Dark
Light
Dark
Light

Slow Living di Wilayah Kedu Raya: Nyaman sih, Cuma Tidak Cocok untuk Usia Produktif

Slow Living di Wilayah Kedu Raya: Nyaman sih, Cuma Tidak Cocok untuk Usia Produktif

Arina.id— Hidup damai dengan meminimalkan ketergesaan kini semakin diminati masyarakat. Setidaknya itu tercermin dari ekspresi warganet di media sosial. Mereka yang tidak "sat-set" itu sebenarnya bukan individu-individu pemalas. Mereka hanya berusaha menyeimbangkan realitas dunia kerja, kehidupan pribadi, dan lebih memprioritaskan tujuan hidup.  

Analisis Kompas pada periode 1 Oktober hingga November 2024 menunjukkan, 77 persen warganet memandang gaya hidup melambat (slow living) ini ideal. Mereka juga mengaitkan dengan aktivitas bertani, berkebun, atau berdagang di pedesaan.

Salah satu wilayah yang menawarkan gaya hidup slow living adalah Dataran Kedu. Karisedenan di Jawa Tengah ini mencakup Kabupaten Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Magelang, dan Kota Magelang. Kawasan di sekitar sini dikenal dengan keindahan alamnya yang mempesona dan atmosfer yang jauh dari hiruk-pikuk kota-kota besar.

Dataran Kedu yang dikelilingi oleh gunung-gunung seperti Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi, menawarkan pemandangan indah serta udara sejuk yang nyaman sepanjang tahun dengan suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah di sekitarnya yang berada di dataran rendah. Kehidupan di wilayah ini memang terasa jauh lebih diidamkan dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta. 

Namun ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan pindah ke Dataran Kedu untuk memulai slow living. Anda harus benar-benar memastikan sebab akan menemukan sejumlah tantangan, misalnya terkait konektivitas dan mobilitas. 

Muhammad Daniel Fahmi Rizal, warga Kota Magelang, menyebut bahwa transportasi di kawasan Kedu Raya sangat terbatas. Tidak banyak pilihan transportasi umum yang memadai sehingga banyak orang bergantung pada kendaraan pribadi. 

Kondisi ini menimbulkan kemacetan meskipun tidak begitu intens sebagaimana di kota-kota besar, tetapi tetap mengganggu kenyamanan. Selain itu, akses menuju ke kota besar seperti Yogyakarta atau Jakarta juga cukup memakan waktu, yang dapat menghambat mobilitas bagi mereka yang memerlukan koneksi untuk pekerjaan atau bisnis.

"Angkutan mulai sedikit, tidak ada alternatif transportasi umum yang memadai akhirnya banyak orang menggunakan kendaraan pribadi sementara volume jalan tidak seluas Semarang atau Yogyakarta. Tetap saja macet pada jam-jam tertentu tapi tidak chaos seperti Jakarta. Bagi aku yang pernah tinggal di Jakarta sama saja soal macet hanya saja atmosfer macetnya tetap berbeda," kata dia kepada Arina.id, Kamis (12/12/2024).

Dari sisi fasilitas, Daniel yang kini mengajar di salah satu universitas di Magelang ini mengatakan, meskipun Dataran Kedu dekat dengan Yogyakarta, fasilitas yang tersedia di sini sangat terbatas. Toko-toko tutup lebih awal dan tidak ada pusat perbelanjaan yang representatif seperti di kota-kota besar. Bahkan untuk hal-hal sederhana seperti membeli koran atau mencari barang kebutuhan bisa menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, harga tanah di Magelang pun terus meroket, menjadikannya tidak terlalu ramah kantong dibandingkan dengan daerah lain.

Dalam hal produktivitas, Daniel juga mengungkapkan bahwa bekerja di kawasan pedesaan yang tenang bisa membuat seseorang merasa terhambat. Dataran Kedu memang memberikan lingkungan yang ideal untuk slow living namun pola hidup yang lebih santai ini kadang-kadang berkonflik dengan kebutuhan produktivitas, terutama bagi mereka yang bekerja di industri kreatif atau yang memiliki jejaring kerja di kota besar. 

"Kita (usia produktif) masih butuh mobile ke kota-kota lain ataupun kota besar untuk melakukan pekerjaan ketemu klien dan sebagainya. Sementara klien ada di kota besar. Saya mesti ke Jakarta kalau enggak lewat Yogyakarta harus ke Purworejo dulu, jadi untuk produktivitas yang interconection kayak susah harus ada effort lebih," ujarnya.

"Sementara kalau tinggal di daerah pegunungan, iklim kerjanya tentu mengikuti iklim kerja orang-orang yang hidupnya slow living. Kadang kaget ketika biasa kerja dengan rutinitas yang kenceng ternyata di sini cukup pelan sehingga mempengaruhi ke pola kerja juga," imbuhnya.

Muhammad Daniel Fahmi Rizal (Aset:Ist)

Daniel mengatakan kota-kota di kawasan Kedu cenderung memiliki atmosfer yang lambat, jika  tidak pintar-pintar memutar otak untuk tetap produktif bisa terbawa arus. Daniel sendiri aktif di industri kreatif komik, sementara di Kedu tidak ada komunitas komik. Beberapa orang sempat mengajaknya untuk membentuk komunitas komik di Magelang, namun kondisinya tetap berbeda dengan Yogyakarta atau Jakarta, di mana iklim kreatif turut mendukung.

"Di usia produktif, saya merasa kehilangan jejaring dengan orang-orang kreatif sementara itu untuk memperkuat jejaring tersebut, saya harus bepergian ke luar kota menggunakan mobil atau kereta," kata dia.

Orang-orang yang ingin menjalani gaya hidup slow living mungkin melakukannya sebagai bentuk impulsif setelah lelah dengan kehidupan kota besar. Namun, hidup di pedesaan juga membawa tantangan terutama dengan kultur masyarakat desa yang kadang tidak sesuai dengan gaya hidup produktif, khususnya bagi mereka yang masih berada pada usia produktif.

"Saya karena terbiasa hidup di Jakarta dengan pola hidup produktif kemudian tinggal di Karesidenan Kedu terdapat tuntutan sosial yang berbeda. Orang desa memiliki lebih banyak waktu luang sehingga ada tuntutan sosial untuk terlibat dalam kumpulan warga desa, itu menjadi PR sendiri," ungkap Daniel yang  sudah dua tahun tinggal di Magelang karena diterima sebagai dosen ASN.

Daniel menyarankan sebelum memilih hidup slow living, perlu mikir dua kali. Di usia muda, jika memilih tinggal di desa pastikan bahwa potensi yang sudah ada tidak terhambat. Kunci untuk menjalani hidup slow living tanpa kehilangan produktivitas adalah menjaga koneksi dan terus berhubungan dengan orang-orang yang dapat membantu memperkuat jejaring serta mendukung karier.

"Kalau ingin hidup slow living harus mikir juga pertaruhannya apa. Apakah di usia muda masih bisa memproduksi sesuatu atau hanya karena balas dendam capek di kota besar lalu kita hanya ingin tinggal di desa tapi potensi kita enggak keluar semua itu jadinya mubadzir waktu hidupnya," tandasnya.

Slow Living sebagai Jalan Kedamaian

Sosiolog dari Universitas Padjadjaran, Hery Wibowo dalam artikel yang terbit di Kompas.com mengungkapkan bahwa gaya hidup slow living semakin relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Berdasarkan artikel jurnal ilmiah berjudul Slow Living and the Green Economy karya Ioncica dan Petrescu (2016), konsep slow living mengacu pada upaya untuk menstrukturkan kembali kehidupan, terutama dalam pemaknaan dan pemenuhan hidup. 

Hal ini serupa dengan konsep voluntary simplicity (kesederhanaan sukarela) dan downshifting (perpindahan menuju kehidupan yang lebih sederhana), yang menekankan pendekatan less is more (lebih sedikit, lebih banyak). Fokus utamanya adalah pada kualitas hidup manusia, bukan sekadar kuantitas atau pencapaian materi.

Ketika era kompetisi fast living melanda, di mana banyak orang terjebak dalam perlombaan untuk terlihat sukses dan kaya, gaya hidup slow living menawarkan perspektif yang berbeda. Flexing atau budaya pamer, yang kerap terlihat di media sosial, telah menjadi tradisi. Banyak orang, terutama di kalangan milenial dan Gen Z, memamerkan harta, pencapaian, atau momen-momen tertentu untuk meningkatkan status sosial mereka.

Menurut Hery, hampir 30-40 persen unggahan di media sosial bertujuan untuk menunjukkan apa yang dimiliki atau dicapai, seperti makan di tempat mewah, berfoto dengan tokoh terkenal, atau membeli barang-barang mahal. Padahal, keinginan untuk terlihat sukses atau memiliki status sosial tinggi sering kali menyebabkan stres dan tekanan yang berkepanjangan.

"Gaya hidup slow living memberikan solusi untuk masalah ini. Alih-alih tergesa-gesa mengejar pengakuan, slow living mengajak kita untuk menikmati proses hidup, tanpa harus terburu-buru mencapai kesuksesan," tulisnya.

Tidak perlu merasa tertekan untuk segera disebut kaya atau sukses, melainkan nikmati kesederhanaan dan perjalanan hidup dengan penuh rasa syukur. Slow living mengajarkan bahwa pelan bukan berarti kalah. Justru, proses yang lebih lambat memberikan kesempatan untuk refleksi dan perbaikan diri di setiap langkahnya.

Gaya hidup ini tidak berarti tanpa ambisi, tetapi berupaya meraihnya dengan hati-hati dan penuh kesabaran.
"Melalui slow living, kita bisa menemukan kebahagiaan yang sejati, bukan dari pujian orang lain, tetapi dari rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Dengan mengutamakan kualitas hidup daripada kompetisi untuk mendapatkan pengakuan, slow living menjadi jalan untuk menemukan kedamaian batin di tengah kehidupan yang serba cepat," jelasnya.
 


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Tren Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo