Jakarta, Arina.id — Soekarno, Presiden pertama Indonesia pernah berujar: Jas Merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Kalimat itu masih hidup hingga saat ini. Setiap peringatan hari-hari besar dan momentum yang bersinggungan dengan sejarah, orang-orang mengucapkannya. Kini, kalimat itu boleh dipakai lagi untuk menanggapi pernyataan Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Indonesia yang menyinggung soal tragedi pemerkosaan Mei 98.
Menteri itu mengungkapkan pernyataan yang menyebut peristiwa pemerkosaan massal pada 1998 sebatas rumor. “Pemerkosaan massal kata siapa itu? Nggak pernah ada prof-nya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan, ada enggak di dalam buku sejarah?” Informasi ini bisa ditelusuri di Tempo (14/6/2025).
Ungkapan itu melahirkan banyak protes, kecaman, dan kekecewaan. Menolak lupa tragedi pemerkosaan Mei 98 adalah upaya pertobatan negara, selain untuk menjadi pembelajaran agar tidak terjadi kembali tragedi serupa. Upaya meniadakan, penyangkalan, dan pengaburan sejarah adalah tindakan paling tidak etis dan tidak manusiawi, apalagi dikeluarkan dari sosok dengan jabatan yang tinggi.
Data mengenai pemerkosaan 98 banyak ditemukan dalam berbagai literatur, salah satunya di Jurnal Perempuan dalam tulisan bertajuk Pola Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia (1999). Ruth Indiah Rahayu, selaku penulis, membabarkan bagaimana nasib perempuan dalam sejarah Nusantara. Data itu memuat rentang waktu sejak masa kerajaan hingga orde baru. Kekerasan yang dialami oleh perempuan Indonesia terjadi seperti estafet yang tiada putus.
Kekerasan berbasis gender dalam pengalaman sejarah terangkum dalam beberapa periode: Masa kerajaan dan kolonialisme, masa pendudukan militer Jepang, masa perang kemerdekaan, masa pasca-perang kemerdekaan, isu PKI, isu separatis islam (Tanjung Priok dan Lampung tahun 1989), pembentukan daerah opsi militer, kerusuhan Mei 1998, pelaksanaan program keluarga berencana, konflik tanah: kasus Jenggawah, hubungan industri kasus Marsinah, dan KBG di tingkat masyarakat.
Kerusuhan Mei 1998 pernah meledak di kota-kota besar seperti Medan, Palembang, Jakarta, Solo, dan Surabaya. Kejadian diawali dengan penculikan sejumlah aktivis, penembakan mahasiswa, penjarahan dan disertai pembakaran. Dalam peristiwa itu juga terjadi penyerangan, penghilangan orang, dan kekerasan seksual. Kekerasan seksual merujuk pada tragedi pemerkosaan.
Para korban kekerasan seksual banyak ditemukan spesifik pada perempuan etnik Tionghoa. Penyerangan seksual dilakukan pelaku di dalam rumah dan di kerumunan massa. Kekerasan ini bahkan terus berlangsung setelah peristiwa Mei yang dilakukan lebih dari dua orang (gang rape).
Selain lewat tulisan, ironi pemerkosaan 98 juga ditampilkan melalui sinema bertajuk 27 Steps of May. Ravi Bharwani, sang sutradara, menampilkan dampak kejahatan pemerkosaan secara lebih personal. Akibat yang ditimbulkan secara psikologis ditampilkan dengan begitu detail lewat tokoh May dan Ayahnya.
27 Steps of May menggambarkan perjuangan Mey, penyintas kekerasan seksual, dan ayahnya menjalani hidup setelah tragedi pemerkosaan yang terjadi delapan tahun yang lalu. May tidak pernah bicara dan melakukan aktivitas layaknya perempuan seusianya. Ia seperti merasakan kematian yang datanya lebih dahulu.
Tanpa semangat, tanpa tujuan hidup, tanpa keinginan, tanpa ambisi, tanpa harapan, dan tanpa kebahagiaan. Sepanjang harinya adalah pertarungan melawan ingatan buruk yang sewaktu-waktu bisa muncul, menghancurkan hidupnya.
Film ini minim dialog. Penonton lebih banyak disuguhi ekspresi dan aktivitas fisik yang bisa memancing emosi. 27 Steps of May tidak menyentuh sisi politik secara langsung. Meskipun penggambaran terlihat sangat personal, namun nama “May” yang dipilih oleh tim produksi sudah cukup menjadi pesan tersirat untuk terus mengingat pemerkosaan yang terjadi pada Mei 1998.
Sejarah dan Pengaburan
Saya teringat sebuah film yang turut menyinggung persoalan sejarah dan konflik rasial. Film itu bertajuk Freedom Writers (Richard LaGravenese, 2007). Sinema ini mengisahkan perjuangan seorang guru muda, Erin Gruwell (diperankan oleh Hilary Swank) dalam menghadapi ketegangan rasial dan kekerasan geng di Long Beach, California.
Saat mulai mengajar di Woodrow Wilson High School, Erin menemukan bahwa murid-muridnya berasal dari latar belakang yang penuh konflik dan diskriminasi. Baground itu membuat para murid bersikap sangat rasis, menaruh curiga, dan nir empati dengan orang lain yang bukan kelompoknya.
Erin melakukan pendekatan persuasif lewat permainan, kunjungan, dan buku bacaan. Hal paling menarik adalah ketika Erin turut melibatkan sejarah. Erin menjelaskan dan mengajak mereka tour museum untuk mempelajari tragedi Holocaust, genosida yang dilakukan Nazi terhadap hampir enam juta orang yahudi Eropa.
Inisiatif Erin muncul karena ternyata pengetahuan para murid atas kejadian genosida holocaust tidak ada. Mereka tidak memahami bahwa tindakan ekstrim, kebencian, kekerasan, dan memelihara prasangka buruk di luar dari lingkungannya bisa menjadi pemicu pembunuhan massal yang turut melibatkan anak-anak.
Pendekatan sejarah itu ternyata berhasil. Perlahan para murid memahami dampak dari kebencian yang terus dipupuk. Mereka enggan sejarah terulang kembali. Sejarah kelam genosida yang dilakukan pada jutaan orang membuat mereka memahami pentingnya bersikap saling menghargai, toleransi, dan menyayangi satu sama lain.
Kembali ke pernyataan Fadli Zon, mengaburkan sejarah pemerkosaan Mei 98 tidak akan memberikan kebaikan bagi bangsa dan negara. Ingatan itu mesti diperjelas bahkan ditelusuri lebih dalam untuk mengetahui akar masalah yang terjadi. Dengan begitu, generasi selanjutnya akan memetik pelajaran dari kejadian pemerkosaan massal 98.
Mengapa berambisi hanya memperlihatkan hal yang baik-baik saja tentang Indonesia, alih-alih mengakui segala retakan, pahit, dan duka yang mengiringi perjalanan sang republik? Bukankah kedewasaan selalu datang ketika berhasil menerima dan merangkul semua hal yang terjadi dalam hidup? Begitu pun dengan sejarah.
Tidak ada tone positif dari kejahatan pemerkosaan, apalagi dilakukan secara massal dan tersistem. Jadi terimalah, karena itu sebuah sejarah yang berharga dan pembelajaran yang amat mahal.
Editor:


