Kata-kata dusta terpaksa kembali diucapkannya. Kepada Massa, anak gadisnya yang berusia enam tahun, Rawan Badr, 36 tahun, mengatakan mereka akan segera pulang.
Massa pun senang. Gadis kecil yang ceria itu seperti biasa menyibukkan diri lagi dengan bermain dan mengomentari segala hal dengan penuh semangat. Matanya berbinar-binar.
Pulang berarti dia akan mendapatkan kembali gaun merah yang dipakainya saat Idulfitri tahun lalu. Juga piyama yang dia sukai, yang selalu dipakainya ketika tidur.
Namun semua itu tidak akan terjadi. “Setiap hari, saya harus berbohong padanya. Kami tidak akan kembali,” ujar Badr kepada Al Jazeerah, beberapa waktu lalu.
Sudah hampir setahun, dia bersama suaminya Ahmed (38 tahun), dan tiga anak laki-lakinya dan tentu saja Massa – mengungsi dari Kota Gaza pada Oktober tahun lalu. Saat itu, bom-bom Israel pertama kali datang menggempur.
Seolah telah terbiasa dengan serangan seperti itu, Badr pun hanya mengambil beberapa barang ketika mereka pergi. Dalam benaknya, mereka akan segera bisa pulang. “Saya meninggalkan semuanya,” katanya. Mereka pun hanya membawa pakaian seadanya.
Namun yang terjadi mereka kemudian harus terus berpindah dari berbagai tempat pengungsian. Hingga akhirnya mereka berada di kamp pengungsian, Deir el-Balah, Gaza Tengah. Walhasil, pakaian mereka makin rusak. Pakaian itu, dicuci lalu dipakai, begitu seterusnya.
Di samping makanan dan air bersih, pakaian menjadi permasalahan bagi para pengungsi. Banyak dari mereka sudah kehabisan pakaian yang layak. Kalau pun ada, kondisinya seperti yang disebut Badr, sudah jelek. Compang camping dan koyak di sana-sini.
Tak ada yang bisa dilakukan kecuali memperbaikinya sendiri menggunakan jarum dan benang. Kalau pun saat ada kelebihan rejeki, hanya ada baju-baju bekas-- dengan kondisi yang tak lebih baik dengan yang mereka kenakan – yang bisa dibeli.
Tak ada pilihan lagi, mereka terpaksa membelinya. Tak semua pula pas di tubuh anak-anaknya. Mereka harus merogoh uang untuk membawanya ke tukang jahit untuk dipermak agar sesuai dengan ukuran badan anak-anaknya.
Memang itu jadi rejeki para penjahit. Salah satunya adalah Raed Barbakh, 27 tahun, yang mendirikan kios jahit. Saat mengungsi Barbakh sempat membawa mesin jahit.
“Saya bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam,” katanya. “Ada begitu banyak pelanggan, pakaian mereka selalu robek atau perlu diganti.”
Hari itu seperti yang disaksikan Al Jazeerah, dia sedang menjahit celana panjang kecil. Sepasang suami istri menunggunya untuk segera dibawa pulang. “Tidak ada pakaian baru yang bisa dibeli. Mereka datang membawa pakaian lama untuk diperbaiki atau diubah,” katanya.
Pelanggan yang datang pun bermacam-macam. Satu yang membuatnya gundah adalah seorang bapak yang membawa kemeja. Pria itu mengaku tak punya uang lagi untuk membeli pakaian.
“Lalu dia meminta saya untuk mengubah kemeja miliknya agar dijadikan dua kemeja untuk anak berusia tiga tahun,” katanya. “Baru ini terjadi selama sepuluh tahun jadi penjahit.”
Permintaan yang kurang lebih sama juga datang pada Saeed Hassan, 40 tahun. Dia adalah iskafi atau tukang sol sepatu. Hassan yang berasal dari Deir el-Balah bekerja di pasar. Namun saat sepi dia pun kembali ke kamp pengungsian.
Siang itu, di duduk di antara sepatu-sepatu yang harus diperbaikinya. Pekerjaan yang butuh perhatian lebih. Dia memeriksanya dengan hati-hati untuk melihat bagian mana yang bisa diperbaiki. Sebab sering terjadi orang datang dengan kondisi sepatu yang tidak dapat diperbaiki.
“Namun, mereka meminta saya untuk mencoba memperbaikinya dengan cara apa pun yang saya bisa,” katanya. Hassan pun akhirnya menambahkan potongan-potongan bahan untuk mencoba menutupi lubang. “Tapi itu sama sekali tidak mudah."
Pada hari yang lain, Hassan bercerita pernah kedatangan seseorang yang membawa beberapa potong busa. Permintaannya, busa itu dijadikan sepatu untuk anak-anaknya. "Saya tidak bisa melakukan itu," katanya sambil terkekeh.
Menurut Hassan, kejadian itu menunjukkan betapa tertekan orang-orang di sana untuk memenuhi kebutuhan yang sulit dipenuhi. “Saya belum pernah melihat keadaan seburuk sekarang. Orang-orang kelelahan karena betapa sulitnya mencari solusi bagi anak-anak.”
Pemandangan di pasar Deir el-Balah itu memang menyedihkan. Di sana, penuh dengan orang-orang yang berkeliaran. Sebagian dari mereka mencari makanan yang mereka mampu beli, yang lainnya hanya melihat-lihat karena tidak punya uang untuk membeli apa pun.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


