Benedict Anderson lahir jauh dari pusat dunia yang kelak akan ia guncang. Ia lahir di Kunming pada 26 Agustus 1936, di sebuah kota pegunungan di Tiongkok barat daya, pada saat sejarah global bergerak dengan kecepatan yang tidak ramah bagi siapa pun. Jepang sedang memperluas agresinya di Asia. Eropa bergerak menuju perang besar. Kolonialisme masih menancapkan kuku di banyak wilayah. Sejak hari pertama, hidup Anderson tidak ditandai oleh satu tanah asal yang stabil, melainkan oleh perpindahan yang berlapis.
Keluarganya meninggalkan Tiongkok tatkala ia masih kecil. Mereka berpindah ke Amerika Serikat, lalu ke Irlandia yang memilih netralitas dalam Perang Dunia Kedua. Keputusan ini menyelamatkan keluarga Anderson dari kamp interniran Jepang. Akan tetapi keselamatan itu datang dengan harga lain. Anderson tumbuh tanpa satu rumah yang bisa disebut permanen. Dunia pertamanya adalah dunia yang terpecah oleh bahasa, oleh ingatan yang berpindah, dan oleh cerita tentang tempat-tempat yang ditinggalkan sebelum sempat ia kenal.
Keluarga Anderson sendiri adalah simpul dari sejarah panjang Eropa dan Asia. Ayahnya berasal dari Irlandia, dari garis keluarga yang mengenal pemberontakan dan perlawanan terhadap kekuasaan Inggris. Ibunya datang dari tradisi kelas profesional Inggris yang percaya pada pendidikan, hukum, dan musik. Di antara keduanya hadir seorang pengasuh asal Vietnam. Dari pengasuh inilah Anderson kecil mendengar bahasa pertamanya. Kata perdana yang ia ucapkan bukan bahasa Inggris. Ia adalah kata dalam bahasa Vietnam. Dunia tidak datang kepadanya dalam satu suara tunggal. Sejak awal, dunia datang dalam banyak bunyi yang saling bertabrakan dan saling melengkapi.
Rumah masa kecil Anderson di Irlandia penuh dengan buku, kain dari Asia, foto-foto lama, dan kenangan tentang tempat-tempat nan jauh. Ia tumbuh tanpa televisi. Ia tumbuh bersama radio dan buku. Ia mendengarkan siaran BBC yang membacakan novel Eropa. Ia membaca sastra Jepang klasik dalam terjemahan. Imajinasi dunianya dibentuk oleh kata-kata yang melintasi benua. Dari sana, bahasa tidak pernah menjadi sesuatu yang netral baginya. Bahasa adalah pintu. Bahasa adalah rumah sementara. Bahasa adalah cara bertahan hidup.
Sekolah Elit dan Pelajaran perihal Kekuasaan
Masuk ke Eton melalui beasiswa mempertemukan Anderson dengan dunia yang sangat berbeda. Eton adalah sekolah elit Inggris. Ia adalah tempat di mana kelas sosial dipelajari bukan dari buku, melainkan dari cara bicara, cara berpakaian, dan cara memandang orang lain. Anderson bukan bagian dari elit alami itu. Ia hadir sebagai orang luar yang cermat mengamati.
Anderson belajar bahasa Latin dan Yunani di Eton. Ia membaca sastra Inggris klasik. Namun pelajaran terpenting datang bukan dari ruang kelas. Ia datang dari kesadaran bahwa kekuasaan bekerja secara halus. Kekuasaan hidup dalam aksen. Kekuasaan hidup dalam rasa percaya diri. Kekuasaan hidup dalam siapa yang merasa berhak bicara dan siapa yang belajar diam.
Kesadaran ini mengeras titimangsa 1956, ketika krisis Suez meletus. Di Cambridge, Anderson menyaksikan demonstrasi mahasiswa yang berubah menjadi kekerasan rasial. Mahasiswa berkulit putih menyerang demonstran dari India dan Sri Lanka sambil menyanyikan lagu kebangsaan Inggris. Anderson ikut membela mereka yang diserang. Ia dipukul. Kacamatanya pecah. Ia pulang dengan tubuh sakit dan kemarahan yang tidak mudah padam.
Dari peristiwa ini, Anderson memahami bahwa nasionalisme bukan sekadar gagasan politik. Ia adalah pengalaman tubuh. Ia menentukan siapa yang boleh memukul dan siapa yang boleh dipukul. Ia menentukan siapa yang dianggap bagian dari bangsa, dan siapa yang diperlakukan sebagai gangguan. Ingatan ini menetap lama dalam dirinya. Ia akan muncul kembali bertahun-tahun kemudian ketika ia menulis tentang nasionalisme dengan cara yang tidak romantis.
Cornell dan Bahasa yang Mengubah Hidup
Menurut memoarnya Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016), perjalanan Anderson ke Amerika Serikat pada akhir 1950-an awalnya tampak sebagai langkah sementara. Ia naik kapal Queen Mary dan melintasi Atlantik. Ia tiba di New York lalu melanjutkan perjalanan ke Ithaca. Cornell University tidak tampak sebagai pusat dunia. Namun di sinilah hidupnya berbelok tajam.
Anderson bertemu George Kahin di Cornell. Kahin adalah seorang sejarawan Indonesia yang memperkenalkannya pada Asia Tenggara. Indonesia tidak hadir sebagai objek eksotis. Ia hadir sebagai sejarah yang penuh luka, penuh bahasa, dan penuh konflik makna. Anderson mulai belajar bahasa Indonesia dengan keseriusan yang melampaui tuntutan akademik. Ia membaca koran. Ia membaca sastra. Ia mendengarkan bagaimana bahasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia membuka dunia baru baginya. Melalui bahasa, Anderson melihat bagaimana kekuasaan dibangun. Ia melihat bagaimana kata-kata digunakan untuk membentuk rakyat. Ia meneroka bagaimana bahasa menjadi alat revolusi dan alat represi. Dari kerja arsip dan bahasa inilah lahir disertasi perihal Jawa pada masa revolusi. Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (Marjin Kiri, 2018) bukan sekadar karya sejarah. Ia adalah upaya memahami bagaimana pengalaman kolonial, pendudukan Jepang, dan revolusi membentuk cara orang membayangkan diri mereka sebagai bangsa. Indonesia bukan lagi sekadar lokasi penelitian. Ia menjadi rumah intelektual. Ia menjadi bahasa yang dicintai. Akan tetapi rumah ini kelak akan menutup pintunya.
Larangan dan Jarak yang Produktif
Peristiwa politik 1965 mengubah hidup Anderson secara drastis. Analisisnya terhadap tragedi tersebut, yang disusun bersama rekan-rekannya di Cornell, bertentangan dengan narasi resmi rezim Orde Baru. Akibatnya, Anderson dilarang masuk Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Larangan ini adalah pukulan emosional. Indonesia adalah negeri yang ia cintai. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang ia rawat. Namun larangan juga menciptakan jarak. Dari jarak inilah Anderson melihat Indonesia dan dunia dengan cara yang berbeda.
Ia berpindah ke Filipina. Ia belajar Tagalog. Ia menulis tentang José Rizal dan jaringan antikolonial global. Ia berpindah ke Thailand. Ia mempelajari bahasa dan kebudayaan setempat. Setiap perpindahan membuka arsip baru dan pertanyaan anyar. Larangan tidak menghentikannya. Larangan memaksanya melompat ke dunia liyan.
Bangsa sebagai Imajinasi Sehari-hari
Dari pengalaman hidup di luar Indonesia lahirlah Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (Verso, 1983). Buku ini tidak ditulis sebagai manifesto. Ia ditulis sebagai refleksi yang tenang dan tajam. Anderson berargumen bahwa bangsa bukan entitas alami. Ia adalah komunitas yang dibayangkan melalui praktik sehari-hari.
Surat kabar, novel, peta, dan museum memainkan peran penting. Mereka memungkinkan orang-orang yang tidak saling mengenal untuk membayangkan diri mereka sebagai bagian dari satu komunitas yang sama. Nasionalisme, dalam pandangan Anderson, bukan kebohongan. Ia adalah imajinasi sosial yang memiliki daya nyata.
Namun Anderson juga memahami bahayanya. Imajinasi bisa mengeras. Nasionalisme yang lupa pada keterhubungannya dengan dunia lain mudah berubah menjadi tempurung baru. Oleh karena itu, ia selalu menekankan bahwa nasionalisme yang matang harus berjalan bersama kesadaran internasional.
Ilmuwan yang Menolak Bungkam
Di dunia akademik, Anderson masyhur sebagai sosok yang sulit dikurung. Ia membaca sastra untuk menulis politik. Ia menonton film untuk memahami sejarah. Ia persona poliglot sebagai jalan masuk ke pengalaman manusia. Ia mengkritik universitas yang semakin birokratis dan kehilangan keberanian intelektual. Setelah pensiun, ia justru merasa lebih bebas. Ia menulis tanpa harus memikirkan label disiplin. Bagi Anderson, pengetahuan hanya hidup jika ia bergerak.
Benedict Anderson wafat tanggal 13 Desember 2015 di Batu, Jawa Timur. Negeri yang pernah menolaknya justru menjadi tempat perpisahan terakhir. Hidupnya menutup lingkaran dengan cara nan sunyi.
Ia meninggalkan warisan yang tidak rapi. Ia meninggalkan pertanyaan tentang nasionalisme, bahasa, dan kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan intelektual tidak pernah nyaman. Ia harus terus berpindah. Ia harus terus melompat keluar dari tempurung.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


