Jakarta, Arina.id—Memasuki pekan kedua bulan Agustus 2025, cuaca di Indonesia menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Di tengah musim kemarau, sebagian wilayah justru mengalami peningkatan curah hujan yang signifikan, sementara titik panas (hotspot) akibat potensi kebakaran hutan dan lahan masih terdeteksi di beberapa daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kombinasi faktor atmosfer global dan regional, mulai dari aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) hingga sirkulasi siklonik, menjadi pemicu terjadinya cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada kehidupan masyarakat, sektor pertanian, transportasi, dan keselamatan publik.
Dalam unggahan media sosial Instagram infobmkg diakses Sabtu (9/8/2025), disebutkan hotspot masih terdeteksi di beberapa wilayah Indonesia berdasarkan Peta Sebaran Hotspot BMKG per 6 Agustus 2025, yaitu 13 titik di Kalimantan dan 3 titik di Sulawesi.
Sementara itu, peningkatan curah hujan terpantau secara signifikan di sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua. BMKG mencatat cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, seperti Amahai, Bogor, Jambi, Riau, Papua Barat, dan Kepulauan Riau.
Kejadian tersebut dipengaruhi fakto-faktor
(i) Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial
(ii) Gelombang Kelvin, Mixed Rossby-Gravity, dan Low-Frequency yang mendukung pembentukan awan hujan dan aktivitas konvektif.
(iii) Keberadaan sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Indonesia memperkuat proses konveksi dan mendukung pertumbuhan awan hujan secara signifikan
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
(i) Nilai Dipole Mode negatif (-0,6) berkontribusi meningkatkan uap air di wilayah Samudra Hindia barat Sumatera
(ii) Fenomena MJO secara spasial diprakirakan aktif dan memengaruhi peningkatan potensi pembentukan awan hujan, khususnya di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah
(iii) Kombinasi gelombang Kelvin dan Ekuatorial Rossby, yang terpantau aktif di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, berkontribusi meningkatkan pertumbuhan awan hujan
(iv) Sirkulasi siklonik teridentifikasi di Samudra Hindia barat Bengkulu dan pesisir barat Kalimantan Barat, membentuk area perlambatan angin (zona konvergensi) yang mendukung pembentukan awan hujan.
BMKG menyebut kondisi atmosfer yang masih aktif dan kompleks ini berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, dan gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.
Prakiraan Cuaca 8–10 Agustus 2025
Cuaca di Indonesia didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan sedang hingga sangat lebat dan angin kencang masih berpotensi terjadi dengan tingkat peringatan dini sebagai berikut:
Waspada (Peningkatan hujan intensitas sedang)
Berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Siaga (Hujan lebat):
Maluku Utara dan Maluku.
Angin kencang:
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTT, Maluku, dan Papua Selatan.
Periode 11–14 Agustus 2025
Cuaca di Indonesia masih didominasi berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan sedang hingga sangat lebat dan angin kencang tetap berpotensi terjadi dengan tingkat peringatan dini sebagai berikut:
Waspada (Peningkatan hujan intensitas sedang):
Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua.
Siaga (Hujan lebat):
Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Maluku, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Angin kencang:
Sulawesi Selatan, Sulawesi, NTT, NTB, dan Papua Selatan.
Imbauan BMKG
Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk:
- Siaga terhadap hujan lebat yang disertai angin kencang dan/atau petir
- Menjauhi wilayah terbuka, serta menghindari pohon, bangunan, dan infrastruktur yang rapuh saat terjadi hujan disertai petir atau angin kencang
- Menggunakan masker dan menghindari area dekat hotspot untuk mencegah dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan
- Menjaga kestabilan cairan tubuh dan menggunakan tabir surya agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya
- Waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor
- Memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG (www.bmkg.go.id), media sosial @infobmkg, atau aplikasi InfoBMKG.
Keterangan Istilah
Mixed Rossby Gravity Waves (MRG): Gelombang ekuator gabungan dari Rossby Ekuatorial dan Gravitasi Inersia yang merambat ke arah barat dan mampu meningkatkan pembentukan sirkulasi angin di wilayah yang dilalui.
Madden-Julian Oscillation (MJO): Gelombang raksasa yang membawa perubahan cuaca secara perlahan dari barat ke timur di sekitar khatulistiwa, khususnya di wilayah tropis, dengan membawa banyak uap air dan memicu pembentukan awan hujan ekstrem.
Gelombang Rossby Ekuatorial: Gelombang ekuator yang merambat simetris terhadap ekuator ke arah barat, berpotensi meningkatkan gangguan tropis dan hujan berdurasi lama.
Gelombang Kelvin: Gelombang ekuator dengan kecepatan rambat tinggi ke arah timur, memicu hujan dalam periode singkat.
Gelombang Low Frequency: Gelombang ekuator berperiode panjang yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan serta memengaruhi pola cuaca dan iklim dalam jangka waktu lama.
Editor:


