Arina.id – Keutamaan puasa sunah di bulan Syawal tentu sudah cukup dikenal di kalangan umat Islam. Salah satu keistimewaan yang sering disebut adalah pahala puasa Syawal yang disebut-sebut setara dengan puasa selama satu tahun penuh. Meski demikian, tidak sedikit yang belum memahami alasan di balik keutamaan besar tersebut, mengingat puasa Syawal hanya dilakukan selama enam hari.
Lalu, apa sebenarnya yang menjadi dasar keutamaan tersebut? Berikut penjelasannya.
Anjuran untuk melaksanakan puasa sunah enam hari di bulan Syawal, yang dimulai sejak tanggal 2 Syawal, banyak dijelaskan dalam berbagai kitab hadits sahih. Salah satunya terdapat dalam riwayat Sahih Muslim:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: ”Dari Abu Ayyub Al-Anshari RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang berpuasa Ramadan, lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim, juz 5 hal. 17 hadis ke-2409)
Para ulama memberikan penjelasan terkait makna hadis tersebut. Imam Nawawi menerangkan bahwa kesetaraan pahala ini berkaitan dengan prinsip dalam Islam bahwa setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Oleh karena itu, puasa Ramadhan selama satu bulan dinilai setara dengan sepuluh bulan, sementara puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan dua bulan. Jika keduanya dijumlahkan, maka totalnya menjadi seperti berpuasa selama dua belas bulan atau satu tahun penuh.
وَإِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ، لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، فَرَمَضَانُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَالسِّتَّةُ بِشَهْرَيْنِ، وَقَدْ جَاءَ هَذَا فِي حَدِيثٍ مَرْفُوعٍ فِي كِتَابِ النَّسَائِيِّ
Artinya: ”Puasa Syawal disebut setara dengan puasa setahun penuh karena setiap amal kebaikan dalam Islam dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat pahalanya. Jadi, puasa Ramadan selama satu bulan dihitung seperti sepuluh bulan, dan enam hari puasa Syawal setara dengan dua bulan. Dengan begitu, totalnya menjadi seperti berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini juga dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dalam kitab Sunan An-Nasa’i.” (Syarah Sahih Muslim Lin Nawawi, juz 8 hal. 56)
Penjelasan ini juga sejalan dengan keterangan dalam beberapa literatur fikih, seperti dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, yang menegaskan bahwa satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipat. Dengan demikian, satu bulan puasa Ramadhan setara sepuluh bulan, dan enam hari puasa Syawal setara dengan enam puluh hari atau dua bulan. Akumulasi keduanya genap menjadi satu tahun.
يَعْنِي: أَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشَرَةِ أَمْثَالِهَا، الشَّهْرُ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَالأَيَّامُ السِّتَّةُ بِسِتِّينَ يَوْمًا، فَذَلِكَ سَنَةٌ كَامِلَةٌ
Artinya: “Setiap kebaikan dalam Islam dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Jadi, satu bulan Ramadan dihitung seperti sepuluh bulan, dan enam hari puasa Syawal dihitung seperti enam puluh hari (dua bulan). Jika dijumlahkan, maka totalnya menjadi seperti berpuasa selama satu tahun penuh.”
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa keutamaan puasa Syawal bukan hanya terletak pada jumlah harinya, melainkan pada besarnya pahala yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Jika dihitung secara sederhana:
• Puasa Ramadhan selama 30 hari × 10 = 300 hari
• Puasa Syawal selama 6 hari × 10 = 60 hari
Totalnya mencapai 360 hari, yang setara dengan satu tahun dalam kalender hijriah.
Dengan demikian, puasa enam hari di bulan Syawal menjadi amalan ringan namun bernilai sangat besar di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


