Dark
Light
Dark
Light

7 Sikap Tepat saat Melihat Para Ulama Berselisih

7 Sikap Tepat saat Melihat Para Ulama Berselisih

Arina.id - Islam mengajarkan umatnya untuk bersatu, rukun, dan tolong-menolong. Problem apapun yang sedang dihadapi berpedoman kepada ajaran yang termaktub dalam Al-Qur'an yakni tawasau bil haq (berwasiat dalam kebenaran) dan tawasau  bissabr (berwasiat dalam kesabaran). 

Tentu hal ini akan mudah terwujud jika tokoh agama atau para ulama selaku pewaris para nabi (ulama) getol menyuarakan pentingnya rukun, tolong-menolong dan berpesan kebaikan.

Hanya saja timbul pertanyaan, bagaimana jika yang berselisih adalah para ulama? Bagaimana sikap kita sebagai orang awam? Abdullah bin Mubarak dalam Siyar A'lam Nubala karya Adzzahabi mengatakan:

وقال عبدُ اللهِ بنُ المبارَكِ: من استخفَّ بالعُلَماءِ ذَهَبَت آخِرَتُه، ومن استخَفَّ بالأُمَراءِ ذَهَبَت دُنياه، ومن استخَفَّ بالإخوانِ ذهَبَت مروءتُهـا .

Artinya: "Siapa yang meremehkan para ulama, maka hilanglah akhiratnya. Siapa yang meremehkan umaranya, maka hilanglah dunianya, dan siapa yang meremehkan teman, maka hilanglah kemuliaannya." 

ورُوِيَ عن أحمَدَ أنَّه قال: (لُحومُ العُلَماءِ مَسمومةٌ، من شَمَّها مَرِضَ، ومن أكَلَها مات) .

Artinya: "Diriwayatkan dari Ahmad, ia berkata: daging para ulama itu beracun, siapa yang mencium aromanya akan sakit, dan memakannya akan mati."

Memaknai riwayat ini idealnya adalah dengan cara kontekstual, yakni para ulama itu memiliki keutamaan berupa ilmu, sehingga segala tindakannya berdasarkan ilmu. Ketika terjadi perbedaan, perselisihan di antara para ulama, maka masyarakat awam sebaiknya jangan ikut terlibat dalam konflik, seperti membenci apalagi mencacinya. 

Sebab jika orang awam atau orang yang tidak tahu permasalahannya sampai ikut konflik dan tidak mampu mengendalikan emosi, maka berpotensi mengeruhkan hati seperti suudzan, hasud, adu domba, merebaknya fitnah hingga perpecahan. Makna daging beracun ini sebagai peringatan agar kita tidak sembarangan mencaci ulama.

Karena itu, menjaga keharmonisan di kalangan ulama sangat penting karena bisa memberi dampak positif pada umat dan menjadi upaya menjaga stabilitas ilmu dan kehidupan umat.

Lantas seperti apa kita yang awam ini menyikapi perselisihan para ulama? Ini 7 sikap yang harus dikedepankan saat berada dalam kondisi ini

1. Menyadari bahwa Perbedaan para ulama adalah Sunnatullah

Perbedaan pendapat adalah fitrah dalam tradisi keilmuan Islam. Namun, perbedaan itu harus ditempatkan pada kerangka ikhtilaf tanawwu’ (keragaman pendapat) yang tetap ilmiah dan beradab. 

Imam Al-Qarafi berkata:

لَوْ لَا اخْتِلَافُ الْفُقَهَاءِ لَضَاقَ النَّاسُ

Artinya: “Seandainya para fuqaha tidak berbeda pendapat, niscaya manusia akan kesulitan.” (Al-Furūq, 2/103)

2. Mendahulukan Adab sebelum Ilmu.

Perbedaan yang terus membesar biasanya bukan karena kurangnya dalil, tetapi kurangnya adab. Imam Ahmad berkata:

إنما العلمُ عندنا: الأدبُ ثم الأدبُ ثم الأدب

Artinya: “Ilmu menurut kami adalah adab, kemudian adab, kemudian adab.” (Manāqib al-Imām Aḥmad, Ibn al-Jawzī)

3. Menghindari Fanatisme Mazhab dan Tokoh

Fanatisme inilah yang sering memperuncing perbedaan sehingga berubah menjadi konflik emosional. Sikap ini menutup pintu ijtihad dan diskusi ilmiah, serta melupakan fakta bahwa para Imam mazhab sendiri tidak pernah menginginkan pengikutnya bersikap kaku. 

Menghindari fanatisme berarti menempatkan kebenaran berdasarkan dalil sebagai prioritas tertinggi di atas kesetiaan buta pada kelompok atau individu. Sikap yang benar adalah lapang dada dan terbuka terhadap keragaman pendapat (Ikhtilaf Tanawwu') yang masih dalam koridor syariat. 

4. Bersama Mencari Titik Temu (Maqāṣid)

Tujuan syariat adalah ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-‘aql, al-nafs, al-mal, al-‘irdl. Perbedaan pendapat tidak boleh menutup tujuan-tujuan besar agama. Imam Asy-Syaṭibi berkata:

الاعتبار في الخلاف بما يقصد الشرع من المصالح والمقاصد

Artinya: “Ukuran dalam perbedaan adalah kembali pada tujuan syariat dan kemaslahatan.” (Al-Muwāfaqāt, 4/233)

5. Tidak Membuka Aib Ulama di Ruang Publik

Kritik kepada ulama harus dilakukan dengan cara yang paling lembut dan tertutup, bukan untuk menjatuhkan. Rasulullah bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Artinya: "Siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

6. Menjaga Prasangka Baik

Memang sebagai masyarakat awam sangat tidak mudah untuk menuduh ulama lain sesat, berpihak, atau punya agenda. Su’uzan adalah akar perpecahan. Dalam Al-Qur'an ditegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya: "Wahai orang yang beriman, jauhilah prasangka (curiga), sebab sebagian prasangka itu berdosa." (QS. Al-Ḥujurāt: 12)

7. Berdoa agar Para Ulama Tetap Bersatu

Di sini peran penting dari sebuah doa. Sebab doa merupakan senjata ampuh untuk solusi terbaik. Berdoa agar segala permasalahan di antara para ulama berakhir dengan baik, rukun damai. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo