Dark
Light
Dark
Light

9 Prinsip Hidup Minimalis yang Bikin Bahagia Seutuhnya

9 Prinsip Hidup Minimalis yang Bikin Bahagia Seutuhnya

Jakarta, Arina.id — Di tengah arus konsumsi yang terus meningkat dan gaya hidup yang semakin menuntut kepemilikan akan banyak hal, konsep hidup minimalis menawarkan alternatif yang menyegarkan. Hidup minimalis bukan berarti hidup serba kekurangan atau membatasi diri secara berlebihan, melainkan tentang kesadaran dalam memilah mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya menjadi beban.

Melalui prinsip-prinsip sederhana namun mendalam, hidup minimalis mengajarkan kita untuk lebih bijak terhadap barang, lebih tenang dalam menjalani keseharian, dan lebih merdeka dari tekanan sosial yang dibentuk oleh tren dan gengsi.

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz mengingatkan prinsip-prinsip gaya hidup minumalis yang akan mengantar seseorang meraih kebahagiaan.

Berikut 9 prinsip tersebut dikutip dari rekaman ceramahnya di akun Suara Filsuf

1. Pahami Fungsi Barang
Prinsip yang pertama untuk menerapkan hidup minimalis, kita harus mengenali fungsi dari setiap barang yang kita miliki. Jadi, ketika kita tahu fungsinya, kita akan paham nilainya.

Banyak orang ketika memiliki sesuatu, yang dilihat bukan fungsinya—tapi mungkin gayanya, trennya, atau hal lain yang sifatnya visual dan sesaat. Bagi seorang minimalis, yang pertama kali dilihat adalah fungsi.

"Contohnya HP ini. Saya kasih casing supaya mereknya tidak kelihatan. Teman-teman mungkin bisa menebak ini HP apa. Ya, jelas HP murah. Tapi saya tidak melihat dari merek, gaya, atau tren. Yang penting, bisa digunakan untuk WhatsApp, komunikasi berjalan lancar—itu fungsinya," terang Faiz.

"Ada tidak di sini yang tiap tahun ganti HP? Misalnya merasa ketinggalan zaman karena sudah ada S22, sementara masih pakai S21. Kalau begitu, mungkin perlu belajar hidup minimalis," tegasnya.

2. Hindari Mengaitkan Diri dengan Barang
Faiz menekankan jangan menilai diri atau orang lain dari barang yang dimiliki. Kita bukan barang yang kita pakai.

Misalnya, jangan menilai orang dari HP-nya yang terbaru, bajunya yang branded, atau motornya yang mahal. Banyak tokoh besar yang gaya hidupnya sangat sederhana.

3. Sedikit Barang, Sedikit Stres
Memiliki sedikit barang membuat kita lebih merdeka. Semakin banyak barang, semakin banyak pula yang harus dipikirkan.

Misalnya, motor lama diparkir di depan kamar kos tanpa dikunci pun tenang saja, tidak khawatir. Tapi kalau motornya baru, pikiran jadi kemana-mana. Kalau tergores atau tersenggol, langsung stres. Barang lama tidak begitu mengganggu pikiran. Tapi ingat, ini jangan dianalogikan ke pasangan ya—tidak berarti harus cari yang biasa-biasa saja supaya tidak khawatir! Ini konteksnya barang, bukan hubungan.

4. Jeli Menentukan Kebutuhan
Faiz mencontohkan seseorang mempunyai motor atau mobil bukan soal boleh atau tidak, tapi soal kebutuhan.

"Misalnya, jarak kos ke kampus cuma 100 meter, apa perlu motor? Sekarang banyak pilihan transportasi umum: Trans Jogja, ojek online, dan lainnya. Jadi pikirkan fungsinya, bukan gengsi atau tren," terang dia.

5. Lepaskan Keterikatan dengan Barang
Prinsip ini, dalam kata lain, kita boleh punya barang, tapi jangan terikat dengannya.

Kalau punya motor dan tersenggol sedikit saja rasanya dunia runtuh, berarti kamu terlalu terikat. Kalau berpikir sederhana, motor tergores ya tinggal dibawa ke bengkel. Selesai.

"Jangan overthinking. Kalau kuliah tidak lulus, ya diulang. Jangan stres terlalu lama. Sudah salah bicara? Ya minta maaf. Selesai," ungkapnya.

"Kita sering membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit karena terlalu terikat. Lepaskan keterikatan, agar tidak mudah baper untuk hal-hal yang sepele," lanjut Faiz.

6. Jadilah Penjaga Pintu yang Baik
Menjadi penjaga pintu yang baik maksudnya adalah kita harus selektif terhadap barang yang masuk dan keluar dari hidup kita.

"Penting tidak beli barang ini? Meskipun flash sale, meskipun cuma seribu, tanyakan: "Aku benar-benar butuh ini atau tidak?" Jangan asal beli hanya karena murah. Kadang beli kaos 6 biji seratus ribu, tapi begitu datang kualitasnya memalukan. Dipakai pun enggan. Jadi berpikirlah panjang sebelum membeli," lagi-lagi Faiz memberikan contoh.

7. Nikmati Ruang
Menikmati ruang adalah seseoang bisa bahagia jika bisa menikmati kekosongan dan ketiadaan. Namun jika semua ruang terisi, kita justru akan sulit bahagia.

Faiz membeberkan sebuah cerita tentang seorang tetangga mengadu ke Nasrudin karena hidupnya terasa sempit dan stres. Nasrudin menyuruhnya membeli ayam dan memeliharanya di dalam rumah. Setelah itu kambing, lalu sapi.

Semakin banyak hewan, semakin sumpek. Lalu Nasrudin menyuruhnya satu per satu menjual hewan-hewan itu. Begitu semua keluar, barulah rumahnya terasa lega. Dia belajar bahwa ketenangan datang dari "ruang kosong", bukan dari penambahan.

"Banyak dari kita merasa rumah belum lengkap karena belum ada ini-itu. Padahal, kebahagiaan bisa datang dari kekosongan. Tidak punya justru membuat kita lebih ringan, bebas, dan merdeka," kata Faiz.

8. Menyukai Tidak Harus Memiliki
Ungkapan ini sering terdengar di masyarakat. Kita terbiasa ingin memiliki segala sesuatu yang kita sukai, padahal cukup dengan menyukai saja.

Contohnya: senang es krim, bukan berarti harus beli mesin pembuat es krim. Senang ayam crispy, bukan berarti harus punya alat masak khusus. Sebab sering kali kita beli alat, tapi akhirnya tidak digunakan. Barang menumpuk dan tidak berfungsi maksimal.

Hal ini juga bisa berlaku dalam sebiah hubungan. Prinsipnya universal: menyukai tidak selalu berarti harus memiliki.

9. Bahagia dengan Cukup

Hidup itu harus "pas", tidak lebih, tidak kurang. Kalau lebih, kita terbebani. Kalau kurang, ada yang tidak terpenuhi.

Faiz mengajak pendengarnya untuk meatih diri untuk bahagia dengan "cukup", dengan tolok ukur fungsi, bukan tren atau gengsi.

"Kalau HP jadul sudah cukup untuk kebutuhan hari ini, ya sudah. Tidak harus ganti baru. Kecuali memang kebutuhanmu menuntut, misalnya mahasiswa teknik informatika yang butuh laptop lebih mumpuni. Jadi ukurannya tetap fungsi," tegasnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo