Arina.id - Puasa merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan kesiapan spiritual, tapi juga ketahanan fisik. Saat menunaikan ibadah puasa, seorang Muslim dituntut untuk menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang bisa membatalkan puasa. Karena pelaksanaannya dianggap cukup berat, apalagi bagi anak-anak, maka ibadah mulia ini perlu dikenalkan dan dibiasakan sejak usia dini.
Berkaitan dengan hal tersebut, para sahabat Nabi telah memberikan contoh cara melatih anak-anaknya berpuasa. Hal ini sebagaimana tergambar dalam sebuah hadits berikut:
عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ارْسَلَ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ. قالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ إِيَّاهُ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Artinya: "Dari Ar-Rubayyi‘ binti Mu‘awwidz RA., ia berkata: Rasulullah SAW pada pagi hari ‘Asyura mengutus seseorang ke perkampungan kaum Anshar untuk mengumumkan, “Barang siapa pagi ini dalam keadaan telah makan, maka hendaklah ia menahan diri hingga akhir hari. Dan barang siapa pagi ini dalam keadaan berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya.” Ia berkata: Setelah itu kami pun berpuasa dan kami juga melatih anak-anak kami berpuasa. Kami membuatkan mereka mainan dari wol. Jika salah seorang dari mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan tersebut kepadanya hingga tiba waktu berbuka." (HR Bukhari)
Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Bari (Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 2001), Juz IV, h. 236, mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa tidak diwajibkan bagi anak-anak yang belum mencapai usia baligh.
Dari hadits ini setidaknya dapat dipetik 4 teladan para sahabat Nabi dalam mendidik dan melatih anak-anak mereka berpuasa, yaitu sebagaimana berikut:
1. Membiasakan Puasa Sejak Dini
Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, meskipun anak-anak belum diwajibkan menunaikan puasa, namun hadits ini bisa dijadikan sebagai dalil disyariatkannya membiasakan anak-anak berpuasa. Untuk itu, para sahabat membiasakan dan melatih anak-anak mereka untuk belajar berpuasa sejak usia dini. Tujuannya tentu saja agar kelak mereka sudah terbiasa dan tidak terlalu berat dalam menunaikannya.
2. Menanamkan Ketaatan
Ketika perintah puasa Asyura disampaikan, para sahabat segera melaksanakannya dan mengajak anak-anak ikut berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa menanamkan ketaatan pada perintah agama menjadi hal penting yang harus disampaikan sejak usia dini. Tujuannya agar kelak mereka berpuasa atas kesadaran, bukan karena keterpaksaan.
3. Mengalihkan Perhatian
Para sahabat membuat mainan dari wol untuk menghibur anak-anaknya. Hal ini bertujuan agar ketika mereka mulai merasa lapar dan menangis, perhatian mereka dapat dialihkan dengan mainan tersebut hingga datang waktu berbuka. Upaya ini menunjukkan sebuah metode pendidikan yang lembut tanpa ada paksaan.
4. Mendampingi dan Memperhatikan Anak
Para sahabat tetap mendampingi dan memperhatikan kemampuan anak-anaknya saat mereka dilatih berpuasa. Hal ini terlihat ketika anak mulai merasa lapar dan menangis, para sahabat mendampingi dan mengalihkan perhatian mereka dengan permainan agar tetap mampu melanjutkan puasa tanpa merasa terlalu berat.
Demikian cara yang dilakukan oleh sahabat Nabi dalam melatih anak-anaknya berpuasa. Dari teladan dan cara yang dilakukan oleh para sahabat, dapat ditarik sebuah pelajaran penting bahwa dalam melatih dan meraih keberhasilan anak berpuasa membutuhkan peran, teladan, dan perhatian dari orang tua. Wallahu a’lam.
Editor: Muhammad Faizin


