Jumadil Akhir, Bulan Kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Jumadil Akhir, Bulan Kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Arina.id - Jumadil Akhir adalah bulan keenam dalam kalender Hijriah yang memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah bulan kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Ibunya ialah Sayyidah Khadijah Al-Kubra, istri pertama Rasulullah SAW. sebagaimana kita ketahui bahwa putera dan puteri Nabi berjumlah 7 orang, 3 putera dan 4 puteri. Enam di antaranya lahir dari Sayyidah Khadijah Al-Kubra, dan satu putera, yakni Sayyid Ibrahim lahir dari Sayyidah Maria Al-Qibthiyyah.

Masa Kelahiran

Fatimah Az-Zahra adalah putri Rasulullah SAW keempat atau yang paling bontot. Sebagaimana disebutkan oleh para pakar sejarah, urutan puteri Rasulullah ialah pertama Zainab Al-Kubra, kedua Ruqayyah, ketiga Ummu Kultsum,dan keempat Fatimah. Ia diberi gelar Az-Zahra karena nampak seperti bunga mekar nan indah dengan sebaik-baik penciptaan.

Nama panggilan kekeluargaannya (kunyah) ialah Ummu Abiha (anak ayahnya, yakni Rasulullah SAW) dan Ummu Hasan (Ibundanya Hasan). Ia juga mendapatkan gelar yang lain yakni Al-Batul karena ibadahnya yang tak pernah terputus.

Ibnu Said dalam Thabaqat al-Kubra menyebutkan bahwa Sayyidah Fatimah Az-Zahra lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum bi’tsah (diangkatnya Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul). Berarti, saat itu, Nabi berumur 35 tahun. Sejarawan Islam Ibnu Ishak menyebutkan bahwa kelahiran beliau berbarengan dengan peristiwa renovasi Ka’bah yang memang terjadi sebelum bi’tsah.

Salah satu peristiwa penting yang mengiringi renovasi Ka’bah itu sendiri ialah ditunjuknya Muhammad SAW sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antar suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad pasca renovasi Ka’bah.

Ali bin Ibrahim al-Halbi dalam kitab As-Sirah al-Halbiyyah menyebutkan bahwa beliau dilahirkan di rumah ibundanya (Dar Khadijah) di Makkah al-Mukarramah. Tempat tersebut kemudian masyhur disebut oleh umat Islam sebagai Maulad Fathimah (tempat lahir Sayyidah Fatimah).

Pada masa pemerintahan Muawiyah, tempat tersebut kemudian dijadikan sebagai masjid. Beberapa orang menyebutkan bahwa masjid tersebut adalah tempat termulia kedua di Makkah sesudah Masjidil Haram. Beberapa orang tour guide travel umrah menyatakan kepada penulis bahwa saat ini, Masjid Maulad Fathimah sudah dibongkar dan masuk dalam area Masjidil Haram.

Fatimah Az-Zahra adalah sosok perempuan mulia yang dijuluki sebagai pemimpin wanita surga. Kehidupan beliau menjadi teladan bagi umat Islam, terutama dalam hal ketakwaan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada Allah serta keluarganya.

Sahabat Anas RA meriwayatkan sebuah hadits yang menyebutkan keistimewaan Sayyidah Fatimah Az-Zahra:

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ:‏‏‏‏ مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، ‏‏‏‏‏‏وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، ‏‏‏‏‏‏وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، ‏‏‏‏‏‏وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ .

Artinya: “Cukup bagimu dari perempuan seluruh alam (perempuan terbaik se-jagad raya) ialah: Maryam Putri Imran, Khadijah Putri Khuwailid, Fathimah Putri Muhammad, dan Asiyah Istri Fir'aun”. (HR. Tirmidzi, no. 3878)

Masa Pernikahan dan Perjuangan

Sayyidah Fatimah menikah dengan sepupu Nabi, yakni Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, Sang Khalifah keempat. pernikahan mereka terjadi pada tahun kedua Hijriah, beberapa saat sesudah perang Badar. Dari pernikahan tersebut lahir cucu-cucu Nabi yang mulia, yakni: Sayyid Hasan, Sayyid Husein, Sayyid Muhsin, Sayyidah Ummu Kultsum yang kemudian dinikahi oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, dan Sayyidah Zainab yang kemudian dinikahi oleh Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.

Selama menikah dengan Sayyidah Fatimah, Sahabat Ali tidak berpoligami. Terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa beliau hampir mengalami poligami. Sebuah hadits riwayat Al-Miswar bin Makhramah menyebutkan bahwa keluarga Hisyam bin al-Mughirah mengusulkan agar Sahabat Ali menikah dengan Juwairiyah Puteri Abu Jahal.

Nabi Muhammad dengan tegas tidak mengizinkan hal tersebut dengan mengulang tiga kali ucapan beliau secara jelas. Nabi berkata bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra merupakan anak kandungnya, yang berarti menyusahkan dan menyakiti perasaannya sama dengan menyusahkan dan menyakiti perasaan beliau.

Sayyidah Fatimah tercatat pernah mengikuti beberapa peperangan. Di antaranya ialah Perang uhud. Tugas yang beliau emban selama peperangan ialah sebagai petugas logistik bagi para prajurit. Beliau yang menyiapkan konsumsi untuk mereka, menyediakan pasokan air minum, bahkan merawat prajurit yang terluka.

Masa Wafatnya

6 bulan sesudah Nabi wafat, Sayyidah Fatimah kemudian menyusul wafat. Wafatnya beliau yang tak lama sesudah wafatnya Nabi ini, telah terprediksi dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA.:

أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ دعا فاطمةَ ابنتَه فسارَّها، فبكت، ثم سارَّها فضحكتْ، فقالت عائشةُ: فقلتُ لفاطمةَ: ما هذا الذي سارَّكِ به رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فبكيتُ، ثم سارَّك فضحكتْ؟ قالت: سارَّني فأخبرني بموتِه، فبكيتُ، ثم سارَّني فأخبَرَني أنّي أولُ من يتبعُه من أهلِه، فضحكتُ

Artinya: "Ketika Rasulullah SAW sakit, beliau memanggil putrinya, Fatimah lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lalu ia tertawa. Aku pun bertanya (pada Fatimah) akan hal itu; ia menjawab, "Aku menangis karena beliau memberitahuku bahwasanya beliau akan meninggal. Kemudian beliau memberitahuku bahwasanya aku adalah keluarganya yang pertama kali menyusul beliau, aku pun tertawa."

Semoga dengan mempelajari seri kehidupan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, kita akan bisa meneladani keluhuran budi pekerti beliau. Amin.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo