Pada masa 1930-an, Soetan Sjahrir tak selalu memikirkan politik, filsafat, ekonomi, atau sastra. Ia memang tampil sebagai intelektual kuat dan bermutu tapi hari-hari dialami tak mewajibkan berpikir hal-hal berat. Soetan Sjahrir dipastikan berpikir tentang Indonesia.
Ia telah beredar di Eropa dengan segala ide dan gerakan. Di sana, ia turut membesarkan Perhimpunan Indonesia. Pulang ke Indonesia, peran makin besar dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Ia ditakdirkan memuliakan Indonesia meski sempat menanggung nelangsa dan tragedi.
Pada 18 September 1934, Soetan Sjahrir jeda dari tema-tema besar. Ia serius memikirkan makan(an). Renungan dalam penjara. Ia mendapat hukuman gara-gara-gara politik tapi memikirkan makan(an) di penjara bukan dosa atau salah. Soetan Sjahrir tetap ingin hidup. Makan itu penting.
Di buku berjudul Renungan Indonesia (1947), Soetan Sjahrir mengisahkan diri dalam penjara: “Aku tidak mendapatkan makanan lagi dari rumah. Dan, makanan di piring seng jang aku dapat di sini tidak seenak jang disuguhkan orang dihotel-hotel kelas satu. Tapi, kalau kita sudah biasa, pula makan biasa, haruslah kita mengakui makanan ini mengandung zat-zat jang banjak.”
Pemikir berat itu sempat mengurusi perbedaan makanan di rumah, penjara, dan hotel. Ia mempertimbangkan mutu makanan. Di renungan, ia cuma menulis “piring seng”, tak ada sendok. Di rumah dan hotel, Soetan Sjahrir dalam pengaruh peradaban Barat tentu saat makan menggunakan piring, sendok, garpu, dan pisau. Tata krama dalam makan selera Barat pasti dimengerti dan diamalkan. Di penjara, tata cara dan alat untuk makan tak selengkap di rumah atau hotel.
Sosok itu sadar teknologi, kesehatan, dan industri pangan. Pengenalan piring dan sendok terjadi sejak kecil. Pengetahuan dan pengalaman bertambah saat ia berkelana di Eropa. Peralatan untuk makan menandai derajat sosial, identitas, dan ideologi. Di atas meja makan, tampak benda-benda membuktikan peradaban makan Eropa. Pemandangan itu berpindah ke negara-negara jajahan tanpa maksud mengajarkan tata cara modern bagi kaum terjajah. Soetan Sjahrir tampil sebagai terpelajar dan “memuja” Barat. Ia memastikan memiliki kesadaran makan mengikuti selera modern atau Barat.
Selama berada di penjara, Soetan Sjahrir memiliki keinginan mengalami nasib sama dengan “rakjat”. Pengakuan saat terbiasa menikmati makanan khas penjara disajikan dalam piring seng: “Malahan aku merasa puas djuga karena sudah bisa pula hidup sederhana dan sekedarnja seperti bangsaku jang terpaksa hidup demikian.”
Ia sempat merasakan sebagai orang hukuman dan menikmati makanan sederhana. Kita tak membantah bila ia tetap fasih dalam menggunakan sendok, garpu, dan pisau bila makan di restoran atau menghadiri perjamuan makan. Di tangan, sendok ikut membentuk biografi meski ia berpena.
Soetan Sjahrir hidup dalam abad kemajuan. Sejak awal abad XX, tatanan hidup di tanah jajahan berubah dengan ide-ide dan benda-benda sering berdatangan dari Barat. Masa lalu turut membentuk tata krama dan sikap Soetan Sjahrir dalam makan. Perubahan-perubahan terlah terjadi sejak ratusan tahun silam.
Di buku berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (1992), Anthony Reid menerangkan tentang kebiasaan makan dan benda-benda (peralatan). Ia melacak beragam sumber untuk mengetahui babak-babak perubahan di Nusantara. Lacakan sejarah menghasilkan keterangan mengenai kehidupan orang-orang di Asia Tenggara: “Mereka makan di lantai dengan menggunakan daun pisang atau piring kayu. Tangan dan mulut dicuci dengan air sebelum dan sesudah makan. Tangan kanan digunakan untuk makan.” Sendok tak digunakan. Mereka memiliki siasat mengepal nasi dalam ukuran besar untuk disantap.
Reid masih melanjutkan tentang penggunaan perabotan di rumah-rumah. Pelbagai benda masuk rumah dengan penamaan merujuk bahasa-bahasa Cina dan Portugis. Penjelasan berlatar abad XVI. Kita simak: “Sendok garpu tidak dianggap perlu dan daun pisang biasanya berfungsi sebagai piring. Peralatan utama yang diperlukan di rumah biasa ialah periuk dari tanah liat, tempat tampung dari bambu dan keramik, tempat sirih dari kuningan, teko, dan baki.”
Pada abad XX di Nusantara, perubahan besar terjadi diwujudkan dengan kehadiran dan penggunaan benda-benda modern. Sendok perlahan lazim di tangan kaum bumiputra. Kehadiran sendok itu berkaitan perdagangan, kekuasaan, dan iman. Di kalangan beriman, sendok kadang dicap sebagai benda dalam kebiasaan hidup kafir. Debat mengenai sendok tak abadi.
Kini, sendok itu benda biasa tanpa perlu diributkan meski kita tergoda memikirkan (lagi) gara-gara Prabowo Subianto mengucap masalah sendok, makanan bergizi gratis, dan keracunan. Sendok pantas diperdebatkan bersama kebiasaan makan langsung dengan jari-jari tangan.
Kita enggan berdebat ruwet memilih membaca puisi saja. Puisi mengandung sendok. Puisi terbaca setelah sempat menilik sejarah. Di keluarga-keluarga Indonesia, pengasuhan anak memerlukan sendok. Ibu mendulang anak menggunakan sendok meski kadang memilih dengan jari-jari saat jenis makanan tanpa kuah.
Cyntha Hariadi (2016) menulis puisi berjudul “Ibu Mendulang Anak Berlari”. Pembaca mengetahui keseruan ibu dan anak dalam adegan makan: Perempuan berkebaya, berkonde membuntuti/ anak lelakinya dengan mangkuk di tangan./ Kainnya melorot, kondenya kendur, tali sandal jepitnya/ hampir putus tapi suaranya sabar./ Sendok diacungkan bagai pentungan/ membuyarkan ayam-ayam./ Anak ketemu sedang mengarahkan pistol-pistolan ke arahnya./ Perempuan berkebaya gembira sekali, mendulang/ satu sendok makan./ Pagi, siang dan malam, ia pikir anaknya akan mati/ kalau tidak dikasih makan sekali./ Anak lelaki itu pikir, perempuan ini setengah mati. Kita ingin tertawa tapi kejadian itu lazim. Ibu “bersenjatakan” sendok berharap anak rajin makan demi sehat dan kuat. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


