutkan bahwa sholat ini dikerjakan oleh sebagian besar ulama Yaman, hanya sedikit yang meninggalkannya.

Lebih lanjut, sholat ini merupakan amaliah para ulama tasawuf dan imam-imam fatwa. Para imam yang dikenal wara’ (sangat hati-hati dalam beribadah) dan mendalami ilmu lahir serta batin seperti al-Fakhr Syekh Abu Bakr bin Salim dan Habib Umar bin Zain bin Smith termasuk yang mengerjakan sholat sunnah ini.

وقال بجوازها كثير من علماء اليمن، وكانت تصلى بجامع زبيد كما قال الناشري، قال ولا يتركها إلا القليل انتهى. وهي محط رجال العلم وأئمة الفتوى وقد صلاها جماعة من الأئمة الورعين البارعين في علمي الظاهر والباطن كالفخر الشيخ أبي بكر بن سالم والإمام العلامة أحمد بن زين الحبشي والإمام الحبيب عمر بن زين بن سميط والحبيب العلامة أحمد بن محمد المحضار والعلامة الحبيب أحمد بن حسن العطاس والحبيب العلامة سالم بن حفيظ بن الشيخ بن أبي بكر بن سالم والحبيب العلامة عبد الله بن عبد الرحمن بن الشيخ أبي بكر بن سالم وغيرهم من علماء اليمن وحضر موت.

Artinya: "Banyak ulama Yaman membolehkannya (Sholat Kafarat di Jumat akhir Ramadhan), dan sholat ini biasa dilakukan di Masjid Jami’ Zabid, sebagaimana dikatakan oleh An-Nashri. Beliau berkata, "Hanya sedikit orang yang meninggalkannya." Masjid Jami’ Zabid merupakan tempat berkumpul para ulama dan mufti. Sholat ini pun pernah dilakukan oleh sekelompok imam yang saleh dan ahli dalam ilmu zahir (syariat) dan bathin (tasawuf), seperti: Habib Al-Fakhir Syaikh Abu Bakar bin Salim, Imam Al-Allamah Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Imam Al-Habib Umar bin Zain bin Sumiit, Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Muhammad Al-Mahdhar, Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas, Al-Habib Al-Allamah Salim bin Hafizh bin Syaikh bin Abu Bakar bin Salim, Al-Habib Al-Allamah Abdullah bin Abdul Rahman bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, dan masih banyak lagi ulama Yaman dan Hadhramaut lainnya."

Dengan demikian, perbedaan pendapat tentang sholat kafarat merupakan sebuah realitas dalam khazanah keilmuan Islam. Di satu sisi, terdapat ulama yang membolehkan sholat kafarat sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) dalam menunaikan sholat fardhu yang ditinggalkan. Di sisi lain, terdapat pula ulama yang melarangnya karena tidak ditemukan dalil yang sahih terkait sholat tersebut.

Sikap yang bisa diambil dalam menghadapi perbedaan pendapat ini adalah saling menghargai dan tidak saling memojokkan. Masing-masing pihak memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan pemahamannya terhadap nash dan ijtihad para ulama terdahulu.

Penting untuk diingat bahwa tujuan utama dalam beragama adalah mencari keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, fokuslah pada esensi ibadah sholat itu sendiri, yaitu sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan diri kepada Allah SWT.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang sholat kafarat, terdapat satu patokan penting yang perlu dipahami. Sholat kafarat tidak boleh dijadikan sebagai hujjah untuk menggantikan sholat fardhu yang ditinggalkan selama satu tahun. Kewajiban bagi orang yang meninggalkan sholat, baik disengaja maupun lupa, adalah mengqadhanya satu per satu. Hal ini merupakan pendapat yang benar dan tidak diperselisihkan oleh para ulama.

Sholat kafarat, bagi yang memilih untuk melakukannya, dimaksudkan sebagai langkah antisipasi kehati-hatian dalam menunaikan sholat fardhu selama hidup. Dengan demikian, sholat kafarat tidak dimaksudkan untuk menggugurkan kewajiban mengqadha sholat yang tertinggal.

Zainuddin Lubis, Pegiat kajian Islam


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo