Pesantren: Kemandirian dalam Membangun Peradaban

Pesantren: Kemandirian dalam Membangun Peradaban

Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Satu-satunya lembaga pendidikan yang strategis untuk mencetak kader yang berkualitas yaitu kiai atau ulama yang intelektual. Artinya bahwa alumni dari pesantren mampu bersaing di dunia global dan senantiasa mampu berkiprah di segala lini kehidupan dengan tetap tawadhu’ dan tertanam jiwa santri yang tidak lepas dari diri dan kepribadiannya dalam sebuah karakter yang mulia. Jiwa santri senantiasa ada pada setiap tanggung jawab mulia yang diembannya, sehingga apapun profesinya, dia tetap selalu mengatakan dengan bangga bahwa dirinya adalah santri.

Santri sendiri kerap diartikan dengan istrilah sun three yaitu tiga pancaran sinar matahari. Tersirat bahwa santri memiliki tiga pancaran yakni Iman, Islam dan Ihsan. Apapun profesi seorang santri, ia selalu mengedepankan etika dalam membangun peradaban. Kiai yang intelektual adalah seorang santri ketika berkiprah di luar ia selalu memiliki karakteristik kekiaian yang dicetak dari pesantren, namun dia tidak selalu besar diri dan sombong dengan kebesarannya. Hal ini karena tiga pancaran tersebut senantiasa melekat pada benaknya, sehingga ia menjadi kiai yang kontemporer, ilmiah sesuai kiprah yang dilakukannya sebagai wujud intelektual yang berjiwa kiai.

Jiwa kemandirian santri telah tertanam sejak disemai di pesantren, ikhlas, berdikari, ukhuwah islamiyah dan bebas. Ikhlas tanpa pamrih dalam melakukan segala kegiatan yang bermanfaat, berdikari tanpa ketergantungan pada pihak lain saat ingin maju, ukhuwah Islamiyah senantiasa terjaga sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan baik dalam kontek jama’ah amupun jam’iyah, serta bebas dalam arti memiliki potensi yang dapat membawa peradaban, yaitu selalu berkarya sesuai profesinya namun tetap selalu memiliki jiwa santri yang melekat pada dirinya sebagai pakem dan kontrol diri agar tidak ekstrem dan radikal.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, maka santri harus juga terpacu untuk mandiri dalam membangun peradaban. Mandiri dalam arti mampu men-filter segala hal yang mengancam nilai-nilai kemandiriannya sebagai santri, dan mampu pula menyikapi segala tantangan zaman yang dihadapinya dalam setiap pearadaban yang senantiasa berkembang.

Pada saat ini pesantren memiliki potensi besar untuk dapat ikut andil dalam perkembangan modern, sehingga pesantren mandiri artinya pesantren berkiprah tidak hanya dalam wilayah belajar mengaji al-Qur’an, hadits Nabi dan kajian kitab saja, melainkan pesantren juga memiliki potensi untuk menjadi wadah bertumbuh dan berkembangnya ekonomi umat.

Pesantren diyakini telah mampu ikut serta dalam peradaban umat manusia dari abad ke abad lamannya. Dengan segala tantangan dan rintangannya, pesantren telah mampu mencetak kader yang amat gemilang dan berjiwa mandiri.

Perkembangan teknologi telah menjadi media bagi pesantren untuk berdakwah dan tafaqquh fi al-din yang tiada batas. Selama membawa kemaslahatan bagi umat, pesantren telah mampu membuktikan kemandiriannya dan selalu eksis dan dinamis dalam peradaban manusia. Keseimbangan antara kebutuhan duaniawi dan ukhrawi menjadi sebuah inspirasi pesantren untuk dapat mewujudkan kemandirian, sehingga pesantren bangkit untuk tetap menjada kearifan lokal di pesantren.

Pesantren berpikir untuk kemajuan ekonomi umat melalui potensi yang dimiliki. Setiap pesantren akan dapat menghantarkan jiwa-jiwa santri yang mandiri. Misi ini tentu sangat relevan dengan suatu kaidah popular, yaitu al-muhâfadzatu ‘alâ qadīmi al-shâlih, wa al-akhdu bi al-jadīdi al-ashlah, mempertahankan tradisi mengaji kitab, namun juga ikut serta membangun negeri.

Modernisasi pesantren saat ini cukup membanggakan dalam hal memajukan pesantren. Pada masa lalu pesantren hanyalah pendidikan tradisional dengan kajian kitab kuning, sebagai sarana tafaqquh fi al-dīn. Namun pada saat ini pola pesantren begitu maju dan moderat dalam segala faktor. Kemajuan teknologi juga ikut serta mengiringi langkah-langkah modernisasi pesantren untuk dapat bergerak dalam segala sektor. 

Dengan cemerlangnya pendidikan pesantren ini diharapkan pesantren mampu membangun negeri ini dengan segala upayanya. Hingga ditetapkannya hari santri yang dapat diperingati sebagai hari nasional yaitu pada tanggal 22 Oktober 2023, “Jihad Santri Jayakan Negeri”.

Prof. Wan Jamaluddin, Rektor UIN Raden Intan Lampung


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo